Senin , 10 Desember 2018
Beranda » Pendidikan » Diskusi Kebangsaan X: Bermunculan Pahlawan Milenial
Suasana Diskusi Kebangsaan X "Kebangsaan dalam Kepahlawanan Milenial" Ruang Serbaguna lantai 1 Monumen Yogya Kembali 27/11/17 (ft. Ist)

Diskusi Kebangsaan X: Bermunculan Pahlawan Milenial

Hari Pahlawan 10 November 2017 telah diperingati di kota perjuangan Surabaya Jawa Timur dengan berbagai ragam kegiatan melibatkan berbagai unsur dalam masyarakat. Hari Pahlawan di Surabaya memang milik rakyat. Maka tidak mengherankan suasana peringatan sangat terasa dan menyentuh rasa kenangan beberapa tahun silam itu. Dengan senjata sekedar bambu runcing pada pihak pejuang harus berhadapan dengan tentara penjajah dengan persenjataan modern. Tapi massa rakyat sama sekali tidak takut. Bung Tomo berpidato memotivasi dan membakar semangat para pejuang dengan kata “Allahu Akhbar”. Merdeka atau mati!

Tulisan pengantar di atas diharapkan sebagai illustrasi bagaimana dan seperti apa yang disebut sebagai pahlawan. Pahlawan identik dengan rela berkorban demi tanah air. Gugur di medan perang. Barangkali pengertian pahlawan seperti itu ketika bangsa ini berjuang merebut kemerdekaannya. Ketika kemerdekaan sudah diproklamirkan, bangsa ini masih terus berjuang untuk mengisi kemerdekaan. Mengejar ketertinggalan akibat ratusan tahun dijajah. Kemiskinan, kesehatan yang buruk, buta huruf dan sebagainya merupakan tantangan dalam alam kemerdekaan. Maka pada fase ini diharapkan hadirnya para pahlawan pembangunan. Para pengusaha yang dengan investasinya mau membangun tanah airnya. Tidak malah sebaliknya dengan strategi bisnis mereka memperdaya bangsa ini untuk menumpuk kekayaan pribadi dan kelompoknya. Bila hal ini sungguh terjadi, bisa dikategorikan sebagai pengkhianat bangsa.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan X: Kebangsaan Membutuhkan Kecerdasan dan Kematangan Etis

 

Generasi masa depan

Saat ini sudah hadir di tengah-tengah kita generasi Y dan Z. Anak-anak muda yang tidak memiliki ataupun merasakan bagaimana perjuangan generasi tua dulu dalam memperebutkan kemerdekaan. Sulit bagi generasi Y dan Z ini mampu menghayati suasana batin para the founding fathers. Terlebih lagi ada kecenderungan anak-anak muda sekarang kurang tertarik membaca sejarah perjuangan bangsanya. Ini sungguh memprihatinkan.

Maka perlu digarisbawahi ajakan Prof. Sudjarwadi Ph.D., ketika menjadi nara sumber Diskusi Kebangsaan yang diselenggarakan Paguyuban Wartawan Sepuh Yogyakarta di Museum Jogja Kembali belum lama ini supaya generasi milenial perlu belajar dari sejarah. Dikatakannya, nilai-nilai sejarah bukanlah doktrin. Sehingga perlu ditanamkan agar rasa nasionalisme di antara mereka terbangun.

Turut tampil sebagai nara sumber dalam diskusi tersebut adalah Drs. H.M. Idham Samawi anggota MPR/DPR RI dan Dr. Arie Sujito, sosiolog dari UGM.

Tantangan yag paling berat dihadapi generasi milenial ini adalah adanya perkembangan teknologi informasi yang tidak mengenal kompromi. Dengan menguasai IT seolah-olah dunia ada di tangan. Bagaimana kebenaran dan akurasi informasi yang beredar sayangnya sangat kurang mendapat perhatian. Maka tidak tertutup kemungkinan terjadinya kesalahpahaman ataupun pemutarbalikan fakta yang dapat mengancam persatuan dan keutuhan bangsa ini. Beredar berita-berita hoax yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Seolah-olah berita itu benar adanya. Padahal bohong sama sekali. Ini tantangan kita.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan X: Dialog

Belum lagi kaitannya dengan soal etika atau sopan-santun dalam pergaulan sehari-hari. Pola hubungan individualis yang menonjol, mengakibatkan kedekatan dan kehangatan pertemanan menjadi semakin kendur.

Forum diskusi kebangsaan PWSY di Monjali mencoba mengurai permalahan ini. Semoga.*** (Oka Kusumayudha)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan X: Monjali Ikut Menggodog Generasi Masa Depan

Generasi milenial adalah generasi yang lahir di era internet, era digital. Generasi yang akrab dengan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *