Jumat , 19 Oktober 2018
Beranda » Kawruh Bangunjiwa » Berharap di Bulan Jawa Sura Dal
Topo Bisu Mubeng Beteng Malam 1 Suro (ft.net)

Berharap di Bulan Jawa Sura Dal

Bulan Sura sudah datang Ada pertanda apa dalam Sura tahun Dal 1951 kali ini. Tahun Dal 1951 ini didalam Jawa sinengkalan Pandhita Janma Sampurnaning Nayana. Ada pertanda hidup, harapan hidup bahwa hari esok akan lebih baik dari hari sekarang. Melihat sengkalan yang muncul ada pertanda kalau para ulama dan manusia yang baik berupaya untuk menyempurnakan kehidupannya dengan hidup baik.   Artinya segala tindak dan sikap diupayakan untuk membahagiakan sesama hidup. Hidup bermasyarakat menjadi indah dan bermartabat. Orang saling hormat menghormati. Hal ini menjadikan bumi Indonesia semakin terkenal dengan sikap dan martabatnya sebagai manusia yang beradab.

Semua itu bisa terjadi karena adanya ilmu jiwa yang dan ilmu hidup yang membuat manusia semakin hidup dengan arah cahaya hidup ilahi yang membuat manusia semakin bersinar hidupnya, tidak saja dalam ukuran duniawi tetapi terlebih dalam ukuran ilahi.

Setidaknya kategori berikut dapat membantu untuk menakar diri kita masing-masing. Apakah menjadi pribadi yang layak dan pantas sebagai orang yang akan menadapatkan anugrah agung di tahun 1951 Dal  yang akan datang. Paling tidak terdapat beberapa syarat berikut ini :

  1. Dudu wong kang dahwen lan openan. Bukan seseorang yang suka menyerobot hak orang lain, atau mengintervensi yang bukan urusan dan tanggugjawabnya.
  2. Dudu kalebu dur angkara. Bukan orang yang selalu mengumbar amarah, dendam, benci, dan hawa nafsunya. Bukan orang yang suka merusak privasi, properti dan hak orang lain. bukan orang yang suka mencelakai dan merugikan orang lain.
  3. Tapa ngrame. Orang yang terbiasa dengan tulus berbuat kebaikan, menolong dan membantu orang lain, serta hidupnya berguna untuk banyak orang.
  4. Bekti marang kang linuhur. Berbakti kepada kedua orang tua yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, serta berbakti kepada para leluhurnya yang menurunkannya maupun yang menjadi sesepuh suatu wilayah tempat tingggal kita.
  5. Tansah kinarya karyenak tyas ing sesami. Orang yang selalu membuat bahagia dan nyaman suasana hatinya pada sesama. Ucapan dan kata-katanya menentramkan dan mendinginkan suasana. Saran dan nasehatnya berguna untuk sesama, pikirannya konstruktif dan postitif. Hatinya bersih dari rasa iri, dengki, dendam. Tidak suka menghina dan meremehkan orang lain sekalipun pada orang hina.
  6. Uripe wus murup. Hidupnya berguna untuk seluruh makhluk.
    Setiap orang tentu berbeda-beda kuantitas dan kualitasnya dalam meraih berkah “pinunjul”. Besar kecilnya berkah “pinunjul” yang akan diraih tergantung pula pada besar-kecilnya kadar masing-masing orang dalam memenuhi syarat-syarat seperti di atas.
Simak juga:  Satu Suro, Cara Sultan Agung Padukan Islam ke Religi Jawa

Keistimewaan Sura Pinunjul

Para pembaca yang budiman, tanpa adanya Sura Moncer Tiba Pati pun, semua kebaikan besar dan kecil pasti ada konsekuensi logis yang maha adil berupa dharma (pahala) secara proporsional. Akan tetapi dengan adanya Sura Moncer tiba pati, dapat dianalogikan sebagai “kawah candradimuka”. Atau fase berat untuk dilalui. Tetapi sepadan dengan dharma yang diterima di kemudian hari. Maka layak bulan Sura Pinunjul mempunyai keistimewaan yang lebih dibandingkan dengan Sura Moncer.

Jika Sura Moncer merupakan permulaan (starting point) dibukanya gerbang kesejahteraan dan kejayaan untuk Nusantara dengan seleksi yang sangat ketat (mukti opo mati), maka Sura Pinunjul merupakan kompensasi berupa dharma atas segala kebaikan yang kita lakukan selama fase Sura Moncer. Demikian pula sebaliknya, karena mekanisme tata hukum keseimbangan alam bekerja seperti neraca keadilan. Siapa yang menanam “pohon” kebaikan akan berbuah kebaikan, yang menanam “pohon” keburukan akan menuai keburukan pula. Sura moncer tiba pati sangat berat dilalui, tetapi sebagai konsekuensinya, anugrah bagi yang lolos seleksi juga bersifat pinunjul, sepadan dengan prihatin dan perjuangan yang dilakukan sebelumnya. Dilihat dari perspektif tata hukum keseimbangan alam, faktanya dapat kita lihat setelah fase Sura Moncer tiba pati, kemudian disusul oleh fase Sura Pinunjul tiba gedhong. Peristiwa itu mirip hukum pantulan, setelah meluncur deras ke bawah sampai menyentuh dasar, kemudian melesat ke atas, dengan besaran energi yang seimbang, mirip cara kerja ayunan pendulum.

Jangan tergesa membayangkan, pada fase sura pinunjul nanti, keadaan ekonomi dan politik Nasional akan menjadi serba enak dan baik sesuai harapan rakyat. Tetap, sabar, tenang, eling dan waspada serta bukalah pikiran dan hati yang seluas samudra.    Karena mau tidak mau seluruh rakyat Indonesia  akan melewati fase ketidakpastian pada saat Tejomantri & Saraita menjadi ratu, walau mungkin akan berlangsung dalam waktu yang tidak lama. Tetapi bagi yang lolos seleksi seburuk apapun keadaannya hanya sedikit berpengaruh pada kehidupannya. Sebaliknya bagi yang tidak lolos, tentu akan mengalami kondisi yang berat. Celakanya orang yang tidak lolos seleksi tentu ada juga orang-orang yang sedang menjadi pemimpin atau pejabat. Sehingga secara langsung maupun tidak langsung rakyat ikut merasakan implikasinya.

Simak juga:  Satu Suro, Cara Sultan Agung Padukan Islam ke Religi Jawa

Orang-orang yang lolos seleksi alam akan punya kisah yang berbeda, mereka akan semakin tebal ilmu-kabegjan-nya (ilmu keberuntungan). Kabegjan itulah yang akan meminimalisir implikasi negative. Sak beja-bejane wong yoiku kang eling lan waspada. Amarga sak tiba-tibane tansah nemu begja.

Pembaca yang budiman, semoga tulisan di atas dapat menambah khasanah ilmu, dan dapat menjadi bahan pemikiran. Dengan harapan kita selalu dapat mengambil pelajaran dari setiap kejadian dalam kehidupan ini agar menjadi manusia yang wicaksana, adil paramarta, bèr budi båwå lêksana. Orang dengan sifat seperti itulah yang mudah meraih kehidupan yang sukses, tenteram, bahagia, sejahtera, beruntung dan selamat. Suradira jayaningrat, lebur dening pangastuti. Jaya-jaya wijayanti. (Ki Juru Bangunjiwa)

Lihat Juga

Malam 7 Tahun Sastra Bulan Purnama Puisi Tidak Berhenti Dibacakan

Puisi seringkali dibacakan dibanyak tempat, untuk mengisi acara tertentu, atau malah untuk lomba baca puisi. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.