Senin , 26 Juni 2017
Beranda » Pendidikan » Kolomnis itu Beda dengan Jurnalis

Kolomnis itu Beda dengan Jurnalis

SEORANG wartawan atau jurnalis pemula suatu hari terlibat dialog dengan redakturnya.

“Saya ingin menulis esei tentang politik, apakah diizinkan?” tanya si wartawan pemula.

“Kenapa tidak. Ya, lakukanlah. Tapi satu hal yang harus diingat, itu bukan tugas utamamu. Tugas utamamu sebagai wartawan adalah mencari dan menulis berita, atau karya-karya jurnalistik lainnya,” kata sang redaktur.

“Saya dari dulu sangat tertarik dengan penulisan esei atau artikel. Sebagai wartawan, apakah saya tidak bisa hanya khusus untuk menulis esei atau artikel saja,” kata si wartawan pemula lagi.

“Kalau hanya sebatas ingin menulis esei atau kolom, atau artikel, kamu tidak perlu repot-repot jadi wartawan. Tidak perlu harus bekerja di koran. Karena esei atau kolom, termasuk artikel itu bisa ditulis oleh siapa pun. Apa pun pekerjaannya, dosen, advokat, notaris, dokter, pengusaha, politikus, bahkan mungkin pengangguran, kalau bisa menulis, semua bisa menulis esei atau kolom, dan artikel. Para penulis esei atau kolom termasuk artikel di koran atau media pers selama ini disebut kolomnis,” jelas sang redaktur.

“Jadi, kalau saya menjadi wartawan atau jurnalis, saya tak boleh memilih hanya menulis esei atau kolom saja?”

“Ya, esei, kolom atau artikel itu tugasnya kolomnis, walau wartawan juga punya kesempatan untuk menulisnya. Satu hal yang kamu harus tahu, kolomnis dengan wartawan atau jurnalis itu berbeda. Kolomnis itu bukan wartawan. Kolomnis itu tidak terikat kerja di media, sedangkan wartawan terikat kerja dengan media. Kolomnis itu orang di luar media, sedang wartawan atau jurnalis itu orang di dalam media. Kolomnis itu bisa berasal dari profesi kerja apa pun, tapi wartawan ya hanya berasal dari profesi wartawan. Wartawan dalam kerja profesinya terikat dengan Kode Etik Jurnalistik, tapi kolomnis tidak terikat dengan Kode Etik Jurnalistik.”

“Karena wartawan juga punya peluang menulis esei atau kolom, saya juga akan mencoba untuk menulisnya,” sang wartawan pemula masih berkata lagi.

“Itu sesuatu yang bagus. Wartawan yang profesional itu memang harus bisa menulis apa pun. Tidak hanya bisa menulis karya-karya jurnalistik seperti berita, feature, dan semacamnya, tapi juga menulis esei atau artikel,” tegas sang redaktur.

Demikian perbincangan selintas tentang esei atau kolom, tentang kolomnis dan wartawan. Lantas, apa sih yang dimaksud dengan esei atau kolom, yang penulisnya sering disebut kolomnis itu?

Sampai hari ini, sebagian pekerja pers menempatkan pengertian yang berbeda tentang keduanya. Meskipun sesungguhnya kolom dan esei itu memiliki pengertian yang sama.

Di dalam Ensilokpedi Pers Indonesia (Kurniawan Junaedhie, Gramedia, 1991) disebutkan, esei merupakan karangan atau tulisan dalam bentuk prosa yang tidak amat panjang, membicarakan suatu pokok persoalan. Misalnya, mengenai kebudayaan, filsafat, sosial, agama dan lain-lain.

Masih menurut Ensilokpedi Pers Indonesia, esei bisa dibagi menjadi esei formal dan esei informal. Esei formal lazim disebut artikel atau risalah. Pada artikel atau risalah, penulis mengemukakan duduk persoalannya dengan mengemukakan alasan-alasan secara tersusun dan sistematis. Sedang esei informal lebih bersifat pribadi. Di sini penulis selain melihat pokok persoalan dengan ilmiah, juga menyertakan emosinya. Pembaca dapat hanyut dengan sikap, gagasan, maupun pandangan si penulis. Penulis esei informal disebut kolomnis atau penulis kolom.

Jadi, esei dan kolom itu memiliki pengertian yang sama? Bila berangkat dari pengertian Ensilokpedi Pers Indonesia itu jelas keduanya adalah sama. Sebab, kolom merupakan esei informal.

 

Apa Sih Kolom?

Sekarang kita bicara soal kolom saja. Rasanya ini lebih mudah. Kalau ada pertanyaan, apa sih kolom? Jawabnya tentu, kolom dan artikel itu sama. Hanya saja, kolom lebih khas dan spesipik. Setidak-tidaknya ini dapat terlihat dari panjang-pendeknya. Kolom itu jauh lebih pendek dibanding tulisan yang disebut artikel. Artikel lebih banyak bertumpu pada menyajikan ide-ide atau gagasan yang bersifat ilmiah. Sementara kolom lebih banyak melontarkan persoalan-persoalan yang mengusik perasaan atau emosi pembacanya.

Meminjam pendapat Patmono SK, tulisan-tulisan kolom selalu reflektif atau bersifat renungan. Tulisan dalam bentuk ini tidak sekadar berupa pergumulan intelektual, tetapi juga menyangkut emosi atau perasaan, spiritual bahkan kadang-kadang iman. (Lihat – Teknik Jurnalistik, Tuntunan Praktis Untuk Menjadi Wartawan, PT BPK Gunung Mulia, 1993).

Nah, apa saja yang perlu diperhatikan ketika akan menulis kolom atau disebut juga dengan esei?

Tidak ada salahnya kita belajar dari apa yang dikemukakan Thomas Eliot Berry seperti yang dikutip FX Koesworo, YB Margantoro, Ronny S. Viko (Lihat – Di Balik Tugas Kuli Tinta, Sebelas Maret University Press dan Yayasan Pustaka Nusatama, 1994).

Menurut Berry, kolom harus memikat perhatian. Bahan persoalan yang disajikan haruslah dapat memikat perhatian banyak pembaca. Jadi, bukan semata-mata karena pokok persoalannya menarik bagi penulis itu sendiri. Kemudian kolom harus mencerminkan adanya otoritas. Kepada pembaca harus dapat dikesankan, bahwa penulisnya paham benar akan seluk beluk persoalan yangn disajikannya. Karena itu datanya harus sebanyak mungkin disajikan dan harus dihindari sikap menggurui, karena sikap ini akan memancing reaksi yang kurang menguntungkan dari pihak pembaca.

Hal yang tak boleh dilupakan dalam kolom, menurut Berry, bahwa kolom harus mencerminkn watak yang cerdas. Pembaca harus dikesankan bahwa penulis adalah orang yang cerdas, luas pandangannya dan tajam cara berpikirnya. Kolom harus dapat merangsang pemikiran atau menghibur. Kolom harus mencerminkan agresivitas yang menyenangkan, tanpa merangsang perasaan dendam atau menyinggung perasaan. Serta mencerminkan adanya individualitas. Jadi bukan peniruan terhadap cara yang telah digunakan orang lain.

Bagaimana menulisnya? Caranya tidak berbeda jauh dengan menulis artikel, feature dan lainnya. Hanya saja, gaya dan bahasanya lebih santai. Lebih bersahabat. Lebih penuh imajinasi. Dan lebih penuh suasana.

Sekali lagi, esei atau kolom, termasuk artikel bisa ditulis oleh siapa pun. Jadi, Anda tak perlu jadi wartawan, kalau hanya ingin menulis kolom arau esei, termasuk artikel. ***                                            (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

Prof. Dr. Sri-Edi Swasono, Ketua Umum Majelis Luhur Tamansiswa : Persatuan, Kebangsaan dan Integrasi Nasional

KEMERDEKAAN Indonesia bukan tanpa wujud, kemerdekaan Indonesia berwujud keindonesiaan, yang terbentuk oleh berbagai doktrin. Doktrin …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *