Beranda » Humaniora » Belajar Bersikap Samin : Tak Mau Salahkan Orang Lain

Belajar Bersikap Samin : Tak Mau Salahkan Orang Lain

Bangsa Indonesia semestinya belajar bersikap Samin. Sikap tidak mau menyalahkan orang lain. Ini jika kita ingin urip tentrem, ayem. Hidup tenang dan damai.

Kegaduhan politik, hukum, dan lainnya, yang belakangan ini makin mengkhawatirkan karena terkadang beraroma SARA, akan segera mereda apabila masing-masing pihak mau menahan diri. Tidak responsif berlebihan. Tidak agresif membabi-buta. Sehingga yang panas tidak semakin ganas. Yang terpojok tidak semakin diolok-olok. Begitu pula yang merasa menang, merasa punya kuasa, merasa paling benar, tidak sesumbar dan tinggi hati. Tidak mengumbar rasa dengki.

Orang Samin yang hidup di masyarakatnya Kabupaten Blora, Jawa Tengah, dan Bojonegoro, Jawa Timur, mewarisi sikap nenek moyangnya yang memegang teguh kejujuran dan keluguan. Tetapi sikap jujur dan lugu mereka berlebihan, sehingga sering disalahpahami masyarakat umum. Orang Samin dianggap bodoh, tolol, karena sikap jujur mereka cenderung naif.

Kisah nyata orang Samin yang cukup populer karena keluguan dan kejujurannya, sampai kini tak pernah sirna dari ingatan masyarakat Blora dan sekitarnya.

Orang Samin pada masa lalu selalu bepergian dengan jalan kaki. Sejauh apa pun mereka akan jalan kaki. Pada suatu hari ada orang Samin dari Blora yang ingin pergi ke Rembang.

Tentu saja itu  jarak yang jauh sekali jika ditempuh dengan jalan kaki. Ketika sampai di jalan raya, seorang kondektur bus jurusan Rembang menawari orang Samin tersebut.

Pak…Rembang nggih? (Pak ke rembang ya),” tanya kondektur.
“Nggih (ya).”

“Lha monggo nitih bis. (Silakan naik bis).”
“Oh…nggih… (Oh iya)”

Dia pun naik bus itu. Tidak lama sang kondektur mendatangi orang Samin tersebut untuk menarik ongkos.
Ongkosipun Pak? (Ongkosnya, Pak).”
Ongkos menapa? (Ongkos apa?)”
Ya ongkos nitih bis Pak. (Ya bayar untuk naik bus, Pak)”

Karena suara kondektur keras, semua mata penumpang tertuju pada mereka berdua.

Njenengan ingkang nawani kulo nitih bis (Kan, tadi Anda yang menawari saya naik bis).”
Tapi nggih tetep mbayar Pak (Tapi ya tetap membayar). ”
Kulo mboten gadah arto (Saya tidak punya uang).”

Lek ngoten mandap mriki mawon (Kalau begitu, turun sini saja).”
Nggih mboten nopo-nopo (Ya tidak apa-apa).”

Sang kondektur memberi aba-aba sopir untuk berhenti. Orang Samin itu siap-siap turun, tiba tiba  ada seorang penumpang yang hendak membayari orang Samin tersebut. Namun, si Samin menolak.

Sekeca mlampah mawon, mboten wonten ingkang ngajak tukaran (lebih nyaman jalan kaki saja, tidak ada yang ngajak berantem),” kata si Samin sambil melangkahkan kaki turun dari bus.

Logika berpikir dan bersikap orang Samin itu sederhana. Praktis, dan tidak ribet. Dirinya memilih jalan kaki ketimbang naik bus, karena 2 (dua) alasan. Merdeka atau bebas, dan menghindari permusuhan dengan orang lain. Meskipun secara nalar atau logika orang bepergian pada umumnya, naik bus jelas lebih nyaman, tidak capek, dan lebih cepat sampai tujuan ketimbang jalan kaki.

Tapi orang Samin itu memegang teguh sikap dan pendiriannya, yaitu tidak mau ribut atau bertengkar dengan kondektur bus, dan merasa leluasa atau bebas dengan berjalan kaki, karena tidak melibatkan orang lain dalam proses perjalanannya menuju tempat tujuan.

