Beranda » Pendidikan » Bedah Buku, “Gelandangan di Kampung Sendiri”

Bedah Buku, “Gelandangan di Kampung Sendiri”

LATAR BELAKANG

Perpustakaan KPK merupakan perpustakaan khusus yang berperan mendukung KPK dalam melaksanakan visi, misi, dan tugas KPK dalam mewujudkan Indonesia yang bebas dari korupsi. Perpustakaan KPK menyediakan berbagai literasi yang mendukung tugas dan pekerjaan para pegawai, serta berbagai riset yang dilakukan kalangan eksternal seperti mahasiswa, dosen, dan para peneliti. Selain mempunyai koleksi bidang korupsi, Perpustakaan KPK juga menyajikan koleksi subjek‐subjek terkait.

Selain berfungsi sebagai laboratorium literasi antikorupsi, Perpustakaan KPK juga bisa menjadi “tempat rekreasi”. Salah satunya yaitu melalui koleksi buku‐buku popular yang tentunya bermanfaat bagi pemustaka‐baik internal pegawai KPK maupun eksternal. Disamping pengelolaan rutin, Perpustakaan KPK juga secara berkala menyelenggarakan bedah buku sebagai bentuk promosi dan penyebarluasan informasi yang bertujuan untuk meningkatkan wawasan sekaligus pengetahuan bagi para peserta.

Di tengah kesibukan kerja dan rutinitas hidup, terkadang kita lupa bahwa manusia adalah makhluk monodualistik. Selain sebagai pribadi juga sebagai makhluk sosial yang menjadi bagian dari kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Dimana dalam interaksi sosialnya tidak jarang sarat dengan permasalahan dalam berbagai sendi.

Bagaimanakah kemudian persoalan politik, sosial, budaya (termasuk kebudayaan) itu sendiri, secara psikologis, politis, teologis, dan kultural diuraikan oleh seorang budayawan? Perpustakaan KPK mengajak kita mengupasnya dalam bedah buku salah satu judul koleksinya “Gelandangan di Kampung Sendiri” bersama Emha Ainun Nadjib atau karib disapa Cak Nun.

 

TUJUAN KEGIATAN
1. Menumbuhkan minat baca dan pengembangan diri Pegawai KPK
2. Meningkatkan wawasan dan nilai‐nilai luhur bangsa Indonesia
3. Menumbuhkan empati terhadap kompleksitas permasalahan di masyarakat
4. Mengetahui produk dan layanan terbaru Perpustakaan KPK: Koleksi Popular

 

RESENSI BUKU
Ada benarnya apa yang disampaikan oleh Cak Nun, sapaan Emha Ainun Nadjib bahwa hidup ini ibarat sawang sinawang sebuah pepatah Jawa yang artinya, hidup itu hanya tentang melihat dan dilihat. Ditangan seorang Cak Nun, hidup bisa lebih dari sekedar sawang sinawang.

Entah ia (Cak Nun) terlahir untuk membaca dan kemudian menuliskan arti kehidupan, atau menulis hanyalah bagian ke“lingsem”annya dalam menyoroti sebagian perjalanan hidupnya dengan tutur dan laku
urakannya, esai‐esai yang ditulis pada paruh tahun 90‐an ini terasa masih relevan. Sebagai seniman, cendikiawan muslim, santri jebolan Gontor ang banyak bergauk dengan rbagai kalangan ini, hidup dan kemudian tinggal di Jogja.

Cak Nun mungkin satu dari sekian banyak orang Jawa Timur yang sangat fasih dengan kultur Jogja  (baca:Jawa). Ia seolah seorang “dukun” atau orang pintar yang mampu menafsirkan berbagai persoalan dan realita, menjadi fragmen-fragmen yang terserak menjadi cerita di buang sayang. Baginya persoalan politik, sosial, budaya (termasuk kebudayaan) itu sendiri, secara psikologis, politis, teologis, dan kultural dalam kacamata orang lain mungkin sepertinya remeh temeh, oleh seorang Cak Nun bisa menjadi rumit (complicated) dan terbolak balik.

Kumpulan esai Gelandangan di Kampung Sendiri, Pengaduan orang-orang pinggiran ini menggambarkan dengan jelas dan lugas bagaimana keberpihakan dan kegelisahan Cak Nun yang kadang membuatnya seperti bermata seribu, dan berhati seribu. Ia mampu melihat sengkarut politik, persoalan keadilan, demokrasi, dan hukum yang tak kunjung beres, dalam satu spektrum bahwa negara dan sindrom egosentrismenya, baik secara kultural maupun secara KeTuhanan mengalami kemunduran.

Sebagaimana CaK Nun tulis dalam salah satu esainya, ia sudah terbiasa menindas hatinya sendiri. Dalam banyak kesempatan, ia menuliskan betapa persoalan kebangsaan, perburuhan, mahasiswa, dan pergaulannya dengan bermacam‐macam manusia, terutama orang‐orang kecil tentu tak sanggup ia tanggung sendiri. Semangat berbagi keresahan dan kepedulian dalam berbagai tulisannya
meng‐indikasikan bahwa Cak Nun sedang berusaha untuk berbagi masalah dengan berbagai pertanyaan‐pertanyaan dan pernyataan pernyataan kritisnya, barangkali para pembaca esainya bisa berbagi problem solving. Selain sekedar sambatan (keluhan).

“Tuhan menitipkan cairan di sekitar biji nangka untuk mengatasi getah buah itu”, kata Pak Guru Mataki.

Persis seperti ungkapan Guru Mataki seorang tokoh dalam esai-esainya, Cak Nun piawai menempatkan fragmen‐fragmen sosial yang di alami lingkungan sosial yang terus berubah, dengan persoalan yang terus bertambah dan menjadi‐jadi. Dunia menjadi terbolak balik. Yang benar menjadi salah dan yang salah dibenarkan. Dengan satu keyakinan suatu saat nanti pasti ada obatnya.

Buku Gelandangan di Kampung Sendiri yang diterbitkan oleh Penerbit Bentang ini, pernah diterbitkan dengan judul yang sama pada tahun 1995. Esai‐esai Emha Ainun Nadjib ini pernah diterbitkan dalam berbagai rubrik diberbagai media masa dalam kurun waktu 1991‐1993. Buku yang akan anda baca ini terbit untuk pertama kali pada tahun 1995 lalu terbit untuk kedua kalinya pada Februari 2015, dan sampai September 2016 telah mengalami naik cetak sebanyak 4 kali.

Akhirnya, sebagai sebuah tradisi dalam kepenulisan dan dunia literasi saat ini, esai-esai Cak Nun pantas dibaca literasi saat ini, tentu esai‐esai Cak Nun pantas dibaca. Paling tidak kita bisa mendapat sebuah gambaran yang terjadi di masa lalu dan kemudian membandingkannya dengan peristiwa hari ini, atau kekinian. Tulisan‐tulisan Cak Nun tidak mengajak kita untuk mengelus dada, membela, mengecam, atau sekedar bersikap semata. Sebab, segala sesuatunya harus kita nilai secara objektif dan seksama. Kata orang Jawa, hidup ini sawang sinawang. Kata Islam, tawashau bil‐haq wa tawashau bi-shabr.

*Resensi Buku Oleh @nang_syam

 

PELAKSANAAN ACARA
Hari, Tanggal :  Jum’at, 3 Maret 2017
Pukul :   14.00 – 17.30 WIB
Tempat :  Auditorium KPK, Gedung Merah Putih, Kuningan Persada
Narasumber 1 : Emha Ainun Nadjib
Narasumber 2 : Pegiat Kenduri Cinta (dalam konfirmasi)
Moderator : Nanang Farid Syam

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XIV: Dialog

RAISA: Pemilu Perlu ditinjau Lagi Aturannya Perkenalkan nama saya Raiza dari HMI, kuliah di Fakultas …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *