Jumat , 28 April 2017
Beranda » Seni & Budaya » Mencari Format Reneisance Jawa

Mencari Format Reneisance Jawa

The School of Athens (Ft: net)

 

PRAGMATISME meminggirkan moral luhur nilai budaya adiluhung Jawa, hingga semakin pudar.  Dalam proses meng-Indonesia dari kebhinekaan unsur-unsur terjadi pergolakan kultur dan peradaban masing-masing unsur. Dalam proses tersebut, Jawa mengalami ‘gegar budaya’ paling besar guncangannya.

Keadiluhungan nilai peradaban Jawa pudar, nyaris tidak dijadikan acuan moral masyarakat Jawa sendiri. Moral luhur terdesak pragmatisme sekedar mempertahankan hidup. Akibatnya menghambat tercapainya ‘bangunan sistem kemasyarakat yang diamanatkan konstitusi Negara Kesatuan republik Indonesia sebagaimana termaktub dalam Pembukaan UUD 1945. Dalam membangun optimisme masa depan bangsa, diperlukan sosialisasi wawasan kebangsaan dan internalisasi nilai-nilai Pancasila kepada seluruh komponen bangsa. Disamping perlunya memajukan perekonomian dan sistem politik. Oleh karena itu diperlukan pula pembangunan kultur dan peradaban yang memadai untuk tumbuh kembangnya sistem ekonomi dan sistem politik tersebut dalam koridor moral yang berlandaskan pada nilai-nilai Pancasila serta cita-cita luhur diberdirikannya Indonesia.Pembangunan kultur budaya dan peradaban bangsa memerlukan upaya penggalian kembali nilai luhur masing-masing kultur dan peradaban, unsur yang tergabung menjadi Indonesia. Nilai-nilai luhur kultur dan peradaban Jawa, salah satu yang perlu digali dan diberdayakan sebagai persembahan. Diperlukan gerakan mendorong masyarakat Jawa  melakukan  renaissance peradabannya sendiri guna dijadikan acuan moral dalam berintegrasi menjadi Indonesia.

Didorong keinginan membangun optimisme masa depan , kita semua diajak  menggerakkan renaissance peradaban dan kebudayaan Jawa sekaligus membangun jaringan sosialisasi wawasan kebangsaan dan internalisasi Pancasila. Diperlukan kegiatan mengampu berdirinya paguyuban Jawa yang menjalin kerjasama dengan pemerintah- swasta untuk mengupayakan bangkitnya kesadaran membangun jaringan sosialisasi wawasan kebangsaan dan internalisasi nilai-nilai Pancasila. Diupayakan menghimpun naskah literatur Jawa dan wawasan kebangsaan serta internalisasi Pancasila, menerbitkan dan mendistribusikannya kepada masyarakat. Semuanya ini ditujukan membangun moralitas budi luhur dalam kehidupan bermasyarakat  berbangsa dan bernegara. Disamping itu juga dimaksudkan membangun ketangguhan idiil bangsa Indonesia secara berkesinambungan dalam menghadapi perubahan nilai peradaban manusia.

Laku budaya Jawa merupakan tuntunan teori-praktek menjalani hidup ber-aras keber-Ketuhanan, keharmonisan semesta alam dan keberadaban  umat manusia yang berlandaskan falsafah “Sangkan paraning dumadi’ dan “Ha memayu hayuning bawana’. Perlu dikaji pelaksanaan dan praktek dalam masyarakat tentang munculnya  paguyuban-paguyuban . Kegiatan pengkajian diharapkan menumbuhkembangkan laku budaya Jawa bernuansa spiritual, magis, mistis dan kosmis agar diberdayakan memberikan suasana batin warga masyarakat yang tenteram, damai, rukun dan penuh persaudaraan. Dengan begitu bisa mengoperasikan kembali kearifan adab Jawa yang lebih mengutamakan keharmonisan hubungan antar manusia maupun hubungan manusia dengan alam.

Dari aspek sosial budaya, laku budaya Jawa menjadi wahana kondusif lintas agama bagi warga masyarakat, sehingga paguyuban dimungkinkan dijadikan perekat warga masyarakat dalam  melaksanakan kegiatan sosial budaya, seperti pendidikan budi pekerti, seni dan sejenisnya. Mengkaji dan menggali kembali nilai luhur peradaban Jawa. Membangun dan memperkokoh kegotongroyongan masyarakat. Di sisi ekonomi dengan laku budaya dimungkinkan kerjasama dengan pihak-pihak tertentu untuk pemberdayaan ekonomi rakyat guna mewujudkan kesejahteraan rakyat.Dalam aspek politik, laku budaya wujud tempat berkumpulnya warga masyarakat dalam ikatan kultur Jawa. Sedang sejarah peradaban Jawa terbukti merekatkan warga berinteraksi dengan berbagai kultur dan peradaban pendatang dengan damai. Melalui laku budaya ditanamkan wawasah kebangsaan dan internalisasi nilai-nilai Pancasila. Lebih mudah membangun kesadaran bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang muaranya berupa ketangguhan bangsa dalam berbagai aspek kehidupan. Diharapkan munculnya kesantunan berpolitik, moralitas luhur serta dedikasi tinggi terhadap bangsa. Juga bakal lahir tokoh-tokoh pemimpin tangguh berbudi luhur. Kesinambungan generasi ke generasi soal wawasan kebangsaan Indonesia dan nilai-nilai Pancasila bisa terjaga. Sejarah membuktikan Jawa pernah berjaya dalam peradaban, maka bukan suatu yang tidak mungkin hal itu bisa dicapai lagi. Semboyannya “Sura dira jaya, jayaningrat lebur dening pangastuti”.

 

 Sugeng Wiyono Al, Pelaku Budaya tinggal di Bangunjiwa

Lihat Juga

Lagu Puisi, Jalan Hidup Untung Basuki Di Tembi

Sastra Bulan Purnama edisi 67, yang akan diselenggarakan Selasa, 11 April 2017, pkl. 19.30 di …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *