Selasa , 21 November 2017
Beranda » Angkring Mataraman » Begja tak Terkira

Begja tak Terkira

ANGKRING MATARAMAN

Ki Atmadipurwa

Begja tak Terkira

 

SUARANYA, hanya bunyi kleset-kleset lirih. Lalu, pintu mobil klenyer-klenyer itu tidak terdengar kalau pintunya barusan dibuka. Tahu-tahu sudah mak bleb, nyaris tak terdengar, sudah ditutup kembali. Pengemudinya sudah tedhak dari palenggahan luhur dalam mobil milik priyayi luhur yang urip mulya. Lalu terbisik bunyi mak kleg. Remote kunci. Bolehnya mandeg, persis sejajar dengan area Lek Man Square, Jokteng Angkring The Traditional Cuisine, yang serba hotfresh from the anglo.

Lek Man sudah menduga, priyagung itu Denmas Kasut. Betul, ketika mak bedengus di seputaran round table gorengan dan baceman, semua yang telah andher pisowanan serentak gumyak, ekspresi gumbira wong cilik, harapan makan gratis, puas dan kenyang. “Weh weh … ketiban ndaru kita kita semua ini,” sambutan perdana dari mBah Mul Ceklik.  Lama menghilang ….”

“Weh ngilang. Padhakke dhemit,” sambung Kang Kuncung. Denmas Kasut belum menjawab tapi langsung aktif salaman erat sama yang sudah duluan duduk. Menebar senyum bersama bau wangi parfum super mahal. Wangi menyejukkan, sesejuk aura dompetnya.

“Kangen he mBah. Sudah-sudah, seperti biasa, mangga dhahar sesukanya, sebanyaknya. Bebas,” kata Denmas Kasut sambil menerima posisi duduk terbaik yang direlakan Kang Kuncung. Seperti rindhik asu digitik, para penghadir Angkringan Lek Man berebut adu cepat memungut gorengan, baceman, dan bungkusan. “Gimana mBak Mul, sehat?”

“Ya, sehatnya wong tua. Situ baru pula dari Eropah ta?”

“Kok priksa?”

“Ya meski sepuh, saya misih suka baca koran. Nonton tivi. Situ itu kerep keluar di tivi.”

“Tuntutan profesi, mBah. Jane ya jeleh disorot kamera. Lek Man, biasanya.”

Lek Man paham. Langsung menyiapkan teh tubruk, gula batu kesukaan Denmas Kasut. Sejak SMA, Denmas Kasut sudah menjadi pelanggan tetap Lek Man. Kawan seangkatannya, Denmas Tet juga pelanggan setia Jokteng Square, angkring malam. mBah Mul, senior mereka yang membimbing merokok dan jajan wedangan  sambil begadangan di depan makam Kotagede atau alun-alun Sewandanan di Pakualaman.

“Mobile datang kok gak kedengaran itu mobil apa ta Den? Jangan-jangan tidak pakai mesin?” tanya Kang Kuncung menyela kunyahan di mulutnya. “Pintunya dibuka ditutup tidak ada suaranya.”

“Mobil mahal, mobil mehwah, Kang Kuncung,” sahut Lek Man sambil menyerahkan tek tubruk gula batu kesukaan Denmas Kasut.

“Harganya em em man. Milyaran,” sambung seniman muda Solis yang memilih duduk agak dekat sisi gelap warung.

“Siapa itu?” tanya Denmas Kasut sambil menoleh. “Oooo kamu, Lis. ”

“Kamu tahu harganya, apa Lis? Sok tahu,” sahut Kang Kuncung

“Yaknya saja, kok.”

“Karo tengah,” sambung Denmas kasut sambil mulai menyeruput tea, le man receip. Yogya original drink.

“Satu setengah milyar?” tanya Kan Kuncung.

“Iya. Lha pa satu setengah juta,” sambul Solis menimpali.

“Haaa…haaa… mulai ribut ngurusi duwitnya orang,” komen Lek Man sambil tertawa.

Setelah kedatangan Denmas Kasut, area angkring tidak lagi diisi produk mulut pengakring berupa obrolan dan gurauan saja. Ruang akring itu menjadi sibuk oleh kerja mulut dengan kunyahan. Kecipak kecipuk gigi dan mulut menghajar gorengan sangat terdengar. Semua memanfaatkan uang receh Denmas Kasut. Akring menjadi riuh rendah. Pusat jajanan yang meriah. Segala sesuatu menjadi gumyak meriah tergantung dari besarnya harapan adanya biaya. Biaya yang cukup. Dalam hati Denmas Kasut juga terpikir, betapa masih banyak rakyat yang gembira ditraktir sementara tidak pernah sedih karena belum kuasa menjadi pentraktir. Hampir semua menunggu ditraktir, bahkan untuk sepotong dua potong bakwan klomoh berlebih kandungan jlantahnya. “Aku sering menyesal berada dalam situasi seperti ini,” pikir Denmas Kasut dalam hati.

“Sakbenernya, Denmas Kasut ini kerjanya apa ta?” tanya Kang Kuncung menelisik. Denmas Kasut diam karena tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya.

“Tidak usah ngurusi kerjaaan orang,” sambung Solis.

“Sa ini ndak ngurus. Cuma nanyak,” sambung Kang Kuncung ketus.

“Kerjaan Denmas Kasut bukan urusan kalian. Seharusnya, beliau inilah yang ngurus kerja kaliyan,” sambung mBah Mul dengan nada serius. “Selain punya uang, beliau ini punya kuasa.”

Denmas Kasut merah padam oleh hasutan mBah Mul. Tapi dia kuasa menahan diri lalu berkata dengan nada bergurau, “… tahu nggak. Tahu nggak apa kerjaanku? Kerjaanku, satu. Yaitu wajib traktir semua yang makan bersamaku malam ini. Lek Man oke?”

Lek Man hanya menunjukkan dua ibu jarinya. Tapi tidak diikuti oleh sungging senyum di bibirnya. Buru buru Lek Man menyembunyikan cadangan tas kresek yang masih dipunya. Lek Man tahu gelagat pelanggan yang sedang di atas angin. Pelanggan yang terkena efek gratisan. Lek Man hanya khawatir, pelanggan yang datang lebih malam tak lagi kebagian sediaan. Kasihan mereka yang terlambat terkena efek gratisan. Bahwa ternyata hidup wong cilik itu masih dipengaruhi efek begja.

 

Yk.09.09.17

Lihat Juga

Duit

Ki Atmadipurwa Duit   Pohon beringin rungkut dan teduh. Benteng tebal mendinding kukuh. Benteng bercat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *