Jumat , 28 April 2017
Beranda » Musik » Yogya Kini Kota Komunitas Tembang Kenangan

Yogya Kini Kota Komunitas Tembang Kenangan

Anggota Komunitas Melody ketika tampil bernyanyi di Jogja TV beberapa waktu lalu. (Ft: ist)

 

DALAM beberapa tahun terakhir, di Yogyakarta bermunculan komunitas-komunitas penggemar tembang kenangan, yakni tembang atau lagu-lagu era 60-an, 70-an, 80-an dan 90-an. Memang belum ada data pasti berapa jumlah komunitas penyuka lagu-lagu nostalgia yang ada di Yogya. Tapi diperkirakan jumlahnya sudah mencapai puluhan. Karena hampir di seluruh kampung, maupun di lembaga-lembaga atau instansi tertentu, terdapat komunitas penyuka atau pecinta tembang kenangan tersebut.

Keberadaan komunitas pencinta tembang kenangan yang banyak itu pun disambut gembira oleh sejumlah pemilik resto, kafe, warung-warung kopi, warung-warung bakmi, bahkan sampai warung angkringan dengan menyediakan sarana bernyanyi. Resto, kafe dan warung-warung itu menyediakan player organ, yang memberikan kesempatan kepada para pengunjungnya untuk menyanyi.

Beberapa stasiun radio, bahkan stasiun televisi lokal juga menyediakan waktu yang luas kepada komunitas-komunitas pecinta tembang kenangan itu untuk mengekspresikan kegemarannya menyanyi. Stasiun-stasiun radio swasta yang memberikan kesempatan luas kepada komunitas pecinta tembang kenangan itu di antaranya Radio Reco Buntung, Radio Suara Kenangan, Radio Suara Istana, Radio Kartika Indah Suara dan lain-lainnya. Jogja TV juga tidak ketinggalan dalam menyemarakkan tembang-tembang kenangan, dengan menyediakan program khusus kepada pecinta musik termasuk komunitas tembang kenangan yang disiarkan setiap Jumat pagi.

“Yogya kini telah menjadi kota komunitas tembang kenangan. Di mana-mana ada komunitas tembang kenangan. Dan, hampir tiap hari, baik siang atau malam, di Yogya ada kegiatan komunitas tembang kenangan,” ujar Ny. Watiek Kusuma, seorang ibu rumahtangga pecinta tembang kenangan yang tergabung di dalam komunitas Melody, pekan lalu. Melody merupakan komunitas tembang kenangan yang bermarkas di kampung Nyutran, Yogyakarta, yang dipimpin Iman Santosa, pensiunan penyiar dan kemarawan TVRI Yogyakarta.

Menurut Ny. Watiek, kesukaannya menyanyi sudah ada sejak muda. Dan, kesukaan itu terus dipeliharanya hingga kini, di saat dirinya sudah berstatus seorang nenek. “Menyanyi itu membuat hati terasa nyaman, tenteram, senang, dan bahagia. Dan yang pasti menyanyi itu akan membuat hidup terus ceria, bersemangat, dan seperti menunda tanda-tanda ketuaan,” kata Ny. Watiek Kusuma yang oleh kawan-kawan di komunitas tembang kenangannya dijuluki nenek muda. Ya, sepintas melihat penampilannya yang enerjik, memang tak percaya kalau dia sudah berstatus seorang nenek.

Pernyataan Ny. Watiek Kusuma itu diperkuat oleh Ny. Sri Rudyantini yang menyatakan hari-harinya selalu diisi dengan aktivitas menyanyi di sejumlah tempat.

“Boleh dibilang hampir setiap hari saya ikut aktivitas menyanyi di sejumlah komunitas. Kalau Senin, Rabu dan Sabtu saya sering menyanyi di komunitas Melody. Hari-hari lainnya menyanyi di komunitas yang lain. Setidaknya saya terlibat lebih dari lima komunitas tembang kenangan. Di antaranya Melody, CNN dan lainnya. Tidak jarang, pagi menyanyi di komunitas Melody, sorenya menyanyi di komunitas yang lain,” jelas Ny. Sri Rudyantini.

“Ya, di usia-usia tua ini, maklum saya pensiunan, saya harus menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas yang membuat nyaman dan menyenangkan, seperti menyanyi dan juga mengaji. Di samping rajin ikut menyanyi di berbagai komunitas, saya juga menyempatkan diri untuk rajin ikut acara-acara pengajian. Menyanyi dan mengaji itu membuat hidup menjadi tetap bersemangat. Menyanyi itu untuk keceriaan dan membangun semangat hidup di dunia, sedang mengaji itu untuk kehidupan di akhirat nanti,” tambah Ny. Sri Rudyantini, yang di masa mudanya saat menjadi mahasiswi Fakultas Kedokteran di Solo tahun 70-an awal merupakan pengagum berat grup musik Terencem itu lagi. Sekadar informasi, Terencem merupakan grup musik semi slow rock kebanggaan kota Solo di awal tahun 70-an.

 

Terapi Kesehatan

Tak hanya Ny. Watiek Kusuma dan Ny. Sri Rudyantini saja yang menyatakan menyanyi itu membuat hidup menjadi cerita dan bersemangat. Ny. Nana Zulfan, anggota komunitas Melody lainnya juga menyatakan hal yang sama. Bahkan, menurutnya, menyanyi tak hanya sekadar membuat hidup menjadi ceria dan bersemangat, tetapi juga bisa dijadikan salah satu terapi kesehatan agar hidup bisa sehat.

“Saya pernah membaca artikel di sebuah majalah, yang menyatakan menyanyi itu bisa dijadikan terapi kesehatan. Sederhana saja, dengan menyanyi bisa membuat kerongkongan atau pernapasan menjadi baik. Menyanyi akan membuat hati senang, ceria dan gembira. Kondisi seperti ini akan menyehatkan bagi tubuh manusia. Membuat hidup bersemangat terus. Dan, kebetulan sejak muda dulu saya memang suka menyanyi. Sampai kini, kesukaan menyanyi itu saya pupuk terus,” urai Ny. Nana Zulfan.

Apa yang dikemukakan Ny. Watiek Kusuma, Ny. Sri Rudyantini dan Ny. Nana Zulfan juga dibenarkan oleh anggota-anggota komunitas Melody lainnya, seperti Ny. Heru Kartono, Ny. Rumijati, Ny. Djoko Purwanto, Ny. Yanti Berliant, Ny. Hank, Ny. Ken Utami, dan lainnya. Menurut mereka, menyanyi memang bisa menyehatkan. *** (Sutirman Eka Ardhana)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *