Selasa , 21 November 2017
Beranda » Kawruh Bangunjiwa » Ajaran Kehidupan Lewat Sesaji
Rangkaian prosesi siraman Kahiyang Ayu (ft. net)

Ajaran Kehidupan Lewat Sesaji

Membaca Lambang di Balik Jokowi Mantu

Sesaji memasang Tarub (Pasang Tarub) atau sesajian lengkap meliputi 27 macam sesajian, dan bersumber dari naskah Jawa Kuna Purwaukara, pada dasarnya sebuah ajaran kehidupan bagi manusia, sejak kelahiran hingga kematian. Namun, ajaran itu, tidak diawali dari kelahiran, melainkan, saat perkawinan dengan sajen bucalan sebagai sesajian pertama.

Dalam naskah itu pula, terdapat teks bahan-bahan yang digunakan, serta cara membuat sesajian secara detail seperti sajen untuk upacara metu (lahir), upacara mati (kematian), dan upacara kehidupan orang Jawa seperti mitoni, saat mendirikan rumah, dan sebagainya.

Namun, dalam praksis tradisi Jawa sehari-hari, mengherankan juga karena tidak seluruh ajaran itu sampai ke pendukung budaya Jawa secara lengkap, dan persis sama. Diduga, bergesernya makna dan kelengkapan ritual atau sesaji tersebut karena transfer tradisi Jawa dominan melalui bahasa lisan.

Akibatnya makna, urutan, bahan-bahan, dan kelengkapan sajen bahkan nyaris jarang terpenuhi sebagaimana tradisi itu direkayasa pada masa awalnya.

Demikian benang merah ceramah dan peragaan Sajen Pasang Tarub (Awal Upacara Pernikahan) yang disampaikan Drs Manu Jayatmaja, staf pengajar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Sesajen bucalan berupa Tumpeng Mancawarna merupakan sajen pertama upacara Jawa dengan maksud penegasan keberadaan kiblat mata angin. Tujuan upacara ini adalah membersihkan arah kiblat-arah kehidupan-dan membuang sifat buruk manusia. Disusul sajen Tumpeng Megono, berupa tumpeng (gunung) Meru yang diaduk-aduk dewa, sebagai simbolisasi usaha manusia memperoleh tirta amerta (air kehidupan), dan sumber kehidupan itu sendiri. Sedangkan sajen ketiga, ialah sajen brokolan, berupa dawet (cendol) potongan kelapa dan gula jawa, serta telur itik. Ini adalah simbol bersatunya sperma dan sel telur (kelapa dan gula jawa), yang berubah menjadi benih (dawet), dan kemudian menjadi bibit di langit (telur itik)…sebuah proses perkawinan dan pembuahan. Sedangkan sajen terakhir, atau yang ke-27, adalah sajen banyu kendi (air dalam kendi), simbol pencarian manusia akan Tuhan, atau pencarian nilai kelanggengan, karena hanya dengan pencarian kelanggengan itulah modal manusia menghadap Tuhan.

Untuk wilayah Yogyakarta, air kendi yang dipercaya masih memiliki daya kuat adalah air tempuran (pertemuan) dari Sungai Opak, dan Sungai Oya, keduanya mengalir di wilayah timur Yogyakarta.

Oleh Manu Jayaatmaja, ada kalanya muncul makna atau fungsi ganda dari sebuah elemen sajen. Pada fungsi sajen pertama, elemen sajen itu diposisikan dalam pengertian makrokosmos, sedangkan pada sajen yang lain sangat mungkin diposisikan dalam pengertian mikrokosmos, dan berbeda dengan fungsi atau maknanya yang pertama.

“Contoh untuk kasus ini, misalnya elemen sajen yang digunakan berupa gedang ayu (pisang ayu) dalam sajen tarub yang diposisikan dalam pengertian makrokosmos; pada sajen yang lain, yaitu sajen upacara manten yang harus diposisikan dalam pengertian mikrokosmos. Jadi sajen gedang ayu dalam pasang tarub akan berbeda makna dengan sajen gedang ayu dalam panggih manten.

 

Sesajen Bucalan

Sajen ini diwujudkan dalam a) 5 macam tumpeng kecil (terbuat dari beras ketan) berwarna hitam, biru, hijau, merah, dan kuning kunir (oranye), b) seiris buah srikaya, apel, jeruk buah, sebuah anggur, dua butir manggis, c) dua lempengan uang recehan, d) sebatang rokok cerutu, dan e) seerat daging. Sebuah sajen yang harus dibuang di sebuah tempat (sudut rumah, perempatan jalan, atau tempat keramat). Semuanya ditempatkan dalam sebuah ancak-ancak (terbuat dari pelepah daun pisang yang dibentuk segi empat kemudian diberi belahan bambu yang dianyam kemudian ditancapkan pada masing-masing sisi dalam segiempat pelepah pisang baru selanjutnya diberi alas daun pisang).

Makna sajen bucalan adalah wujud sesaji yang dipersembahkan kepada roh jahat yang menurut kepercayaan nenek moyang sering mengganggu ketentraman kita. Dengan demikian sajen ini sebagai upeti yang dipersembahkan kepada roh jahat yang berada di sekeliling kita. Setelah diberi sesaji, roh jahat tersebut diyakini sudah tidak akan mengganggu kepada orang yang mempunyai hajad sehingga dapat selamat dalam melaksanakan upacara manten. Sajen ini dapat dibuang di tempat-tempat seperti pojok pekarangan rumah, dekat sumur, perempatan jalan, atau tempat-tempat yang dianggap keramat (bawah pohon, makam, sendang, dll). Sajen ini sudah harus dibuang pada hari ketiga atau kedua sebelum pelaksanaan pasang tarub dan upacara manten. (Ki Juru Bangunjiwa)

Lihat Juga

Siraman Putri Penuh Makna Pembersihan Diri

Membaca Lambang di Balik Jokowi Mantu Ketika menyimak Jokowi Mantu ada ritual siraman. Namun sebelum …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *