Jumat , 19 Oktober 2018
Beranda » Kawruh Bangunjiwa » Astutijati

Astutijati

DUNIA sastra Jawa begitu indah dan berbobot. Kata-kata yang menawan itu terselip berisi nasehat yang hidup. Tidaklah salah apabila dikatakan bahwa bahasa Jawa adalah bahasa rasa. Semua yang terungkap menunjukkan rasa hati dan bisa dipahami oleh hati manusia.

Di dalam bahasa rasa itulah bisa dikaji betapa dalam dan luas cakupan wawasan hidup orang Jawa.

Sebagai contoh: “Titah kudu kasdu anggeguru gelare lungsit, luhure kawireh, kang ngranggeh nugraha”. Kawireh dalam hal ini disebut sebagai sebuah ‘pitutur kuna’.  Yang tercipta dalam kristal budaya dan kemudian terungkap dalam mutiara kata yang terselip sebagai ‘basa sumbaga’, bahasa yang bersinar.

Bagaimana memahami nasihat itu hanya bisa dirasakan dan dilaksanakan dalam kehidupan ini.

Apa yang sebenarnya dicari oleh manusia, disebut sebagai ” Kalamun wus wani lenggah ing urubing latu, ya kuwi kang bisa antuk kamulyan”.

Apabila diungkap mutiara Jawa ini sangat indah, tetapi aneh.

Air dalam Jawa dipahami sebagai perasaan. Oleh karena itu Masyarakat Jawa biasa olah rasa. Dan selanjutnya apabila orang sudah mampu duduk artinya mengalahkan hawa nafsu. Kemudian lagi bahwa apabila sudah mampu mencermati tindak dan sikap ‘mulat ing tumindak dan tumitah’, artinya belajar dan meneliti sifat dan sikap manusia hidup, maka manusia bisa mendapatkan kebahagiaan. Kebahagiaan pun dalam paham Jawa ada kebahagiaan semu dan kebahagiaan sejati. Kebahagiaan semu biasa terungkap dengan kekayaan dan harta benda duniawi. Sementara kebahagiaan sejati adalah kesempurnaan sejati yang memandang hidup ini sebagai sebuah keindahan. Meskipun ada sukses, ada gagal, ada senang ada susah, semua itu terangkai dalam sebuah sikap yang sumeleh.

Hidup harus mengejar keutamaan. “Utama” dalam Jawa dipahami sebagai –urip tata manungsa’ hidup yang mengikuti tata aturan manusia.

Simak juga:  DALAM BINGKAI FILOSOFI JAWA: Pancasila Menjadi Pedoman Perilaku

Jadi pada dasarnya, pitutur kuna atau nasehat kuna itu bisa bikin hati manusia itu bersinar. Kemudian kalau tindak dan sikapnya pantas bisa ditiru dan diteladani. Oleh karena itu mampu mendapatkan apa yang disebut sebagai “astuti jati’-artinya ‘meneping ati-wengane Gusti’. Maksudnya hati yang diam menanti kedatangan Allah. (Ki Juru Bangunjiwa)

Lihat Juga

KEPEMIMPINAN DALAM DEMOKRASI PANCASILA ‘Membentuk Pribadi Yang Utuh’

Dalam sebuah catatan kuna bisa dikaji kembali bahwa nilai Pancasila itu sesungguhnya tidak jauh dari …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.