Bisa saja dirinya mempermasalahkan sikap kondektur bus tersebut. Tetapi itu tidak dia lakukan, karena dirinya tidak mau menyalahkan orang lain yang bisa memicu pertengkaran atau keributan.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XIV: Perempuan, Pancasila, dan Era Disrupsi

Orang Samin ini dengan kesadaran penuh menyalahkan dirinya sendiri. Kesalahan ada pada dirinya. Bukan pada orang lain. Dirinya menyadari bahwa ternyata tawaran untuk naik bus bukanlah gratis. Tetap harus membayar ongkos. Mungkin dia beranggapan naik bus yang harus membayar ongkos adalah naik bus sesuai keinginan penumpang. Naik bus dari terminal, sesuai keinginan penumpang, itu ada ongkosnya yang harus dibayar. Kalau naiknya karena ditawari kondektur atau kernet bus di tengah jalan, bukan karena keinginan calon penumpang, mungkin menurut orang Samin itu, tidak perlu membayar ongkos alias gratis.

Gara-gara keluguan cara berpikir orang Samin seperti itu, atau karena ketidaktahuannya dan kurangnya pengetahuan tentang bepergian menggunakan jasa transportasi, dirinya pun ikhlas menjadi “korban” diturunkan di tengah jalan oleh kondektur bus.

Orang Samin ini sejatinya tidak merasa menjadi “korban”. Dirinya menyadari itu gara-gara kurangnya pengetauan tentang bepergian menggunakan bus. Dia juga sadar,dirinya terlalu lugu dalam berpikir, dan selalu menganggap orang lain suka menolong. Akibatnya, dirinya “dipermalukan” di depan orang banyak.

Kejadian tersebut dia terima dengan lapang dada. Tidak ada rasa benci, apalagi dendam. Dirinya pun tidak mau menyalahkan orang lain. Itu kesalahan dirinya sendiri.

Peluang atau kesempatan memperkarakan kejadian tersebut sebenarnya bisa dilakukan oleh si Samin. Dia bisa saja mempermasalahkan kenapa ketika kondektur menawari dirinya untuk naik bus itu, kondektur tidak menyebutkan atau menjelaskan naik bus ini harus membayar ongkos alias tidak gratis. Sehingga, dirinya tidak merasa “dipermalukan” di depan orang banyak, karena tidak punya uang untuk membayar ongkos naik bus.

Tapi itu tidak dilakukan si Samin. Dirinya tak mau bertengkar. Tidak mau ribut. Tidak mau bermusuhan dengan orang lain. Semuanya sudah terjadi. Dirinya ikhlas, harus jalan kaki lagi.

 

 Menghindari konflik

Orang Samin akan selalu menghindari konflik dengan orang lain.Konflik dianggap tabu.Jika muncul persoalan di kalangan mereka, selalu diusahakan diselesaikan tanpa ada konflik. Artinya, ketika terjadi beda pendapat, atau sesuatu yang dirasa mengganjal misalnya, pasti salah satu pihak akan mengalah. Bahkan terkadang kedua pihak atau semuanya mengalah. Sikap ini mereka yakini akan menghindari konflik, dan persoalan pun selesai. Semua pihak ikhlas. Tidak ada lagi ganjalan.

Mereka punya prinsip bahwa hidup bermasyarakat itu harus dijalani dengan keharmonisan, kerukunan, tolong menolong, dan keseimbangan antara batiniah dengan lahiriah. Prinsip yang terakhir ini yang sering memunculkan sikap dan perilaku yang naif, terlalu lugu, aneh, bahkan bisa dianggap tidak normal di mata orang di luar masyarakat Samin.

Orang Samin senantiasa mengutamakan keseimbangan suara batin dengan perilaku atau tindakannya. Apabila batinnya merasa kasihan melihat orang lain kelaparan karena tidak ada yang dimakan, dirinya pasti akan membantu memberi makanan orang tersebut. Meskipun dirinya harus rela tidak makan karena makanannya diberikan kepada orang itu. Apa yang menjadi suara batinnya, itu yang harus dia lakukan.

Kembali ke konteks menghindari konflik, orang Samin akan selalu memposisikan dirinya sebagai pihak yang harus mengalah. Bahkan terkadang memposisikan dirinya sebagai pihak yang salah. Ini bukannya tanpa alasan. Dia tidak ingin menyalahkan orang lain. Kalau menyalahkan oang lain, dia berpikiran nantinya akan timbul pertentangan. Kemudian terjadi konflik. Itu yang dia tidak inginkan.

Simak juga:  Menilik Dampak Virus Corona di Kampung Halaman

Rasa malu yang berlebihan di kalangan orang Samin, tanpa mereka sadari juga menghindarkan diri dari keributan atau hal-hal yang bisa menimbulkan persoalan baru.

Orang Samin juga terkadang malah bersyukur di tengah musibah yang menimpanya. Rasa syukur ini sebagai rasa keberuntungan, karena musibah yang menimpanya tidak sebesar musibah yang menurut mereka mungkin saja terjadi.

Beberapa kisah yang digambarkan melalui dialog antara orang Samin dengan sahabatnya yang bukan Samin berikut ini, dapat memperjelas betapa anehnya pemikiran orang Samin dalam menyikapi atau menghadapi suatu masalah.

Sahabat orang Samin (SS) : “Klambimu sing dipepe nang njobo omah ilang, kenopo ora digoleki?” (Bajumu yang dijemur di luar rumah hilang, kenapa tidak kamu cari?)

Orang Samin (S) : “Ora, ben wae. Ilang yo mergo salahku dewe, klambi koq dipamer-pamerke nang njobo omah” (Tidak, biar saja. Hilang juga salahku sendiri, baju koq dipamerkan di luar rumah).

Kisah yang lain;

SS    : “Kabare kowe bar kemalingan? Malinge mlebu omahmu njikuk opo wae?” (Kabarnya kamu baru saja kecurian? Pencurinya masuk rumahmu mengambil apa saja?”

S      : “Malinge ora njikuk opo-opo, terus lungo” (Pencurinya tidak mengambil apa-apa, terus pergi).

SS   : “Lho piye to kowe. Malinge ora mbok cekel?” (Bagaimana sih kamu. Pencurinya tidak ditangkap?).

S     : “Ora. Aku malah ndelik. Aku isin….aku ora nduwe barang opo-opo sing bisa dijukuk” (Tidak. Saya malah sembunyi. Saya malu…..saya tidak punya barang-barang berharga yang bisa dicuri).

Kisah lainnya lagi ;

SS    : “Kabare jaranmu ilang dicolong maling. Kowe koq malah seneng, ngguya-ngguyu?” (Kabarnya kudamu hilang dicuri orang. Kenapa kamu malah senang, senyam-senyum?).

S     : “Iyo, jaranku ilang dicolong maling. Aku seneng, bersyukur, untung jaranku ilang orang pas tak tumpaki, dadi aku ora melu ilang” (Iya, kuda saya hilang dicuri orang. Saya senang dan bersyukur, untungnya kuda itu hilang dicuri orang tidak pada saat saya naiki, sehingga saya tidak ikut hilang).

Kepolosan dan keluguan berpikir serta bersikap orang Samin seperti itu memang selalu dianggap aneh oleh orang di luar masyarakat Samin. Bahkan kepolosan dan keluguan itu, tidak jarang mengundang anggapan bahwa orang Samin seperti orang tolol.

Tapi sejatinya, kalau kita mau jujur, di zaman sekarang ini dimana hampir setiap individu maupun kelompok tertentu pada semua aspek kehidupan selalu berupaya ingin menang. Harus menang. Entah dengan cara apa pun. Lainnya harus kalah. Juga ada yang merasa paling benar. Entah dengan dasar apa pun, asalkan ada pembenaran. Lainnya harus salah. Bahkan kalau perlu dengan cara disalahkan atau direkayasa agar kelihatan salah.

Dari kenyataan itu, maka semestinya bangsa ini belajar bersikap Samin. Dalam arti tidak perlu meniru sikap dan perilaku yang terlalu polos, lugu, tetapi cukup meneladani prinsip hidup mereka dalam bermasyarakat, yaitu tidak mau menyalahkan orang lain.

Untuk cakupan lebih luasnya, tidak mau menyalahkan orang lain dalam hidup berbangsa dan bernegara. Bahkan mau mengalah, atau dengan legowo dan ikhlas mengakui kesalahan, menghindari konflik, tidak suka permusuhan, dan lebih memilih untuk hidup tentram, aman, dan damai.  Itu pilihannya, ketimbang hidup dalam kegaduhan yang tak kunjung selesai.*** (Dari berbagai sumber/Masduki Attamami)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *