Senin , 26 Juni 2017
Beranda » Pendidikan » Jurnalistik Dakwah, Sejarahnya Dulu (2)

Jurnalistik Dakwah, Sejarahnya Dulu (2)

Salah satu surat dakwah Rasulullah SAW. (Ft: net)

 

IV

Surat-surat dakwah dari Rasulullah SAW itu diterima dengan berbagai tanggapan dan reaksi. Ada yang menerimanya dengan senang hati, lalu memenuhi ajakan untuk meyakini kebenaran Islam dengan mengakui tiada Tuhan selain Allah serta Muhammad sebagai Rasul utusan Allah. Ada yang menerimanya dengan sikap menyenangkan dan baik, tapi belum menerima sepenuhnya kebenaran Islam. Serta ada yang menerimanya dengan murka, seraya meremehkan ajakan untuk meyakini kebenaran Islam itu.

Para penerima surat yang terpanggil dan terbuka hatinya untuk menerima seruan serta ajakan menerima kebenaran Islam itu di antaranya Raja Habsyi An Najasyi Al Ahsham, Raja Bahrain Al Mundzir bin Sawa, pemimpin Banu Khuzaah Rifaah bin Ali dan Raja Uman Jaifar bin Julunda serta adiknya Abdan bin Julunda.

Surat dakwah untuk Raja Habsyi An Najasyi Al Ahsham itu dibawa oleh Amir bin Umayyah. Raja An Najasyi dengan senang hati dan gembira menerima kedatangan Amir bin Umayyah yang membawa surat dari Rasulullah SAW. Dengan penuh hormat, An Najasyi membalas surat Rasulullah tersebut. Dalam surat jawabannya ia menyatakan dengan tulus tentang kesediaan dan keyakinannya terhadap kebenaran Islam.

Surat dakwah untuk Rifaah bin Ali sebagai pemimpin Banu Khuzaah sebenarnya ditujukan Rasulullah SAW kepada seluruh kaumBanu Khuzaah. Rifaah bin Ali sebenarnya sudah terlebih dulu menyatakan keimanannya kepada Islam. Bahkan ia sendiri yang datang kepada Rasulullah SAW untuk menyatakan ke-Islamannya itu.

Rifaah bin Ali lalu menyampaikan dan menyebarluaskan surat dakwah dari Rasulullah itu kepada kaumnya yang ternyata mendapat sambutan sangat menggembirakan. Ajakan dari Rasulullah untuk menerima kebenaran Islam telah disambut penuh hangat oleh segenap kaum Banu Khuzaah. Seperti pemimpinnya, kaum Banu Khuzaah pun kemudian beramai-ramai menyatakan diri memeluk Islam.

Sedang kepada Raja Uman Jaifar bin Julunda dan adiknya, Abdan bin Julunda, Rasulullah SAW mengutus sahabat Amr Ibnul Ash untuk menyampaikan surat dakwah darinya. Setelah membaca surat dari Rasulullah dan berdialog panjang lebar dengan Amr Ibnul Ash mengenai seberapa jauh kebenaran dari ajaran Islam yang dibawa Rasulullah, Jaifar dan adiknya pun lalu menyatakan kesediaannya untuk menerima dan memeluk Islam.

Surat Rasulullah SAW kepada Raja Uman itu berisi demikian:

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad bin Abdillah ditujukan kepada Jaifar dan Abdan, kedua-duanya putera Al Julunda.Salam sejahtera semoga dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk. Amma ba’du.

            Sesungguhnya aku mengajak kamu berdua dengan ajakan Islam. Islamlah kalian, niscaya kalian sejahtera. Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada umat manusia seluruhnya untuk mengingatkan orang yang hidup dan pastilah ketetapan itu menimpa orang-orang yang kafir. Sesunggguhnya apabila kalian mengaku Islam, niscaya aku mengangkat kalian sebagai raja. Tetapi apabila kalian tidak mau memeluk agama Islam, maka kerajaanmu itu pasti musnah dari padamu. Kudaku akan datang di halaman kalian dan menanglah kenabianku mengalahkan kerajaan kalian.

Mereka yang murka atau marah ketika menerima surat dari Rasulullah SAW itu di antaranya Raja Persi yang bernama Kisra Abrawaiz. Surat Rasulullah untuk Raja Persi itu dibawa sahabat Abdullah bin Hudzafah As Salmi.

Begitu membaca surat dari Rasulullah itu, Raja Kisra pun seketika meledak emosinya. Ia sangat murka. Ia merasa surat dari Rasulullah itu telah merendahkan atau meremehkan kedudukannya sebagai seorang raja di Persi. Surat Rasulullah itu dipandangnya merupakan bentuk pelecehan atau penistaan terhadap dirinya sebagai raja berdaulat, terpandang dan dihormati di Persi. Lalu, dengan congkak dan emosi yang meluap-luap, surat dari Rasulullah SAW itu seketika dirobek-robeknya di hadapan sahabat Abdullah bin Hudzafah As Salmi. Sebagai seorang tamu yang menghormati tuan rumah, sahabat Abdullah bin Hudzafah As Salmi hanya diam menyaksikan surat Rasulullah yang diserahkannya itu telah diremas-remas dan dirobek-robek oleh Raja Kisra. Walau sebenarnya hatinya menggelegak menahan amarah.

Surat Rasulullah SAW yang diterima dengan penuh rasa amarah oleh Raja Persi Kisra Abrawaiz itu berisi demikian:

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad Rasulullah, ditujukan kepada Kisra Abrawaiz, Raja Persi. Salam sejahtera semoga dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk, beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Tuhan yang wajib disembag dengan haq kecuali Allah Yang Maha Tunggal, tidak ada sekutu bagi-Nya dan bahwa sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

            Aku mengajak engkau dengan ajakan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Tinggi. Maka sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada umat manusia seluruhnya, dengan tugas agar aku mengingatkan kepada orang yang hidup akan ketetapan siksa bagi orang-orang kafir. Islamah, niscaya engkau sejahtera. Bila engkau menolaknya, maka sesungguhnya di atas pundakmulah dosa kemajusiaan itu.

Dalam murkanya Raja Kisra Abrawaiz memerintahkan gubernurnya di Yaman, Badzan, untuk mengirimkan utusannya mendatangi Rasulullah serta membawa atau memaksa Rasulullah guna dihadapkan kepadanya. Akan tetapi, yang terjadi sungguh sesuatu yang sangat menyakitkan bgagi Raja Kisra. Gubernur Badzan bukannya membawa Rasulullah untuk dihadapkan ke Raja Kisra, tetapi justru yang terjadi sebaliknya. Gubernur Badzan justru menyatakan keimanannya terhadap Islam dan menerima kebenaran ajaran Islam yang dibawa Rasulullah.

 

V

Ismail Hamid dalam Arabic and Islamic Literary Tradition menyatakan tentang kehebatan berdakwah melalui pidato (al-khitabah) dan penulisan surat (ar-risalah) adalah sumber komunikasi sejak awal perkembangan dan kebangkitan Islam.

Sepeninggal Rasulullah Muhammas SAW, metode dakwah melalui tulisan atau penulisan surat dakwah terus dikembang-luaskan oleh para sahabat Nabi, pemimpin dan cendekiawan Islam. Bahkan tulisan-tulisan itu mengalami kemajuan-kemajuan menggembirakan, tidak saja dalam gaya penulisannya, tapi juga keindahan bahasa serta ragam bentuknya.

Tidak dapat disangkal lagi bahwa Jurnalistik Dakwah atau dasar-dasar jurnalistik dalam Islam sudah dirintis sejak permulaan Islam oleh Rasulullah SAW.

Bila setiap pembuat beritan dapat disebut sebagai wartawan atau jurnalis, maka nama sahabat-sahabat Nabi seperti Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, Anas, Ibnu Umar dan Aisyah (isteri Rasulullah) tentulah layak pula mendapat sebutan wartawan. Karena mereka sangat berjasa dalam mencatat setiap aktivitas kenabian Nabi Muhammad SAW.

Dari para sahabat, catatan-catatan yang berkaitan dengan aktivitas kenabian Rasulullah SAW itu diberikan kepada para tabi’in. Para tabi’in lalu memberikannya pula kepada perawi-perawi Hadist. Berkat kerjasama para sahabat, tabi’in dan perawi-perawi Hadist inilah kemudian lahir karya-karya jurnalistik Islam yang terkenal dan langgeng hingga hari ini.

Semenjak itu jurnalis-jurnalis Islam terus bermunculan. Bersamaan dengan itu karya-karya jurnalistik Islam pun berkembang pesat. Di antara para jurnalis Islam kenamaan itu dapat disebut nama-nama seperti Imam Syafi’i, Maliki, Ahmad bin Hambali, Hanafi, Abu Dawud, Al Kindi, Al Farabi, Ibnu Sina, Imam Ghazali, Ibnu Rushd, Jamalunddin al-Afghani, Muhammad Abduh dan Muhammad Rasyid Ridla, serta sejumlah nama besar lainnya lagi. *** (Sutirman Eka Ardhana)

 

*(Lebih jelasnya lihat: Sutirman Eka Ardhana, Jurnalistik Dakwah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995).

Lihat Juga

Prof. Dr. Sri-Edi Swasono, Ketua Umum Majelis Luhur Tamansiswa : Persatuan, Kebangsaan dan Integrasi Nasional

KEMERDEKAAN Indonesia bukan tanpa wujud, kemerdekaan Indonesia berwujud keindonesiaan, yang terbentuk oleh berbagai doktrin. Doktrin …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *