Selasa , 13 November 2018
Beranda » Peristiwa » Aceh, Peu Haba?
Masjid Raya Aceh (Ft. net)

Aceh, Peu Haba?

Masjid Raya Aceh (Ft. net)

 

RAMLEE PUTEH adalah orang Aceh pertama yang saya kenal. Dia tak lain adalah ikon entertainmen Malaysia yang lebih terkenal dengan nama P Ramlee (1927 – 1973). Putra pelaut asal Aceh, Indonesia, Teuku Nyak Puteh, yang lahir di Pulau Pinang, Malaysia ini adalah seniman serba-bisa. Dari pemerintah Malaysia P Ramlee mendapat anugerah sebagai Seniman Agung. Dia aktor, sutradara, produser, komposer, penyanyi, penulis lirik dan comedian.

Jadi tak heran kalau lagu-lagu dan film P Ramlee, pada zamannya, terkenal dan punya peminat tak hanya di Malaysia, tapi juga di Singapura, Brunei dan Sumatra. Sebelum meninggal dalam usia 44 tahun, P Ramlee berhasil memproduksi 66 buah film dan merekam 360 lagu. Perkenalan yang hanya lewat bioskop dan radio itu terjadi ketika saya belum baligh.

Kenalan kedua adalah tetangga saya di Lempuyangan, Yogyakarta, sebuah keluarga asal Aceh. Pasangan suami istri, Ishak Haitami dan Khadijah Ismail. Kami cukup akrab, bahkan saya sempat juga ke rumah Halimah Ismail, guru di Banda Aceh. Yakni adiknya Khadijah, beberapa belas tahun silam. Kini kenalan yang seperti keluarga sendiri ini hilang jejak.

Aceh menjadi semakin dekat setelah saya berkenalan dengan Prof Ali Hasjmy, Ketua MUI Aceh di Kongres Bahasa dan Persuratan Melayu IV di Pulau Pinang, Malaysia pada tahun 1984. Melalui mantan gubernur Aceh yang saya panggil ‘ayahanda’ ini, saya dijemput menghadiri sebuah seminar yang berlangsung di Hotel Renggali, Takengon, Aceh Tengah, 21 – 24 Februari 1986. Tak lama kemudian saya diundang sekali lagi untuk menyertai Muzakarah Pembinaan Generasi Muda yang berlangsung di Universitas Jabal Ghafur, Pidie.

Berkat kedekatan dengan beberapa tokoh masyarakat Aceh, saya dipercayakan oleh Bapak H Di Moerthala (Komda PSSI DI Aceh) untuk mendatangkan kesebelasan JPT Kelantan, Malaysia ke Aceh. Sponsornya Haji Pardan MA, pemilik Hotel Rasa Sayang Ayu, di Banda Aceh. Kabarnya hotel di bilangan Peunayong ini sudah berpindah tangan.

Rada lucu, saya yang profesi kuli tinta tiba-tiba diminta untuk mengurus keberangkatan sebuah kesebelasan asing. Ternyata berhasil. Rombongan 40 orang terdiri dari pemain dan pengurus diberangkatkan dengan feri dari Pulau Pinang ke Belawan, Medan. Kemudian naik bus ke Banda Aceh. Sebagai koordinator, saya sendiri terbang dengan Garuda.

Kesebelasan JPT Kelantan dibantu tiga pemain nasional, Mokhtar Dahari, Isa Bakar, Kamaruddin Mohd Nor dan Nik Fauzi Hassan. Ketika itu Mokhtar sebagai pemain terbaik Malaysia sedang di puncak karier. Ketika bertemu dengan Kesebelasan Aceh Pidie (PSAP) di Stadion Lam Pineung, Banda Aceh, malam 13 November 1986, ternyata tak sedikit penyokong kesebelasan yang dikomandoi Makhtar.

Penonton melimpah ruah. Babak pertama kesebelasan JPT Kelantan berhasil menyumbat 2 gol. Masuk babak kedua beberapa menit saja terjadi perkelahian sesama penonton akibat ulah tidak puas hati suporter fanatik Polisi terpaksa melepaskan 5 das tembakan untuk menyurai perkelahian. Ketika itu PSAP merupakan kesebelasan terkuat Aceh. Berakhir dengan kemenangan JPT Kelantan 2 – 1 (kabarnya 1 gol itu sengaja diberikan untuk mereda ketegangan antar penonton).

Dari Banda Aceh, kesebelasan JPT harus bermain lagi melawan Kesebelasan Aceh Utara (PSAU) di Bireun. Permainan di lapangan yang diguyuri hujan itu tak banyak membantu kesebelasan tuan rumah Kesebelasan tamu menang SEKALI lagi, 2 – 1.

Sebagai koresponden majalah Tempo, kemudiannya Gatra di Malaysia, belakangan mulai tak terhitung kenalan dan teman-teman asal Aceh. Orang-orang Aceh di negeri jiran itu diperlakukan agak istimewa dibandingkan dengan etnis asal Indonesia lainnya. Sebagian mendapat tempat untuk berdagang tanpa masalah. Hampir tak pernah terdengar adanya imigran asal Aceh terlibat dalam tindak kriminal.

Saya menjadi semakin dekat lagi dengan orang-orang Aceh ketika suasana di Negeri Serambi Mekah itu sedang panas. Sering masuk keluar ‘gerai’ yang menjual buah-buahan milik orang Aceh. Narasumber yang tak bisa ditembusi wartawan asal Jawa, ternyata saya diterima baik oleh aktivis GAM di Malaysia. Lewat wakil Hasan Tiro di Malaysia, Yusra Habib (Zein?), saya bisa bertemu dengan sejumlah aktivis GAM dan wawancara dengan Guru Rahman, salah seorang buronan penting regim Jakarta.

Lewat Yusra juga saya bisa kontak langsung dengan orang nomor satu GAM di Swedia, Teuku Hasan Tiro. Juga pernah wawancara via telefon dengan wakil GAM di Singapura, Malik Mahmud dan orang kuat GAM di Swedia, Dr. Zaini Abdullah.

Sekiranya saya ke Banda Aceh akhir Agustus nanti, itu tak lain sekadar untuk ‘menyapa’ ulang orang-orang dan tempat-tempat yang pernah bersentuhan dengan saya sebelumnya:
ACEH, PEU HABA?

 

Ahmad Latif – Alief175@gmail.com
(Mantan Koresponden Tempo & Gatra di Malaysia)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XIX: Kekuasaan, Demokrasi dan Pancasila

Diskusi seri Kebangsaan ke 19, yang diselenggarakan Paguyuban Wartawan Sepuh Yogyakarta menghadirkan tema, Kepemimpinan dalam …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.