Selasa , 21 November 2017
Beranda » Sains & Tekno » Bahaya Abu GunungApi terhadap Kesehatan

Bahaya Abu GunungApi terhadap Kesehatan

Abu gunungapi terdiri dari partikel halus batuan gunungapi yang terfragmentasi (kurang dari 2 mm diameter). Apabila masih dekat gunungapi abu gunungapi tersebut masih panas, namun seiring bertambahnya jarak dengan gunungapi, abu tersebut akan bersifat dingin. Abu gunungapi terbentuk selama ledakan gunung berapi, dari longsoran batu panas yang mengalir di sisi gunung berapi, atau dari semprotan lava pijar. Bentuk dan sifat abu gunungapi berbeda-beda tergantung pada jenis dan bentuk letusan gunung berapi. Warna abu gunungapi dari abu-abu terang hingga hitam, sedangkan untuk ukuran juga bervariasi mulai dari yang seperti grit hingga sehalus bedak. Abu gunungapi dapat menghalangi sinar matahari, mengurangi jarak pandang dan terkadang menyebabkan gelap gulita pada siang hari.

Letusan juga dapat menimbulkan guntur dan kilat dari gesekan antara partikel yang dapat dilokalisasi berada di atas gunungapi atau seiring dengan pergerakan abu yang diakibatkan oleh angin.

Endapan abu dalam jumlah yang besar dapat menyatu dengan tanah dan akhirnya menjadi lapisan tanah atas dari daerah gunungapi. Endapan inilah yang nantinya membuat tanah di sekitar gunungapi menjadi sangat subur. Dampak positif dari abu gunungapi ini kadang menyebabkan dampak negatif dari letusan gunungapi tidak dihiraukan lagi, sehingga di daerah gunungapi yang subur tidak jarang merupakan daerah dengan kepadatan penduduk yang sangat tinggi.

Abu gunungapi yang baru saja jatuh memiliki kandungan lapisan asam yang dapat menyebabkan iritasi pada paru-paru dan mata. Lapisan asam akan mudah tercuci oleh air hujan, sehingga dapat mencemari persediaan air setempat. Abu asam juga dapat merusak tanaman, hal ini mengakibatkan kegagalan panen.

Secara umum, abu gunungapi menyebabkan masalah kesehatan yang relatif sedikit, namun lebih banyak menghasilkan kecemasan. Orang-orang dapat menjadi lebih takut terhadap bahaya abu dan gas gunungapi terhadap kesehatan daripada risiko kematian akibat bahaya primer letusan gunungapi seperti aliran piroklastik. Meskipun demikian, hujan abu dapat mempengaruhi wilayah yang sangat luas di sekitar gunung berapi dan dapat menyebabkan gangguan besar untuk hidup normal.

Layanan medis dapat memperkirakan bahwa peningkatan jumlah pasien dengan keluhan sakit pernapasan dan mata terjadi pada saat dan setelah peristiwa hujan abu.

Dampak abu gunungapi terhadap kesehatan dapat dibagi menjadi beberapa kategori, antara lain dampak terhadap pernapasan, penyakit mata, iritasi kulit dan dampak tidak langsung akibat abu gunungapi.

Pada beberapa letusan gunungapi, partikel abu sangat halus sehingga dapat masuk ke paru-paru ketika kita bernapas. Apabila paparan terhadap abu cukup tinggi, maka orang yang sehatpun akan mengalami kesulitan bernapas disertai batuk dan iritasi. Beberapa tanda-tanda penyakit pernapasan akut (jangka waktu pendek) akibat abu gunungapi:

  • Iritasi hidung dan pilek
  • Iritasi dan sakit tenggorokan, kadang disertai dengan batuk kering
  • Untuk penderita penyakit pernapasan, abu gunungapi dapat menyebabkan penyakit menjadi serius seperti tanda-tanda bronkitis akut selama beberapa hari (seperti: batuk kering, produksi dahak berlebih, mengi dan sesak napas)
  • Iritasi saluran pernapasan bagi penderita asma atau bronkitis; keluhan umum dari penderita asma antara lain sesak nafas, mengi dan batuk
  • Ketidaknyamanan saat bernapas

Dalam beberapa kasus, paparan jangka panjang terhadap abu gunungapi halus dapat menyebabkan penyakit paru-paru serius. Dalam hal ini, abu gunungapi harus berukuran sangat halus serta mengandung silika kristal (untuk penyakit silikosis) dan orangm orang tersebut terkena abu dalam konsentrasi tinggi selama bertahun-tahun. Paparan terhadap silika kristal dalam abu gunungapi biasanya dalam jangka waktu yang pendek (beberapa hari hingga minggu). Studi juga menunjukkan bahwa batas paparan yang direkomendasikan (sama di beberapa negara) dapat terlampaui untuk jangka waktu yang singkat bagi penduduk secara umum.

Para penderita asma atau masalah paru-paru lainnya seperti bronkitis dan emfisema, dan gangguan jantung parah adalah mereka yang paling berisiko.

