Beranda » Essai EAN » Batalyon Zalitun

Batalyon Zalitun

Muhadlarah Mbah Shoimun ternyata berkepanjangan dan njelimet. Pintu dan jendela ditutup oleh Pakde Brakodin. Jangan sampai ada tetangga tahu. Nanti disangka nobar youtube tausiyah Ustadz. Terus pada sinis “ah, cuma omongan”. Kalau dikasih tulisan, “ah, cuma tulisan”. Bukan fakta. La qoulan wala kalaman, lewat saja menguap jadi asap. Tuhan dan Neraka pun sekarang sudah dianggap halusinasi. Malaikat, Iblis, Jin, dikira dongeng.

Kalau Sorga, masih bisa diterima, karena siapa tahu ada. Kan bisa pesta dan foya-foya. Manusia hidup pada posisi gèk-gèk. Who knows. Siapa tahu jadi Menteri, Dirjen, Dirut, Komisaris, Duta Dialog, minimal ditimbali makan siang di Istana. Ulama bukan hanya tidak marah atau malu dipanggil oleh Umara: tapi malah bangga.

“Tarmihim!”, Mbah Shoimun mengeras suaranya, “kasih tahu anak-anak itu tentang sukses turunan Iblis yang bernama Zalitun dengan batalyonnya yang merasuki jiwa para pelaku transaksi, yang receh-receh maupun yang kaliber Naga dan Raksasa”. Tim peneliti Zalitun sangat detail menyiapkan paket provokasinya ke hati manusia. Secara bertahap diajari mendesain transaksi-transaksi futurologis, minimal seperti ini:

“Jika saya punya konsesi wilayah kerja panas bumi dengan potensi 110 MW. Itu sama dengan produksi listrik 110.000 kilowatt (kW). Jika listrik itu dibeli PLN katakanlah dengan aturan main sekarang dibeli dengan harga 85% dari biaya pokok produksi (BPP) listrik, di Jawa di kisaran Rp 850/kWh atau Rp 1200/kWh untuk di luar Jawa. Jadi tiap kWh saya akan mendapatkan 0,85 x Rp 850 = Rp 722,5 dari setiap kWh yang saya produksi. Karena saya punya pembangkit yang kapasitasnya 110 MW atau 110.000 kilowatt tadi, artinya setiap jam akan mengalir uang 110.000 kW x Rp 722,5/kWh = Rp 79,5 juta. Atau dalam sehari Rp 1,9 Miliar, atau sebulan Rp 57,2 Miliar, dan setahun akan menjadi Rp 686,7 Miliar. Jika konsesi itu selama 40 tahun, akumulasinya menjadi Rp 27,5 Triliun. Belum lagi kalo konsesinya diperpanjang seperti Freeport kemarin”

“Kalau pun saya harus investasi USD 440 juta atau Rp 5,9 Triliun. Artinya, dalam tempo 8,6 atau katakanlah 9 tahun uang sudah kembali. Sisanya masih ada sisa waktu 31 tahun! Dengan pendapatan Rp 686,7 Miliar per tahun. Dana USD 440 juta, toh tidak harus semua keluar dari kantong sendiri. Karena normatifnya investasi itu hanya 30% yang equity (modal sendiri) sisanya dicarikan dana dari bank atau jual obligasi. Artinya cukup menyediakan dana USD 440 juta x 0.3 = USD 132 juta. Wah, besar juga. Tapi jika aku ajak 3 partner dari luar sehingga dana awal bisa ditanggung 4 pihak, aku cukup menyediakan dana USD 132 juta : 4 = USD 33 juta atau Rp 445,5 Miliar”

“Bagaimana menarik minat bank untuk mendanai, ya ini toh bisa diserahkan konsultan yang ahli dalam hal Financial Engineering untuk membuatkan laporan sehingga usulan proyek tampak sangat prospek. Karena itu menurut Kwik Kian Gie yang pernah membocorkan perilaku konglomerat di Indonesia equity-nya di proyek-proyek rata-rata malah cuma 10%! Yang 90 % itu dana dari bank yang artinya dana masyarakat atau suntikan dari dana asing. Dana investasi USD 440 juta untuk beli konsesi 110 MW katakanlah USD 40 juta. (Sarulla yang tadinya milik PLN dibeli dari Pemerintah dengan harga USD 102 juta, lantas dijual ke konsorsium yang dipimpin perusahaan lokal yang menggandeng asing dengan harga USD 110 juta, tapi ini konsesi dengan potensi 330 MW)”

DAUR-II 260,
Yogya, 1 Nopember 2017

Lihat Juga

Tapi Aku Mencintaimu (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *