Selasa , 20 November 2018
Beranda » Pendidikan » Bung Hatta Ungkapkan Sekitar Proklamasi (1): Ada Dongeng dan Legenda Menjelang Proklamasi

Bung Hatta Ungkapkan Sekitar Proklamasi (1): Ada Dongeng dan Legenda Menjelang Proklamasi

CERITA sekitar Proklamasi Kemerdekaan RI memang menarik untuk disimak. Apalagi di seputar peristiwa Proklamasi Kemerdekaan itu muncul beragam versi cerita, yang ternyata tidak seluruhnya benar. Bahkan banyak pula yang percaya cerita tidak benar atau cerita bohong itu sebagai sesuatu yang benar. Sesuatu yang diyakini faktanya ada pada saat peristiwa Proklamasi.

Dalam beberapa buku bahkan buku sejarah ada yang menulis kalangan pemuda membawa Sukarno dan Hatta pada tanggal 16 Agustus 1945 ke Rengasdengklok. Kemudian kalangan pemuda itu memaksa Sukarno dan Hatta untuk menandatangani naskah Proklamasi Kemerdekaan. Setelah ditandatangani, naskah Proklamasi itu pun dibacakan pada tanggal 17 Agustus 1945.

Benarkah demikian yang terjadi? Benarkah naskah Proklamasi itu ditandatangani Bung Karno dan Bung Hatta karena desakan atau paksaan kalangan pemuda? Bagaimanakah kisah atau cerita sebenarnya? Mari kita simak penjelasan Mohammad Hatta atau yang dikenal dengan panggilan Bung Hatta tentang peristiwa sesungguhnya pada sekitar Proklamasi itu sebagaimana pernah ditulisnyan di dalam buku berjudul “Sekitar Proklamasi“.

Untuk menjelaskan atau mendudukkan peristiwa sebenarnya, sebagaimana dialaminya selaku pelaku sejarah, yang ketika itu bersama Bung Karno memproklamasikan Kemerdekaan RI, Bung Hatta menulis buku berjudul “Sekitar Proklamasi”, diterbitkan penerbit Tintamas, Jakarta, tahun 1970. Jauh sebelum itu, 19 tahun sebelumnya, Bung Hatta sudah menguraikan cerita sebenarnya sekitar Proklamasi itu di dalam tulisannya berjudul “Legende dan Realitet Sekitar Proklamasi 17 Agustus” yang dimuat majalah Mimbar Indonesia No. 32/33 tanggal 17 Agustus 1951.

 

Dongengan dan Realita

Buku “Sekitar Proklamasi” itu menghimpun beberapa judul tulisan. Diawali dengan tulisan berjudul Dongengan dan Realita. Di dalam judul Dongengan dan Realita itu Bung Hatta menguraikan:

Simak juga:  Bung Hatta Ungkapkan Sekitar Proklamasi (2): Proklamasi Ditulis Bung Karno Sendiri

Proklamasi 17 Agustus 1945 adalah suatu Kejadian Besar yang menentukan jalan sejarah Indonesia. Dan sebagai suatu kejadian yang bersejarah sudah tentu ia diikuti pula oleh berbagai dongeng dan legenda, yang jika diperhatikan betul satu sama lain ada yang tidak sesuai dan bertentangan. Salah satu dari legenda itu ialah, bahwa Sukarmo dan Hatta hanya bersedia memproklamasi kemerdekaan Indonesia setelah dipaksa oleh pemuda.

Menurut legenda itu, karena Sukarno dan Hatta tidak mau menyetujui desakan pemuda-pemuda untuk memproklamasikan Indonesia Merdeka, maka tanggal 16 Agustus pagi mereka dibawa ke Rengasdengklok dan di sana dipaksa menandatangani Proklamasi Kemerdekaan itu yang esok harinya dibacakan di Pegangsaan Timur 56 pukul 10 pagi.

Menurut Bung Hatta, pengaruh dari legenda itu bisa dijumpai di dalam buku Muhammad Dimyati berjudul Sejarah Perjuangan Indonesia. Pada halaman 90 buku Sejarah Perjuangan Indonesia tersebut terdapat uraian seperti berikut:

Pada tanggal 16 Agustus jam 4.30 pagi berangkatlah Bung Karno-Hatta ke luar dari kota Jakarta, dengan mpbil, diantarkan oleh Sukarni dan J Kunto menuju ke tangsi Rengasdengklok, karena dikhawatirkan kedua pemimpin itu akan diperalatkan oleh Jepang, kalau tetap tinggal di rumahnya. Tangsi Rengasdengklok pada waktu itu sudah dikuasai oleh pemuda-pemuda Indonesia yang akan memberontak kepada Jepang. Di sana diadakan perundingan untuk segera memproklamasikan Indonesia Merdeka. Karena belum tercapai kata sepakat dan kebulatan tekad, kemudian pada malam tanggal 17 Agustus jam 12 perundingan diteruskan di sebuah gedung di Nassaubolevard kota Jakarta. Di situlah berkumpul segenap pemimpin-pemimpin Indonesia dan anggota panitia persiapan kemerdekaan Indonesia yang tadinya dilantik oleh Jepang, tapi sejak waktu itu telah memutuskan hubungan dengan Jepang. Dalam perundingan itu Sukarni menyorongkan teks Proklamasi Indonesia Merdeka di mana di bawahnya memakai kalimat: Bahwa dengan ini rakyat Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Segala badan-badan yang ada harus direbut dari orang-orang asing yang masih mempertahankannya.”

 “Susunan kalimat serupa itu tidak mendapat persetujuan dari hadirin; minta dirubah yang agak halus. Akhirnya Sajuti Melik dapat memecahkan kesulitan itu dengan mengemukakan susunan: Kami Bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lainnya diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkar-singkatnya.”

            

Diuraikan Bung Hatta, di sini dongeng telah berubah. Sukarnon dan Hatta yang dilarikan ke Rengasdengklok karena dikhawatirkan kedua pemimpin itu akan diperalat Jepang kalau tetap tinggal di rumahnya, dibawa kembali ke Jakarta untuk meneruskan perundingan yang tidak selesai di Rengasdengklok.

Simak juga:  Bung Hatta Ungkapkan Sekitar Proklamasi (3): Teks Proklamasi Disiapkan Sejak 22 Juni 1945

Dalam uraian yang beberapa kalimat saja, menurut Bung Hatta, sudah ada jalan pikiran yang bertentangan. “Dikhawatirkan kedua pemimpin akan diperalatkan oleh Jepang kalau tetap tinggal di rumahnya di Jakarta, tetapi mereka dibawa kembali ke Jakarta. Logika?” Tulis Bung Hatta. *** (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

Menjelang Proklamasi, Bung Karno dan Bung Hatta Diculik

MENJELANG Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 memang merupakan saat-saat yang menegangkan dan mendebarkan. Terlebih-lebih bagi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.