Jumat , 19 Oktober 2018
Beranda » Seni & Budaya » Belajar Menjadi Togog

Belajar Menjadi Togog

Dalam pagelaran wayang, melalui peran punokawan sebagai penasehat dan pamong pembisik makna sejati kehidupan dan kebajikan pada manusia, dapat diciptakan suasana dialogis yang humoris, penuh canda dan juga menghibur. Dialog punokawan dengan para kesatrianya juga bisa digunakan sebagai ventilasi untuk mengurangi kepengapan ruang publik dan atau gap komunikasi antara penguasa dengan rakyat.

Pada dunia pewayangan, dikenal 2 kelompok kesatria yang saling behadapan, yaitu Pendawa yang bercirikan tabiat manusia baik dengan punokawan Semar, Gareng, Petruk dan Bagong. Dan Kurawa yang bercirikan tabiat manusia buruk dengan punokawan Togog dan Bilung. Bila Semar perannya banyak disampaikan dengan wejangan tentang kebajikan, sementara Togog tugasnya lebih berat, karena wejangan tentang kebajikan sulit untuk diterima para kesatria asuhannya, apalagi untuk dilaksanakannya. Sampai-sampai Togog mulutnya bertambah “ndower”, namun akhirnya Togog menemukan cara dengan “Njlontroke” (Jawa; Sekalian Mendorong Ambisi dan Keserakahan) para kesatrianya.

Dari penggalan pagelaran, dikisahkan ada kesatria Kurawa yang 1 tangannya putus dalam peperangan. Togog bukan memberi solusi apalagi menghiburnya, tapi justru mengusik harga diri sang kesatria, karena masih ada 1 tangan lagi, semestinya sebagai kesatria pantang menyerah. Bius harga diri, membuat sang kesatria tersebut serta merta kembali maju perang lagi. Dan begitu seterusnya, sampai akhirnya kesatria tersebut kehilangan kedua tangan dan kakinya.

Diujung pentas, sang kesatria tersebut terus saja “ndremimil” tentang kebanggaan, harga diri dan kejayaan masa lalu. Dan seperti pada umumnya orang ndremimil, ia pun tidak mengerti apa yang diucapkannya, bahkan ia tidak sadar bahwa perang Barata Yudha sudah lama usai.

 

Humor Politik.

Umumnya budayawan berpendapat, bahwa kekuasaan tanpa dukungan rakyat adalah berbahaya, tapi yang lebih berbahaya lagi ketika kekuasaan tanpa humor yang didalamnya mengandung suasana dialogis.  Seperti yang dulu dilakukan Gusdur, walaupun beda dalam cara menampilkannya, Presiden Jokowi juga menggelar humor politik. Bila Gusdur menampilkan humor politik dengan lisan, Presiden Jokowi dengan perbuatan yang “aneh” dan “tidak biasa”.

Simak juga:  Arjuna, Tokoh Pembebas Zaman Edan

Fakta membuktikan, humor politik yang disampaikan lisan model Gusdur, ternyata bagai membangunkan sekelompok macan tidur. Mereka yang dimasa lalu bermasalah kemudian bergabung dengan kelompok yang haus kekuasaan, serentak bergerak bersama “mengepung” Gusdur, dan jatuhlah Gusdur dari kekuasaannya.

Sebaliknya, dengan humor politik model Presiden Jokowi, lawan politik dan juga mereka yang dimasa lalu bermasalah kehilangan momentum karena mati langkah.

Bahkan sebaliknya, mereka malah menganggap penampilan tersebut sebagai perbuatan konyol. Sambil minum “wine” dan menghisap cerutu mereka terbahak-bahak mentertawakannya. Padahal dibalik sikap yang dianggap konyol itulah, tergelar ruang dialog bagi sesama komponen anak bangsa.

Sejumlah humor politik yang mengundang kontroversi misalnya “body language” terkait pernyataan bahwa dirinya adalah Petugas Partai malah menuangkan minuman, kasus tanda tangan tanpa membaca ketimbang bilang “ada tekanan”, quiz berhadiah sepeda dan joged bersama Ibu Negara membaur dengan peserta Pelatihan Guru PAUD se Jakarta, dan lain-lainnya. Presiden Jokowi juga menampilkan humor politik yang mengkait keillahian dengan mengangkat sejumlah orang bermasalah sebagai pembantu dekatnya. Ada yang bertaubat, namun ada juga yang mensia-siakannya, dan malah mencatut namanya untuk prakek mafia.

Sedang humor Politik dengan durasi waktu terpanjang adalah penyikapan atas tuduhan bahwa dirinya anak Tokoh PKI. Selama lebih dari 2 tahun Presiden Jokowi memilih diam, setelah begitu gencar dan masive diberitakan dan apalagi setelah ada instansi tertentu ikut meramaikannya, baru kemudian mengeluarkan perintah “PKI nongol, GEBUK”. Ini adalah humor politik tingkat tinggi, dan sangat lucu. Bagaimana tidak, kalau diantara tokoh bangsa dan bahkan petinggi negeri ini masih ada juga yang belum sadar bahwa jaman telah berubah. Karena hati mereka tertutup (Kufur), maka sulit untuk memahami bahwa sejumlah nilai-nilai lama yang terkait dengan politik mutlak harus kita tinggalkan, tak terkecuali tentang perlakuan negara terhadap anak-anak ex mantan anggota partai terlarang, termasuk PKI. Karena mereka mempunyai hak yang sama seperti anak bangsa lainnya.