Partikel abu yang sangat halus dapat mengiritasi saluran pernapasan dan menyebabkan kontraksi sehingga mempersulit pernapasan, khususnya bagi mereka yang sudah memiliki permasalahan paru-paru. Abu halus juga menyebabkan lapisan saluran pernapasan menghasilkan lebih banyak sekresi yang dapat membuat orang batuk dan bernapas lebih berat. Penderita asma, khususnya anak-anak, dapat menderita serangan batuk, sesak dada dan mengi. Beberapa orang yang tidak pernah menderita asma dapat mengalami gejala seperti asma setelah hujan abu, khususnya jika mereka yang terlalu lama melakukan kegiatan di luar ruangan.

Perkembangan gejala permasalahan pernapasan akibat menghirup abu gunungapi tergantung pada sejumlah faktor, antara lain: konsentrasi partikel di udara, proporsi partikel halus dalam abu, frekuensi dan lama pemaparan, kehadiran silika kristal dan gas gunungapi atau aerosol yang tercampur dengan abu, serta kondisi meteorologi. Kondisi awal kesehatan dan penggunaan peralatan pelindung pernafasan juga akan mempengaruhi gejala yang dialami.

Iritasi mata merupakan dampak kesehatan umum yang sering dijumpai. Hal ini terjadi karena butiran-butiran abu yang tajam dapat merusak kornea mata dan membuat mata menjadi merah. Pengguna lensa kontak diharapkan menyadari hal ini dan melepas lensa kontak mereka untuk mencegah terjadinya abrasi kornea.

Tanda-tanda umum antara lain:

  • Merasakan seolah-olah ada partikel yang masuk ke mata Mata menjadi sakit, perih, gatal atau kemerahan Mengeluarkan air mata dan lengket
  • Kornea lecet atau tergores
  • Mata merah akut atau pembengkakan kantong mata sekitar bola mata karena adanya abu, yang mengarah pada memerahnya mata, mata terbakar dan menjadi sangat sensitif terhadap cahaya.

Meskipun jarang ditemukan, abu gunungapi dapat menyebabkan iritasi kulit untuk sebagian orang, terutama ketika abu gunungapi tersebut bersifat asam.

Tanda-tandanya antara lain:

  • Iritasi dan memerahnya kulit.
  • Infeksi sekunder akibat garukan.

Selain risiko kesehatan jangka pendek dan jangka panjang, dampak tidak langsung dari hujan abu besar juga harus dipertimbangkan. Hal ini terutama timbul dari konsekuensi sekunder hujan misalnya:

  • Dampak terhadap jalan
    Berkurangnya jarak pandang akibat abu gunungapi dapat menyebabkan kecelakaan. Bahaya ini diperparah oleh jalan yang ditutupi oleh abu. Tidak hanya marka jalan yang tertutup oeh abu gunungapi, namun jalanan menjadi sangat licin baik oleh abu basah maupun licin. Akibatnya, pasokan bahan kebutuhan dasar masyarakat dapat terhambat.
  • Dampak terhadap ketersediaan sumberdaya listrik
    Hujan abu dapat menyebabkan pemadaman listrik. Hal ini mungkin memiliki implikasi bagi kesehatan karena kurangnya pemanasan atau persyaratan infrastruktur lain yang bergantung pada listrik. Abu basah memiliki sifat yang konduktif, sehingga sangat penting memastikan pembersihan alat-alat listrik harus diawali dengan memutus aliran listrik sebagai prosedur operasi yang aman.
  • Dampak terhadap ketersediaan air bersih
    Hujan abu dapat mengakibatkan terkontaminasinya air bersih, penyumbatan saluran air, serta kerusakan peralatan penyedia air bersih. Pasokan air terbuka seperti tangki air di rumah-rumah sangat rentan terhadap hujan abu. Sedikit saja abu yang masuk ke dalam tandon air dapat mengakibatkan permasalahan kelayakan air minum. Meskipun risiko racun rendah, pH dapat dikurangi atau disisi lain klorinasi terhambat. Selama dan setelah hujan abu, ada kemungkinan kekurangan air yang diakibatkan oleh kebutuhan air ekstra untuk bersih-bersih.
  • Dampak terhadap sanitasi
    Tidak beroperasinya sistem sanitasi dapat menyebabkan peningkatan penyakit di wilayah yang terkena hujan abu.
  • Resiko atap runtuh
    1) Atap bisa runtuh karena beban berat dari abu. Hal ini dapat berakibat menyebabkan orang terluka bahkan meninggal bagi mereka yang tertimpa.
    2) Bahaya atap runtuh ketika sedang membersihkan atap dari abu gunungapi akibat tambahan beban berat seseorang di atas atap yang sudah tidak mampu lagi menahan beban tambahan.
    3) Pada beberapa letusan, beberapa orang meninggal setelah jatuh dari atap rumah mereka saat membersihkan abu.
  • Kesehatan hewan
    Jika abu terlapis dalam asam fluorida, abu bisa sangat beracun untuk hewan ternak jika mereka memakan rumput yang tertutup abu dan tanah.

Yang harus dilakukan untuk melindungi diri dari abu gunungapi:

  • Kurangi berkendara
    Segera setelah hujan abu, meskipun hanya hujan abu ringan, jarak pandang dan kualitas udara dapat secara dramatis terkena dampaknya, khususnya akibat resuspensi abu oleh lalu lintas. Air hujan dapat memperbaiki kualitas udara, namun ini sifatnya hanya sementara sampai abu menjadi kering kembali. Kami rekomendasikan agar Anda tidak berkendara maupun tidak keluar rumah setelah hujan abu. Jika ada harus berkendara, jaga jarak antara kendaraan Anda dengan kendaraan di depan Anda serta berkendaralah pelan-pelan.
  • Kurangi jumlah abu di dalam rumah
    Tutup semua pintu dan jendela selagi memungkinkan.
  • Perlindungan
    Untuk kegiatan pembersihan abu gunungapi, haruslah selalu menggunakan masker (lihat dokumen masker yang direkomendasikan – Recommended Masks di www.ivhhn.org). Jika masker tidak tersedia, gunakan masker dari kain yang akan menyaring partikel abu yang menyebabkan iritasi tenggorokan dan mata. Basahi kain dengan air akan meningkatkan efektivitas penyaringan abu. Penderita bronkitis, emfisema dan asma dianjurkan untuk tetap berada di dalam ruangan serta menghindari paparan abu.
  • Perlindungan mata
    Dalam lingkungan dengan abu gunungapi halus, pakai kacamata atau kacamata korektif daripada lensa kontak untuk melindungi mata dari iritasi.
  • Air minum
    Setelah hujan abu ringan, biasanya aman mengkonsumsi air yang terkontaminasi abu gunungapi, namun akan lebih baik jika kita menyaringnya terlebih dahulu sebelum mengkonsumsinya. Meskipun demikian, abu akan meningkatkan kebutuhan klorin untuk mensterilkan air. Hal ini menyebabkan air menjadi tidak layak minum bila dilihat dari aspek mikrobiologis. Abu pada awalnya membuat rasa air menjadi tidak enak dan pada akhirnya membuat air tidak aman untuk dikonsumsi. Cara paling aman adalah dengan mempersiapkan stok air sebelum terjadinya hujan abu. Persiapkan air minum yang cukup paling tidak untuk satu minggu (satu galon atau 3-4 liter, per orang per hari). Jika Anda bergantung pada air hujan, tutuplah tangki air dan putus saluran pipa sebelum hujan abu turun.
  • Sayuran yang ditanam di rumah
    Sayuran yang tertutup abu gunungapi di ladang aman untuk dikonsumsi asal sebelum dikonsumsi sayuran tersebut harus dicuci dengan air bersih.
  • Pembersihan abu
    Berilah sedikit air pada abu gunungapi sebelum diangkat menggunakan sekop. Berhati-hatilah dalam memberikan air pada abu di atas atap, karena dapat menyebabkan kelebihan beban dan runtuhnya atap. Penyapuan abu gunungapi kering akan menyebabkan abu terbang ke udara, hal ini harus dihindari. Menyemprot abu dengan banyak air juga berpengaruh pada ketersediaan air bersih di daerah yang padat penduduk.

Anak-anak menghadapi bahaya yang sama dari suspensi abu sebagaimana kelompok usia lainnya. Akan tetapi tingkat kerentanan anak-anak lebih tinggi karena secara fisik mereka lebih kecil. Di samping itu, secara psikologis, mereka belum mampu untuk bersikap rasional dan bijaksana, tidak seperti orang dewasa yang mampu melakukan tindakan pencegahan untuk menghindari paparan abu yang tidak perlu. Meskipun bukti menunjukkan bahwa paparan sejumlah kecil abu tidak berbahaya, kami menyarankan Anda mengambil tindakan pencegahan berikut ini:

  • Jagalah anak-anak agar tetap berada di dalam ruangan.
  • Anak-anak harus dinasehati agar tidak bermain atau berlari-lari di luar, karena semakin dalam menarik napas berarti semakin dalam partikel abu dapat masuk ke parub paru.
  • Masyarakat di daerah hujan abu tebal dapat mengatur program penitipan anak agar orang tua dapat melakukan tugas pembersihan.
  • Jika anak-anak harus di luar rumah ketika hujan abu, mereka harus memakai masker. Perlu diketahui bahwa sebagian besar masker dirancang untuk orang dewasa.
  • Cegahlah anak-anak bermain di daerah dimana banyak abu.

 

Sumber: International Volcanic Health Hazard Network (IVHHN)

Lihat Juga

Menyikapi Informasi Media Sosial

Dunia informasi di media sosial sudah seperti rimba atau hutan belantara. Siapa pun bisa tersesat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *