Beranda » Kawruh Bangunjiwa » Alon-alon Waton Kelakon

Alon-alon Waton Kelakon

TIDAK banyak masyarakat, yang sadar bahwa nilai adiluhung kebudayaan Jawa khususnya dan Indonesia umumnya mengandung sebuah filsafat kehidupan yang dalam. Bahwa nilai-nilai kehidupan itu mengandung kebijaksanaan hidup, yang selaras, serasi dan seimbang. Sebab tujuan hidup manusia adalah ‘resep’, indah di mata dan laras dan serasi  dirasakan, bak suara gamelan Jawa.

Padahal generasi muda di tahun 1928 sadar-sesadarnya lewat Sumpah Pemudanya bahwa, meraka menyatakan tekad berbangsa satu bangsa Indonesia, bertanah air satu tanah air satu tanah air Indonesia. Tetapi yang berkenaan dengan bahasa aslinya bukan Berbahasa satu Bahasa Indonesia, tetapi ‘Menjunjung tinggi Bahasa Persatuan Bahasa Indonesia”. Dua pemahaman yang sangat jauh berbeda.

Generasi muda kita tempo hari sudah sadar bahwa bahasa daerah yang merupakan beteng budaya terakhir harus hidup mengawal budaya-budaya daerah. Kekayaan bahasa daerah itu kemudian makin memperkaya khasanah bahasa Indonesia. Tetapi kalau berbahasa satu bahasa Indonesia, berarti meniadakan bahasa daerah. Akibatnya budaya daerah juga makin luntur. Kalau orang sudah tidak mempunyai budaya lagi akibatnya hidup jadi tak aturan lagi. Orientasi hidup hanyalah uang dan uang lagi.

Adalah seorang Antonio Ravarez yang sudah melanglang jagad, menyadari sekali akan pentingnya budaya. Lahir di Indonesia, remaja di Spanyol, menimba ilmu di Belanda, Jerman dan sepuluh tahun berada di Amerika Serikat, kemudian kembali ke Indonesia lagi dengan nama Surya Sasangka, prihatin akan makin tenggelamnya budaya Jawa khususnya dan budaya Indonesia umumnya.   Padahal dunia Barat sekarang ini sudah makin melompong dengan peradabannya yang mereka anggap paling maju.

 

Sulit Ketawa

Orang Amerika, Inggris, Jerman, Belanda, dan Eropa umumnya, bahkan juga orang-orang Asia yang berada di kota-kota sibuk nyaris tak pernah ketawa. Padahal mereka kaya-kaya. Hampir segala kebutuhan kebendaannya dipenuhi. Segala macam fasilitas elektronik dipenuhi. Tetapi mereka merasakan ada kehampaan. Hidup bagai robot. Tak ada kontak personal. Yang ada adalah kontak bisnis dan hidup dengan robot. ‘Urip kadya reca’ kata orang Jawa, riwa riwi ra duwe isin karana mati rasane. Bisa dimaklumi kalau orang-orang Barat umumnya kalau membeli barang atau kebutuhan hidup bisa satu toko diborong semua, hanya untuk memenuhi kepuasan pribadi. Tetapi meski sudah terpenuhi segala kebendaannya, ada kehampaan, ada kerinduan hidup sebagai manusia normal yang bersosialisasi, yang membumi, bukan yang selalu diawasi oleh kamera pengintai, dilingkupi oleh bahan-bahan kimia yang masuk lewat berbagai makanan.

Teknologi tinggi yang mereka agung-agungkan ternyata juga membawa kemunduran yang tidak terbeli lagi. Pemerkosaan terhadap tanah dengan teknologi tinggi dan pupuk kimia serta pestisida dan sida-sida yang lain berakibat tanah jadi tandus dan berubah jadi padang gurun. Dan ini terjadi di lembah di California. Lingkungan jadi porak poranda. Bahkan untuk menanam bunga di depan rumah saja tanahnya harus impor dari Amerika Latin bagi penduduk New York.