Simak juga:  Ratu

Mereka ribut tentang bahaya komunisme, tanpa sadar dirinya pegang handphone dan menikmati Go-Jek, Go-Food, Go-Massage, dll. Mereka gagal paham bahwa telematika telah meng “komunis” kan kehidupan sejumlah komunitas disemua negara, tak terkecuali di Indonesia, sebagai sebuah keniscayaan. Mereka tidak paham bahwa norma dasar komunisme dalam mengatur ekonomi telah menjadi bagian dari kehidupan manusia di jaman ini, termasuk bangsa kita. Melalui aplikasi telematika, sejumlah alat produksi kini telah dikuasai langsung oleh rakyat secara terorganisir. Gojek, Uber, Air-BNB, dll adalah contoh konkrit bentuk tata ekonomi model komunisme dalam wujudnya yang baru. Letak perbedaan hanya pada simbul dan bentuk alat produksinya, bila dulu simbulnya Palu Arit, kini alat produksinya adalah Hand Phone dengan sistem Aplikasi Online.

Dan menjadi lebih lucu lagi, karena mereka rupanya belum tahu bahwa peradaban dunia telah lama masuk dalam era “The End Of Ideology”. Mereka seolah tidak tahu bahwa perang dingin telah lama usai, dan komunisme telah lama bangkrut. Norma dasar komunisme “sama rata dan sama rasa” dimana perhargaan terhadap pekerja keras disamakan dengan pemalas, mustahil di era kekinian akan laku. Sementara komunisme dalam artian tata kelola kekuasaan negara, seperti yang diterapkan dibanyak negara komunis khususnya di Eropah Timur, juga terbukti gagal. Sedang soal PKI sebagai lembaga, Tap MPR yang melarangnya masih SAH secara yuridis formal.

Dalam kaitan itulah, Presiden Jokowi dengan cerdas memainkan peran suci punokawan tak peduli menjadi Togog sekalipun. Karena tanpa TOGOG perang Barata Yudha akan terus berlarut tanpa batas waktu yang membuat antara Pendawa dan Kurawa kembali bercampur menjadi satu kotak, akibat pagelaran wayang harus disudahi sebelum fajar menyingsing.

Simak juga:  Wayang Indonesia (Bedhol Negoro, 5)

 

Kebenaran Mampu Membuktikan Dirinya Sendiri.

Melalui humor politik yang ditampilkan Presiden Jokowi, kini rakyat sudah mempunyai daftar inventaris semua tokoh negeri ini. Mana yang pahlawan dan mana yang pengkhianat, mana yang munafik dan mana amanah, mana yang bersih dan mana yang kotor, mana yang pejuang dan mana yang oportunis, dan nilai-nilai kontradiktif dalam kehidupan lainnya, sesuai dengan posisi masing-masing. Ibarat ikan, antara yang segar dan yang busuk sudah dalam keranjang masing-masing.

Diakui atau tidak, kini publik sudah punya kedewasaan dalam menilai issue yang berkembang, tak terkecuali issue yang dilempar oleh pejabat tinggi negara sekalipun. Begitu pula terhadap kegaduhan politik yang ditimbulkan oleh mereka yang terus “ndremimil” tentang masa lampau, persis seperti penampilan kesatria Kurawa “momongan” Togog dalam akhir pagelaran tersebut diatas, rakyat malah menggerutu karena geli atau setidaknya bosan atas issue yang tidak kreatif dan tidak lagi relevan.

Dan ketika malam menjelang pagi, sementara perang Barata Yudha yang dikisahkan sudah berlangsung lebih dari 19 tahun lamanya, sementara pagelaran wayang harus ditutup dengan kemenangan Pandawa, maka peran Togog menjadi sangat mendasar, agar para kesatria Kurawa yang sembunyi dan menyusup dibanyak tempat segera taubat atau tampil maju kemedan perang.  Karena hanya dengan cara itulah maka sebelum adzan Subuh dikumandangkan, perang Barata Yudha dapat disudahi dengan tampilnya Pandawa sebagai pemenang. Niscaya, penonton mempunyai kenangan indah, sekaligus sebagai warisan yang tak akan pernah dilupakan anak cucu, karena Presiden Jokowi berhasil mewujudkan wejangan orang bijak bahwa kebenaran niscaya mampu membuktikan dirinya. (Saurip Kadi)

Penulis, Mayor Jenderal TNI (Purn), Mantan Aster Kasad.

Lihat Juga

Foto dan Puisi: Dua Karya Seni Dalam Satu Antologi Puisi

Antologi puisi yang diberi judul ‘Kepundan Kasih’, bukan hanya berisi puisi, tetapi juga berisi karya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.