Jumat , 19 Oktober 2018
Beranda » Seni & Budaya » Bedhaya Ketawang Lambang Cinta Sultan Agung dengan Nyi Roro Kidul

Bedhaya Ketawang Lambang Cinta Sultan Agung dengan Nyi Roro Kidul

Istana-istana kerajaan di Jawa, terutama Keraton Surakarta maupun Keraton Yogyakarta, yang dikenal sebagai “pusatnya budaya Jawa”, kaya akan kesenian-kesenian klasik dan tradisional. Di lingkungan Keraton Surakarta, salah satu tarian klasik itu adalah tarian Bedhaya Ketawang. Tarian yang hampir sama terdapat di Keraton Yogyakarta yakni tarian Bedhaya Semang.

Tari Bedhaya Ketawang tidak hanya sekadar tarian klasik atau tarian tradisional yang mempunyai nilai budaya yang adiluhung. Tapi tarian ini juga merupakan tarian sakral yang sarat  dengan nuansa mistis. Banyak yang meyakini, munculnya suasana mistis dalam tari Bedhaya Ketawang itu dikarenakan Kanjeng Ratu Kidul atau Nyi Roro Kidul, sang penguasa kerajaan gaib Laut Selatan telah ikut serta menari.

Kenapa Nyi Roro Kidul ikut serta menari bersama penari-penari Bedhaya Ketawang lainnya itu? Kisah keikutsertaan Nyi Roro Kidul, yang oleh sebagian masyarakat Jawa di Surakarta dan Yogyakarta serta kawasan pantai selatan Jawa lainnya diyakini sebagai penguasa gaib di Laut Selatan itu, tidak terlepas dari sejarah awal mula terciptanya tari Bedhaya Ketawang tersebut.

Di dalam kitab Wedhapradangga diuraikan jelas bahwa tarian Bedhaya Ketawang itu merupakan karya agung dari Sultan Agung yang memerintah Kerajaan Mataram, yang beribukota di Kotagede, Yogyakarta, sejak 1613 sampai 1645. Sultan Agung tidak sendirian dalam mencipta tarian tersebut. Nyi Roro Kidul yang diyakini memiliki hubungan batin sangat dekat dengan Sultan Agung ikut membantunya. Bahkan diyakini pula, bila tari Bedhaya Ketawang merupakan lambang atau gambaran dari kisah kasih antara Sultan Agung dengan Nyi Roro Kidul, kisah percintaan yang abadi antara Raja Mataram dengan Ratu Laut Selatan.

Gendhing Ketawang yang digunakan untuk mengiringi tarian Bedhaya Ketawang itu pun sarat dengan nuansa mistis. Alunan gendhingnya seakan membawa setiap orang yang mendengarnya masuk ke dalam dunia yang penuh kegaiban. Hal itu dikarenakan para pakar gamelan Keraton yang diminta bantuannya oleh Sultan Agung, telah  membuat gendhingnya dengan laku spiritual yang tinggi.

Simak juga:  Dolalak Terinspirasi Serdadu Mabuk

 
Sembilan Gadis Suci
Sebagai tarian klasik yang disakralkan, tari Bedhaya Ketawang tidak seperti tarian-tarian klasik lainnya yang bisa ditarikan dalam setiap saat atau setiap upacara. Tari Bedhaya Ketawang hanya boleh ditarikan pada saat paling istimewa di dalam Keraton yakni penobatan Raja (Susuhunan) serta peringatan penobatan raja atau jumenengan. Dengan demikian, dalam setahun tari Bedhaya Ketawang hanya akan ditarikan sekali saja.

Tari Bedhaya Ketawang ditarikan oleh sembilan penari perempuan. Penarinya pun harus benar-benar pilihan. Tidak sembarang perempuan boleh menarikannya. Para penarinya harus berstatus gadis dan harus benar-benar berstatus suci, tidak hanya dalam pengertian masih berstatus perawan, tapi juga pada saat menarikannya harus dalam kondisi terbebas dari haid.

Kesakralan tari Bedhaya Ketawang ini juga sudah terlihat sejak proses persiapannya. Misalnya, sebelum dipentaskan atau ditarikan, para penarinya terlebih dulu harus menjalankan puasa selama beberapa hari. Tidak itu saja. Proses latihannya juga tidak boleh dilakukan setiap hari. Ada hari-hari tertentu yang boleh digunakan untuk latihan, yakni hanya pada hari Senin Wage dan Selasa Kliwon. Waktu latihannya pun hanya boleh dilaksanakan pada malam hari.

Pentas tari Bedhaya Ketawang juga dipenuhi sejumlah sesaji. Sesaji yang sangat penting dan harus selalu ada pada setiap pentas tari Bedhaya Ketawang adalah tersedianya seperangkat busana dan peralatan kecantikan perempuan yang ditaruh secara khusus dan tertata rapi di dalam sejumlah nampan. Seperangkat busana dan alat-alat kecantikan itu disediakan khusus untuk Nyi Roro Kidul.

Konon, penonton yang mempunyai mata gaib atau daya linuwih tinggi akan dapat melihat saat Nyi Roro Kidul datang ke arena tarian dan berganti pakaian dengan mengenakan busana serta peralatan kecantikan yang disediakan dalam sesaji. Setelah mengenakan busana tersebut, Nyi Roro Kidul lalu masuk ke tengah-tengah arena menari dan ikut menari bersama sembilan gadis penari lainnya.

Simak juga:  Musik dan Tarian Dalam Srawung Anak Bangsa

Pada saat bersamaan dengan masuknya Nyi Roro Kidul ke arena tarian, gerak tari para penari pun semakin terlihat indah, gemulai dan mempesona. Mata pengunjung atau penonton yang menyaksikan tarian itu seperti enggan untuk berkedip barang sesaat pun. Tarian Bedhaya Ketawang itu pun seperti penuh magnet yang telah menghipnotis mata para penontonnya. Suasana yang sakral dan mistis pun benar-benar terasa.

Ketika tari Bedhaya Ketawang ditarikan di dalam Keraton, banyak tamu atau pengunjung yang terkagum-kagum dengan kelemah-gemulaian para penarinya. Sejumlah pengunjung meyakini, kelemah-gemulaian para penari Bedhaya Ketawang itu dikarenakan pengaruh pesona dari Nyi Roro Kidul yang telah ikut menari bersama. *** (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

Foto dan Puisi: Dua Karya Seni Dalam Satu Antologi Puisi

Antologi puisi yang diberi judul ‘Kepundan Kasih’, bukan hanya berisi puisi, tetapi juga berisi karya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.