Jumat , 19 Oktober 2018
Beranda » Kawruh Bangunjiwa » BILA ANUSAPATI MERUWAT KENDEDES: Politik Kekerasan Harus Dihindari

BILA ANUSAPATI MERUWAT KENDEDES: Politik Kekerasan Harus Dihindari

SEJARAH mengingatkan agar tidak menggunakan politik kekerasan. Keris Empu Gandringpun menyampaikan pesan bahwa sekali kekerasan digulirkan, akan menggelindingkan kekerasan berikutnya bersamaan dengan roda sejarah kekerasan yang berikutnya. Ken Arok membunuh Tunggul Ametung. Anak Tunggul Ametung, Anusapati, membalas membunuh Ken Arok. Giliran anak Arok, Tohjaya, membunuh Anusapati. Tohjaya akhirnya mati oleh Ranggawuni.

Sebelum meninggal, Anusapati berpesan kepada keluarganya agar kelak di candi yang didirikan untuknya supaya dibuatkan relief Garudeya. Dia sengaja berpesan demikian karena bertujuan meruwat ibunya, Kendedes, yang sangat dicintainya, yang selalu menderita dan selama hidupnya belum sepenuhnya menjadi wanita utama.

Dalam prasasti Mula Malurung, dikisahkan bahwa Kendedes adalah putri Mpu Purwa yang cantik jelita tiada tara. Kecantikan Kendedes begitu tersohor hingga akuwu Tunggul Ametung, yang sudah tua, terpaksa menggunakan kekerasan untuk dapat menjadikan dia sebagai istrinya. Setelah menjadi istri Tunggul Ametung, ternyata Kendedes juga menjadi penyebab kematian suaminya yang sekaligus ayah Anusapati. Hal ini terjadi karena Ken Arok, yang secara tak sengaja di taman Boboji kerajaan Tumapel melihat betis Kendedes dan mengeluarkan sinar kemilau, memaksa untuk dapat mempersunting wanita <I>ardanareswari<P> tersebut agar dapat menjadi menjadi raja di Jawa berikut keturunannya. Maka Ken Arok-pun membunuh Tunggul Ametung serta memaksa kawin Kendedes untuk memenuhi ambisinya.

Sementara itu setelah mengawini Kendedes, Ken Arok masih juga mengawini Ken Umang dan menurut tutur tinular Ken Arok lebih menyenangi istri keduanya dari pada Kendedes. Akibatnya hak Kendedes sebagai permaisuri tidak sempurna.

Berlandaskan uraian tadi, maka pemberian relief Garudewa pada candi Kidal oleh Anusapati untuk meruwat ibunya Kendedes yang cantik jelita namun nestapa hidupnya. Anusapati sangat berbakti dan mencintai ibunya. Dia ingin ibunya lepas dari penderitaan dan nestapa salama hidupnya, menjadi suci kembali dan wanita sempurna.

Simak juga:  MENYONGSONG DISKUSI KEBANGSAAN 17 PWS: Seandainya Pancasila sebagai Etika Berpolitik

Bathara Anusapati menjadi raja. Selama pemerintahannya tanah Jawa kokoh sentosa. Tahun saka Perhiasan Gunung Sambu (1170 C) Anusapati berpulang ke Siwaloka. Cahaya Anusapati diujudkan arca Siwa gemilang di candi Kidal.

Demikianlah penggalan kitab Negarakretagama berkaitan dengan raja Singosari ke-2, Anusapati, beserta tempat pendharmaannya di candi Kidal yang terletak di desa Rejokidal, sekitar 20 km sebelah timur kota Malang – Jawa Timur, candi Kidal dibangun pada 1248 M, bertepatan dengan berakhirnya upacara pemakaman Cradha untuk raja Anusapati.

Setelah selesai pemugaran tahun 90-an, candi ini sekarang berdiri dengan tegak dan kokoh serta tampak keindahannya. Jalan darat ke candi Kidal sudah nyaman setelah beberapa tahun rusak berat. Di sekitar candi banyak terdapat pohon-pohon besar dan rindang, taman candi juga tertata dengan baik, ditambah lingkungan yang bernuansa desa menambah suasana asri dan mistis bila kita berkunjung ke candi Kidal

Tersimpan Di Leiden

Kisah Garuda itu mengandung pesan moral dalam legenda. Dalam filosofi Jawa, candi juga berfungsi sebagai tempat ruwatan raja yang telah meninggal supaya kembali suci dan dapat menitis kembali menjadi dewa. Ide ini berkaitan erat dengan konsep “Dewa-Raja” yang berkembang kuat di Jawa saat itu.

Berkaitan dengan prinsip tersebut, dan sesuai dengan kitab Negarakretagama, maka candi Kidal merupakan tempat di-ruwat-nya raja Anusapati “anaknya Kendedes bersama Tunggul Ametung- dan dimuliakan sebagai Siwa. Namun sayangnya, sebuah patung Siwa yang indah dan diduga kuat berasal dari candi Kidal sampai sekarang masih tersimpan di museum Leiden-Belanda.

Candi Kidal adalah satu-satunya candi di Jawa yang memiliki narasi cerita Garuda terlengkap. Cerita ini dipahatkan pada kaki candi dan cara membacanya dengan prasawiya (berjalan berlawanan arah jarum jam) dimulai dari sisi sebelah selatan. Relief pertama menggambarkan Garuda menggendong 3 ekor ular besar, relief kedua melukiskan Garuda dengan kendi diatas kepalanya, dan relief ketiga Garuda meyangga seorang wanita diatasnya. Diantara ketiga relief tersebut, relief kedua adalah yang paling indah dan masih utuh.

Simak juga:  Pilgub, Pilpres, Pilnab, Piltu

Dalam kesusastraan Jawa kuno, terdapat cerita populer dikalangan rakyat yaitu Garudeya, yakni kisah perjalanan Garuda dalam membebaskan ibunya dari perbudakan dengan penebusan air suci amerta.

Dikisahkan bahwa Kadru dan Winata adalah 2 bersaudara istri resi Kasiapa. Kadru mempunyai anak angkat 3 ekor ular dan Winata memiliki anak angkat Garuda. Kadru yang pemalas merasa bosan dan lelah harus mengurusi 3 anak angkatnya yang nakal-nakal karena sering menghilang diantara semak-semak. Timbullah niat jahat Kadru untuk menyerahkan tugas ini kepada Winata. Diajaklah Winata bertaruh pada ekor kuda putih Uraiswara yang sering melewati rumah mereka dan yang kalah harus menurut segala perintah pemenang. Dengan tipu daya, akhirnya Kadru berhasil menjadi pemenang. Sejak saat itu Winata diperintahkan melayani segala keperluan Kadru dan mengasuh ketiga ular setiap hari. Winata selanjutnya meminta pertolongan Garuda anaknya untuk membantu. (relief pertama).

Ketika Garuda tumbuh besar, dia bertanya kepada ibunya mengapa dia harus menjaga 3 saudara angkatnya. Setelah diceritakan tentang pertaruhan kuda Uraiswara, maka Garuda mengerti. Ditanyakanlah kepada 3 ekor ular tersebut bagaimana caranya supaya ibunya dapat terbebas dari perbudakan ini. Dijawab oleh ular “bawakanlah aku air suci amerta yang disimpan di kahyangan serta dijaga para dewa, dan berasal dari lautan susu”. Garuda menyanggupi dan segera mohon ijin ibunya untuk berangkat ke kahyangan.

Tentu saja para dewa tidak menyetujui keinginan Garuda sehingga terjadilah perkelahian. Namun para dewa dapat dikalahkan. Melihat ini Bathara Wisnu turun tangan dan Garuda dapat dikalahkan. Setelah mendengar cerita Garuda tentang keinginannya mendapatkan amerta, maka Wisnu memperbolehkan dengan syarat Garuda harus mau menjadi kendaraan tungganggannya. Garuda menyetujuinya. Maka Garuda turun kembali ke bumi dengan amerta. (relief kedua). Sejak saat itu pula Garuda menjadi tunggangan Bathara Wisnu.

Simak juga:  MENYONGSONG DISKUSI KEBANGSAAN 17 PWS: Seandainya Pancasila sebagai Etika Berpolitik

Dengan bekal air suci amerta inilah akhirnya Garuda dapat membebaskan ibunya dari perbudakan atas Kadru. Hal ini digambarkan pada relief ketiga dimana Garuda dengan gagah perkasa menggendong ibunya dan bebas dari perbudakan.

Ruwatan

Berbeda dengan candi-candi Jawa Tengah, candi Jawa Timuran selain sebagai monumen untuk mengabadikan raja yang telah meninggal diduga kuat juga berfungsi sebagai tempat pendharmaan (kuburan) raja. Seperti dijelaskan dalam kitab Negarakretagama bahwa raja Wisnuwardhana didharmakan di candi Jago, Kertanegara di candi Jawi dan Singosari, Hayam Wuruk di candi Ngetos, dsb.

Dalam filosofi Jawa, candi juga berfungsi sebagai tempat ruwatan raja yang telah meninggal supaya kembali suci dan dapat menitis kembali menjadi dewa. Ide ini berkaitan erat dengan konsep “Dewa-Raja” yang berkembang kuat di Jawa saat itu. Dan untuk menguatkan prinsip ruwatan tersebut dipahatkan relief-relief cerita moral dan legenda pada kaki candi, seperti pada candi Jago. (Ki Juru Bangunjiwa)

Lihat Juga

Amustikarana

MUNGKIN kita tak begitu menghiraukan ketika rumah-rumah di jaman dahulu di pagar nya terdapat hiasan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.