Hubungan antar manusia penuh kecurigaan. Hubungan antar keluarga juga sama saja. Bisa jadi seorang ayah yang jauh dari kota lain ingin menjenguk anaknya diusir, lantaran si anak mengejar uang. Uang-uang dan uang yang ada di benak orang-orang maju. Mereka pula yang menanamkan pola hidup di negara selatan dengan kriterianya bahwa negara maju adalah berkriteria Produk Domestik Brutonya sekian dolar AS. Padahal hidup bukan hanya tergantung dari uang.

Oleh karena itulah ketika orang-orang Barat ini datang ke Indonesia mereka begitu tertegun dengan semangat hidup orang Jawa khususnya dan orang indonesia umumnya. Hidupnya tenteram, tak tergantung dari uang. Aneh bagi mereka, seorang petani yang hidupnya sengsara harus bekerja di sawah, tetapi mereka tetap gembira. “Yang seperti ini tak ditemui di Amerika atau di Eropa”, kata Antonio Tavarez yang akrab dipanggil Mastoni. Di negara-negara Barat untuk berkenalan dengan orang lain begitu sulit, penuh praduga dan kecurigaan. Tetapi di Indonesia, orang gampang bersahabat. Nilai kehidupan bermasyarakat inilah yang indah. Bahkan orang-orang Barat akan selalu kembali ke Indonesia kalau mereka sudah pernah di Indonesia. Merasa hidup menjadi manusia semakin indah.

 

Potensi Wisata

Dibanding orang datang ke Eifel, atau ke Menara Piza, sekali saja sudah cukup puas. Tak bakalan mereka ingin kembali. Tetapi mereka yang melihat Prambanan atau Borobudur, pasti akan kembali lagi. Bukan karena Borobudur atau Prambanannya tetapi karena masyarakatnya yang lebih menghargai kemanusiaan.

Akhirnya orang-orang Barat ini banyak yang tertarik untuk membedah budaya Jawa khususnya. Dan ternyata dari sambutan masyarakat Barat umumnya di Amerika, Belanda, Jerman, Spanyol, budaya Jawa begitu mempesona. Bahkan di salah satu kapal mewah, pertunjukan yang termasuk elit adalah wayang kulit. Sayang dalangnya orang Barat, Clara.

Budaya Jawa begitu kaya akan petuah dan pitutur luhur yang tersimpan rapi dalam berbagai wujud, baik itu lewat tembang, makanan, dolanan anak-anak, instrumen, musik gamelan, macapatan, kesenian dan pertunjukkan serta wujud  lainnya. Dalam hubungan dengan alam, tanah, pohon dan dengan sesama, yang kelihatan dan tak kelihatan, bahkan dengan Allah semua ditonjolkan sebagai sebuah pencapaian yang harus dikejar oleh manusia Jawa. Hal ini menunjukkan bahwa nenek moyang Jawa pernah ‘tata titi tentrem kartaraharja’ sehingga bisa mengemas mutiara dan mengkristalisasikan nasihat-nasihat luhur dalam kemasan yang bisa diterima masyarakat. Sayangnya masyarakatnya sendiri sekarang ini tidak sadar akan kekayaan budaya ini.

Seturut pengalamannya, ilmuwan Barat yang pernah belajar Jawa, hidupnya penuh aturan, penuh ‘tatanan, tuntunan’,sehingga bagi orang lain yang melihatnya menjadi tontonan yang sangat menyejukkan.

Kemajuan memang perlu, tetapi apa itu kemajuan kalau hanya membawa kemunduran. Itulah sebenarnya apa yang dimaksud dengan filosofi ‘alon-alon waton kelakon’, maju dengan bijaksana. Tak asal nabrak-nabrak. Sebab akibatnya makin membuat kiamat makin dekat. Bumi makin cepat hancur. Padahal orang Jawa senantiasa mengedepankan “Hamemayu-hayuning Buwono. (Ki Juru Bangunjiwa)

Lihat Juga

Jiwa Jawi Menjawab Kerinduan Barat

PASCA revolusi industri yang terjadi di Barat, masyarakatnya kehilangan pola pikir spiritual. Umumnya mereka berlomba …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *