Senin , 26 Juni 2017
Beranda » Peristiwa » Bung Karno dalam Wawancara Imajiner (2) : “Langkah Guntur ke Politik Dijegal”

Bung Karno dalam Wawancara Imajiner (2) : “Langkah Guntur ke Politik Dijegal”

Bung Karno (Ft: net)

 

BUNG Karno seperti sedang menerawang sesuatu. Barangkali ia sedang mencoba membayangkan lagi bagaimana wajah Suharto, serta wajah Habibie, yang sepertinya masih asing bagi dirinya. Mungkin ia sedang mengumpulkan berbagai dokumentasi dalam ingatan dan kenangannya tentang masa-masa terakhir dirinya sebagai presiden, sebagai Pemimpin Besar Revolusi, terutama yang berkaitan dengan Suharto yang menggantikannya sebagai presiden.

Setelah beberapa saat terdiam, ia pun lalu mengarahkan pandangannya ke saya. “Maaf…maaf, emosiku sedang terbawa ke masa lalu. Baik, sekarang apa yang kau tanyakan lagi? Oh iya, tadi aku diminta untuk berkomentar tentang Suharto dan penggantinya Habibie itu, kan? Baik-baik, walau sekarang yang jadi presiden itu Jokowi….ya..ya…Jokowi atau JokoWidodo, tidak ada salahnya juga kalau aku bicara sedikit tentang Suharto dan Habibie itu. Nah, silakan, bagaimana pertanyaannya,” kata Bung Karno kemudian.

 

T: Setelah menyatakan berhenti, Presiden Suharto di bulan Mei 1998 itu juga menyerahkan jabatan presiden kepada BJ Habibie yang sebelumnya adalah wakil presiden. Bagaimana sesungguhnya penilaian Bung terhadap BJ Habibie saat ia menjadi presiden ketiga RI menggantikan Suharto?

 

BK: Baik, aku bicara tentang Habibie dulu. Sesungguhnya, aku belum begitu kenal dengan BJ Habibie. Jadi aku belum begitu tahu secara persis seberapa besar kemampuannya saat menjadi presiden itu. Tapi, ketika itu aku terus mengamati sepakterjang pemerintahan Habibie selama setahun lebih. Aku tidak ingin mengomentari pendapat-pendapat banyak pihak yang kala itu menyatakan bahwa sebenarnya Habibie itu hanya merupakan kepanjangan tangan dari pemerintahan Orde Baru yang dulu dipimpin Harto. Juga tidak ingin mengomentari berbagai kerusuhan yang ketika itu terjadi di bumi Tanah Air tercinta itu. Bahkan berbagai peristiwa yang membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa serta ancaman disintegrasi bangsa yang sesungguhnya sangat membuat hatiku luka dan pedih itu, juga tidak ingin kukomentari atau kutanggapi terlalu jauh.

 

T: Silakan. Bung. Bung bebas untuk menentukan sikap atau pilihan. Mana yang menurut Bung layak dikomentari, mana yang tidak. Mana yang ingin Bung katakan, mana yang tidak. Saya siap mendengarkannya.

 

BK: Tentang Habibie itu, yang sangat mengenaskan hatiku, bahwa sikap Habibie terhadap PDI-Perjuangan yang dipimpin puteriku, Megawati, ternyata tidak berubah jauh dari sikap yang telah ditunjukkan oleh Harto. Harto dulu tampaknya begitu takut jika melihat anak-anaknya Sukarno tampil di panggung politik. Aku tidak tahu persis, kenapa Harto bisa bersikap seperti itu? Dia benar-benar menganggap anak-anakku itu sebagai momok atau hantu yang sangat menakutkan dan perlu dijauhi. Apa dia takut, anak-anakku, apakah itu Guntur,Megawati, Rachmawati, Sukmawati, Guruh, Kartika dan yang lainnya itu akan merebut kekuasaan darinya? Apa Harto takut, anak-anakku bisa mempengaruhi rakyat untuk melawan dan membangkang kepada kebijakan-kebijakan politik pemerintahannya? Sepertinya begitu. Sepertinya ia memang takut anak-anakku disukai oleh rakyat. Aku teruskan ya ngomongnya?

 

T: Silakan Bung. Silakan diteruskan.

 

BK: Guntur misalnya. Putera tertuaku ini semula sempat ingin terjun ke gelanggang politik. Tapi kemudian, keinginan dan langkahnya untuk terjun ke gelanggang politik itu telah dijegal oleh orang-orang di kekuasaan. Syukurlah, beberapa waktu menjelang akhir kekuasaannya, Harto sedikit memberikan kelonggaran dan kebebasan kepada anak-anakku untuk terjun ke politik. Karena itulah kemudian Megawati dan Guruh bergabung ke PDI. Namun, begitu Megawati berhasil menjadi Ketua Umum DPP PDI, kekuasaan kembali berulah. Pemerintahan Orde Baru yang dipimpin Harto kembali dicekam ketakutan bahwa partai yang dipimpin Megawati itu kelak akan menjadi besar. Bila PDI berkembang menjadi partai besar, tentu hal itu dipandang sebagai suatu ancaman yang membahayakan kekuasaan. Karena itulah, tidak ada pilihan lain, selain memporak-porandakan kekuatan PDI dan menyingkirkan Megawati dari tampuk pucuk kepemimpinannya. Lalu, dilakukanlah berbagai cara untuk menyingkirkan Megawati dari kepemimpinan PDI dan sekaligus memecahbelah PDI, sehingga partai itu tidak menjadi besar.

 

(Bung Karno diam sesaat. Sepertinya ia sedang menyusun kata-kata yang ingin dikatakan berikutnya. Setelah menghela napas agak panjang, ia pun kembali melanjutkan kata-katanya.)

 

BK: Ketakutan dan kekhawatiran Harto terhadap Megawati ternyata dilanjutkan oleh Habibie. Ketika Megawati dengan sikap pantang menyerah dan tak kenal putus asa itu  terus membangun partai yang dipimpinnya, Habibie pun terus berusaha menghalangi dan menghadangnya dengan berbagai cara. Pemerintahan Habibie masih tetap mengecap kepemimpinan Megawati di PDI sebagai kepemimpinan yang liar. Mereka masih tetap menyatakan kepemimpinan PDI yang sah itu adalah pimpinan Surjadi. Padahal, Kongres IV PDI di Medan yang mendudukkan Surjadi dkk itu jelas-jelas atau secara terang-terangan merupakan bentuk rekayasa untuk menyingkirkan Megawati.

Terus terang aku kagum kepada Megawati. Sebagai seorang wanita, ia tetap tampak tegar menghadapi semua hadangan dan hambatan yang mengganjal langkah politiknya. Megawati benar-benar menunjukkan jati dirinya sebagai anak Sukarno. Ia benar-benar mewarisi jiwa dan semangatku dalam berjuang yang tak kenal putus asa. Seperti halnya diriku dulu, Megawati juga tidak pernah putus asa dan pantang menyerah dalam memperjuangkan prinsip-prinsip politiknya. Hingga hasilnya seperti sekarang ini. *** (Sutirman Eka Ardhana/bersambung)

Lihat Juga

Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono, SS, MA, Guru Besar Antropologi UI, dan mantan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI (2004-2009) : Antropologi dan Cita-cita Kemerdekaan

Cita-cita kemerdekaan nasional Indonesia yang digariskan oleh para pendiri negara adalah: “…membentuk suatu Pemerintahan Negara …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *