Beranda » Kawruh Bangunjiwa » Anusapati Meruwat Kendedes (2): Patung Siwa Tersimpan di Leiden

Anusapati Meruwat Kendedes (2): Patung Siwa Tersimpan di Leiden

CERITA Garuda itu mengandung pesan moral dan legenda. Dalam filosofi Jawa, candi juga berfungsi sebagai tempat ruwatan raja yang telah meninggal supaya kembali suci dan dapat menitis kembali menjadi dewa. Ide ini berkaitan erat dengan konsep “Dewa-Raja” yang berkembang kuat di Jawa saat itu.

Berkaitan dengan prinsip tersebut, dan sesuai dengan kitab Negarakretagama, maka candi Kidal merupakan tempat di-ruwat-nya raja Anusapati “anaknya Kendedes bersama Tunggul Ametung- dan dimuliakan sebagai Siwa. Namun sayangnya, sebuah patung Siwa yang indah dan diduga kuat berasal dari candi Kidal sampai sekarang masih tersimpan di museum Leiden-Belanda.

 

Garudeya

Candi Kidal adalah satu-satunya candi di Jawa yang memiliki narasi cerita Garuda terlengkap. Cerita ini dipahatkan pada kaki candi dan cara membacanya dengan prasawiya (berjalan berlawanan arah jarum jam) dimulai dari sisi sebelah selatan. Relief pertama menggambarkan Garuda menggendong 3 ekor ular besar, relief kedua melukiskan Garuda dengan kendi diatas kepalanya, dan relief ketiga Garuda meyangga seorang wanita diatasnya. Diantara ketiga relief tersebut, relief kedua adalah yang paling indah dan masih utuh.

Dalam kesusastraan Jawa kuno, terdapat cerita populer dikalangan rakyat yaitu Garudeya, yakni kisah perjalanan Garuda dalam membebaskan ibunya dari perbudakan dengan penebusan air suci amerta.

Dikisahkan bahwa Kadru dan Winata adalah 2 bersaudara istri resi Kasiapa. Kadru mempunyai anak angkat 3 ekor ular dan Winata memiliki anak angkat Garuda. Kadru yang pemalas merasa bosan dan lelah harus mengurusi 3 anak angkatnya yang nakal-nakal karena sering menghilang diantara semak-semak. Timbullah niat jahat Kadru untuk menyerahkan tugas ini kepada Winata. Diajaklah Winata bertaruh pada ekor kuda putih Uraiswara yang sering melewati rumah mereka dan yang kalah harus menurut segala perintah pemenang. Dengan tipu daya, akhirnya Kadru berhasil menjadi pemenang. Sejak saat itu Winata diperintahkan melayani segala keperluan Kadru dan mengasuh ketiga ular setiap hari. Winata selanjutnya meminta pertolongan Garuda anaknya untuk membantu. (relief pertama).

Ketika Garuda tumbuh besar, dia bertanya kepada ibunya mengapa dia harus menjaga 3 saudara angkatnya. Setelah diceritakan tentang pertaruhan kuda Uraiswara, maka Garuda mengerti. Ditanyakanlah kepada 3 ekor ular tersebut bagaimana caranya supaya ibunya dapat terbebas dari perbudakan ini. Dijawab oleh ular “bawakanlah aku air suci amerta yang disimpan di kahyangan serta dijaga para dewa, dan berasal dari lautan susu”. Garuda menyanggupi dan segera mohon ijin ibunya untuk berangkat ke kahyangan.

Tentu saja para dewa tidak menyetujui keinginan Garuda sehingga terjadilah perkelahian. Namun para dewa dapat dikalahkan. Melihat ini Bathara Wisnu turun tangan dan Garuda dapat dikalahkan. Setelah mendengar cerita Garuda tentang keinginannya mendapatkan amerta, maka Wisnu memperbolehkan dengan syarat Garuda harus mau menjadi kendaraan tungganggannya. Garuda menyetujuinya. Maka Garuda turun kembali ke bumi dengan amerta. (relief kedua). Sejak saat itu pula Garuda menjadi tunggangan Bathara Wisnu.

Dengan bekal air suci amerta inilah akhirnya Garuda dapat membebaskan ibunya dari perbudakan atas Kadru. Hal ini digambarkan pada relief ketiga dimana Garuda dengan gagah perkasa menggendong ibunya dan bebas dari perbudakan.

 

Ruwatan

Berbeda dengan candi-candi Jawa Tengah, candi Jawa Timuran selain sebagai monumen untuk mengabadikan raja yang telah meninggal diduga kuat juga berfungsi sebagai tempat pendharmaan (kuburan) raja. Seperti dijelaskan dalam kitab Negarakretagama bahwa raja Wisnuwardhana didharmakan di candi Jago, Kertanegara di candi Jawi dan Singosari, Hayam Wuruk di candi Ngetos, dsb.

Dalam filosofi Jawa, candi juga berfungsi sebagai tempat ruwatan raja yang telah meninggal supaya kembali suci dan dapat menitis kembali menjadi dewa. Ide ini berkaitan erat dengan konsep “Dewa-Raja” yang berkembang kuat di Jawa saat itu. Dan untuk menguatkan prinsip ruwatan tersebut dipahatkan relief-relief cerita moral dan legenda pada kaki candi, seperti pada candi Jago. (Ki Juru Bangunjiwa)

Lihat Juga

Jiwa Jawi Menjawab Kerinduan Barat

PASCA revolusi industri yang terjadi di Barat, masyarakatnya kehilangan pola pikir spiritual. Umumnya mereka berlomba …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *