Selasa , 20 November 2018
Beranda » Kawruh Bangunjiwa » Anusapati Meruwat Kendedes (1): Politik Kekerasan Harus Dihindari

Anusapati Meruwat Kendedes (1): Politik Kekerasan Harus Dihindari

SEJARAH mengingatkan agar tidak menggunakan politik kekerasan. Keris Empu Gandringpun menyampaikan pesan bahwa sekali kekerasan digulirkan, akan menggelindingkan kekerasan berikutnya bersamaan dengan roda sejarah kekerasan yang berikutnya. Ken Arok membunuh Tunggul Ametung. Anak Tunggul Ametung, Anusapati, membalas membunuh Ken Arok. Giliran anak Arok, Tohjaya, membunuh Anusapati. Tohjaya akhirnya mati oleh Ranggawuni.

Sebelum meninggal, Anusapati berpesan kepada keluarganya agar kelak di candi yang didirikan untuknya supaya dibuatkan relief Garudeya. Dia sengaja berpesan demikian karena bertujuan meruwat ibunya, Kendedes, yang sangat dicintainya, yang selalu menderita dan selama hidupnya belum sepenuhnya menjadi wanita utama.

Dalam prasasti Mula Malurung, dikisahkan bahwa Kendedes adalah putri Mpu Purwa yang cantik jelita tiada tara. Kecantikan Kendedes begitu tersohor hingga akuwu Tunggul Ametung, yang sudah tua, terpaksa menggunakan kekerasan untuk dapat menjadikan dia sebagai istrinya. Setelah menjadi istri Tunggul Ametung, ternyata Kendedes juga menjadi penyebab kematian suaminya yang sekaligus ayah Anusapati. Hal ini terjadi karena Ken Arok, yang secara tak sengaja di taman Boboji kerajaan Tumapel melihat betis Kendedes dan mengeluarkan sinar kemilau, memaksa untuk dapat mempersunting wanita <I>ardanareswari<P> tersebut agar dapat menjadi menjadi raja di Jawa berikut keturunannya. Maka Ken Arok-pun membunuh Tunggul Ametung serta memaksa kawin Kendedes untuk memenuhi ambisinya.

Sementara itu setelah mengawini Kendedes, Ken Arok masih juga mengawini Ken Umang dan menurut tutur tinular Ken Arok lebih menyenangi istri keduanya dari pada Kendedes. Akibatnya hak Kendedes sebagai permaisuri tidak sempurna.

Berlandaskan uraian tadi, maka pemberian relief Garudewa pada candi Kidal oleh Anusapati untuk meruwat ibunya Kendedes yang cantik jelita namun nestapa hidupnya. Anusapati sangat berbakti dan mencintai ibunya. Dia ingin ibunya lepas dari penderitaan dan nestapa salama hidupnya, menjadi suci kembali dan wanita sempurna.

Simak juga:  Ruwatan, Laku Budaya Beraras Pedidikan Jiwa

Bathara Anusapati menjadi raja. Selama pemerintahannya tanah Jawa kokoh sentosa. Tahun saka Perhiasan Gunung Sambu (1170 C) Anusapati berpulang ke Siwaloka. Cahaya Anusapati diujudkan arca Siwa gemilang di candi Kidal.

Demikianlah penggalan kitab Negarakretagama berkaitan dengan raja Singosari ke-2, Anusapati, beserta tempat pendharmaannya di candi Kidal yang terletak di desa Rejokidal, sekitar 20 km sebelah timur kota Malang – Jawa Timur, candi Kidal dibangun pada 1248 M, bertepatan dengan berakhirnya upacara pemakaman Cradha untuk raja Anusapati.

Setelah selesai pemugaran tahun 90-an, candi ini sekarang berdiri dengan tegak dan kokoh serta tampak keindahannya. Jalan darat ke candi Kidal sudah nyaman setelah beberapa tahun rusak berat. Di sekitar candi banyak terdapat pohon-pohon besar dan rindang, taman candi juga tertata dengan baik, ditambah lingkungan yang bernuansa desa menambah suasana asri dan mistis bila kita berkunjung ke candi Kidal. (Ki Juru Bangunjiwa)

Lihat Juga

Ruwatan, Laku Budaya Beraras Pedidikan Jiwa

  RUWATAN hingga sekarang masih dipandang setengah hati oleh sebagian orang Jawa. Padahal ruwatan merupakan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.