Jumat , 28 April 2017
Beranda » Pariwisata » Magelang Tak Hanya Punya Candi Borobudur

Magelang Tak Hanya Punya Candi Borobudur

Candi Asu di Kabupaten Magelang. (Ft: net)
NAMA Candi Borobudur yang terletak di Kabupaten Magelang itu sudah mendunia. Candi Borobudur yang sudah ditetapkan oleh UNESCO (Organisasi PBB untuk bidang Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan) sebagai salah satu warisan budaya dunia (world culture heritages) itu memang telah menarik minat banyak para wisatawan dunia untuk datang melihat pesona keindahan dan kemegahannya.

Borobudur memang sudah punya nama besar dalam khasanah kepariwisataan dunia. Dalam khasanah budaya, Borobudur pun telah memiliki nama besar. Borobudur telah membuktikan kepada dunia bahwa Indonesia memiliki sejarah peradaban budaya yang sangat tinggi. Karena nama besarnya itulah, maka Candi Borobudur telah menjadi ikon pariwisata Kabupaten Magelang, bahkan juga ikon pariwisatanya propinsi Jawa Tengah.

Sejauh ini hanya ada dua candi yang populer namanya di Kabupaten Magelang, Candi Borobudur dan Candi Mendut. Sesungguhnya, kekayaan budaya dan kekayaan peninggalan bersejarah di Kabupaten Magelang tidak hanya Candi Borobudur dan Mendut saja. Di wilayah ini masih terdapat sejumlah candi lainnya, yang merupakan peninggalan sisa-sisa kebesaran budaya masa lampau.

 

Candi Ngawen

Candi Ngawen merupakan salah satu kekayaan peninggalan budaya yang dimiliki Magelang selain Borobudur dan Mendut. Usia Candi Ngawen yang terletak sekitar lima kilometer sebelah timur Candi Mendut itu jauh lebih tua dibanding Candi Borobudur. Candi Ngawen dibangun pada abad ke-8. Penjelasan tentang tahun pembuatan candi ini tertera pada Prasasti Karangtengah yang berangka tahun 824 Masehi.

Daya pesona candi Buddha ini terletak pada keunikan arsitekturnya. Salah satu keunikan itu adanya arca singa yang pada mulutnya terdapat aliran air. Diperkirakan, ketika itu dari mulut arca singa tersebut mengalir air bersih yang dipergunakan untuk mensucikan diri.

 

Candi Asu

Di kawasan lereng Merapi, tepatnya di Kecamatan Dukun, sekitar 10 kilometer sebelah tenggara Candi Ngawen, terdapat tiga bangunan candi peninggalan budaya Hindu. Ketiga candi itu masing-masing Candi Asu, Candi Lumbung dan Candi Pendem.

Bentuk bangunan, arsitektur dan ukuran ketiga candi yang letaknya berdekatan ini relatif sama. Bentuknya bujur sangkar. Di dalam ketiga candi ini terdapat lubang sumur sedalam dua meter. Dari Prasasti Kurambitan I dan Prasasti Kurambitan II diketahui jika ketiga candi ini dibangun pada tahun 869 Masehi. Kedua prasasti bersejarah itu ditemukan di dekat Candi Asu.

 

Candi Gunung Wukir

Di Desa Kadiluwih, Kecamatan Salam, yang berbatasan dengan wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, terdapat juga candi yang bentuk bangunannya unik dan menarik. Bangunan candi ini terkesan megah, karena bentuknya yang menyerupai altar. Menariknya, di tengahnya terdapat yoni (lambang wanita) berukuran besar. Selain yoni, di sekitar candi juga terdapat sejumlah lingga (lambang pria). Tidak hanya itu. Di candi ini juga terdapat arca lembu wanita.Di dekat situs Candi Gunung Wukir ini dulu diketemukan Prasasti Canggal yang berangka tahun 732 Masehi atau 654 Saka.

Sayang candi-candi tersebut kalah populer dari Candi Borobudur dan Mendut. Semestinya pemerintah, baik di tingkat kabupaten maupun propinsi, menaruh perhatian yang besar terhadap keberadaan candi-candi peninggalan sejarah dan budaya masa lalu selain Borobudur dan Mendut itu. Sudah saatnya asset-asset berharga ini diangkat dari keterpendamannya. Dan, sudah saatnya dikenalkan, bahwa Magelang tidak hanya punya Borobudur dan Mendut, tapi juga punya Candi Ngawen, Candi Asu, Candi Lumbung, Candi Pendem dan Candi Gunung Wukir. *** (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

Mencari Format Reneisance Jawa

  PRAGMATISME meminggirkan moral luhur nilai budaya adiluhung Jawa, hingga semakin pudar.  Dalam proses meng-Indonesia …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *