Jumat , 28 April 2017
Beranda » Pariwisata » Malioboro, Mungkinkah Kembali ke Imajinasi Seniman?

Malioboro, Mungkinkah Kembali ke Imajinasi Seniman?

MALIOBORO yang mulai bulan April tahun lalu ditata menjadi kawasan semi pedestrian, dulu sempat melegenda sebagai tempat para seniman mencari inspirasi, berkumpul, dan berdikusi. Tapi kemudian, lebih 35 tahun, tak ada lagi tempat atau kesempatan bagi para seniman untuk mencari inspirasi karyanya di Malioboro, seperti yang sempat terjadi di tahun-tahun 50-an, 60-an sampai awal-awal 70-an. Di tahun-tahun itu banyak dijumpai para seniman lukis mencari obyek lukisannya di Malioboro. Dan, bila malam para pengarang, penyair dan semacamnya, menjadikan Malioboro sebagai tempat bertemu, berdiskusi dan berbagi cerita.

Di masa-masa itu banyak nama-nama besar di dunia seni rupa, teater dan sastra lahir di Malioboro. Bahkan di dunia sastra, pada 60-an akhir lahir kumpulan Persada Studi Klub yang merupakan kelompok penulis muda, yang gaung kiprahnya masih terdengar hingga kini. Pendek kata, kala itu Malioboro merupakan lautan imajinasi yang maha luas bagi para seniman.

Sampai akhir tahun 60-an, Malioboro masih merupakan kawasan yang sejuk dan teduh. Pepohonan rindang yang daunnya rimbun menghijau masih banyak tumbuh. Sungguh betapa damai dan menyejukkan berjalan di bawah pepohonan yang dedaunannya menghijau serta mempesona itu. Warna dan irama kehidupan di Malioboro begitu menggoda dan mempesona. Terlebih bagi para seniman. Imajinasi para seniman berkelana dengan bebasnya di Malioboro.

Cobalah simak bagaimana warna dan irama kehidupan di Malioboro yang penuh kesan kala itu melalui puisi “Napasnapas Sepanjang Malioboro” karya penyair Djoko Subagijo, yang dimuat Majalah “Budaja” tahun ke VI edisi Juni 1957.

Djoko Subagijo

NAPASNAPAS SEPANJANG MALIOBORO

I
Pagi lunaklunak merabai teras toko, di jalan
kuda andong deras lewat perempatan,
tercambuk dukanya membusa di mulut tua,
o, derita ini berlangsung sampai mati,
mentari sebentar tenggelam atas kota.

II
Sekali bayangku kabur di kaca toko,
terasam dunia ini makin ramah,
dan dua pengemis cilik membuntuti welasku,
datanglah diriku dekat padanya,
mata itu redup, selembut hati yang kubawa.

III
Tengadah wajahwajah menatapi langit mendung,
mentari makin pingsan, orang
tanpa nama berlarian, satu
harapan bisa mimpi indah ini malam,
sepilah hari dihantar pagi.

IV
Kembali aku kenang di jalan pulang,
Malioboro sepanjang Tugu,
gadis bergaun merah darah berkedipan,
teras toko makin sepi,
keretaku lari sepanjang rel ke timur.

Yogyakarta 10-4-1957

Tapi, sesuai hukum alam, tak ada yang abadi di dunia ini. Atas nama kemajuan, pembangunan dan penataan wajah kota, wajah Malioboro pun kemudian berubah. Sejumlah pepohonan penyejuk hilang. Malioboro dibersihkan dari pohon-pohon besar yang semula penuh nuansa pesona itu. Kemajuan teknologi dan perkembangan perilaku serta sikap hidup warganya telah merubah wajah Malioboro dari kesan sejuk dan teduh, menjadi padat, riuh dan menyesakkan dada. Pepohonan sejuk dan menghijau itu telah berganti dengan bangunan kawasan pertokoan yang megah dan tinggi.

Imajinasi para seniman pun tak lagi bisa berkelana secara bebas di Malioboro. Lautan imajinasi di Malioboro itu pun lambat laun mengering. Malioboro tak lagi tempat yang menarik untuk mencari inspirasi, berkumpul dan berdiksusi. Tak ada lagi yang berbincang tentang karya seni rupa, berdiskusi tentang teater dan membahas puisi atau karya sastra lainnya, maupun karya-karya seni lainnya.

Bagi masyarakat luas, keadaan yang berubah seperti itu telah melahirkan beraneka kesan sumbang terhadap Malioboro. Banyak pihak, tidak hanya warga kota, tapi juga para pendatang atau wisatawan yang menanamkan kesan bahwa Malioboro sebagai kawasan padat, semerawut, tidak nyaman, dan kehilangan daya tarik.

Bahkan, tidak sedikit warga Yogya yang seakan dijangkiti trauma ‘enggan’ ke Malioboro, karena di jalan yang melegenda itu tak lagi ditemui kedamaian dan kenyamanan. Malioboro tak lagi memberikan harmoni kehidupan yang indah.

Dapatkah Kembali?
Apa yang ada dan terjadi di Malioboro dalam beberapa dasa warsa terakhir, merupakan cerminan wajah Yogyakarta sekarang ini. Sebagai ‘jantung kota’, maka wajah Malioboro yang lusuh, penuh ketegangan, dan nyaris kehilangan senyuman itu, telah melekat di wajah Yogyakarta secara keseluruhan.

Imej Malioboro yang sejuk, penuh pesona, nyaman dan memiliki beragam daya tarik kini seakan musnah tak tentu rimbanya. Semuanya hanya tinggal kenangan indah atau nostalgia masa lalu. Mereka-mereka yang dulu pernah tinggal di Yogya, dan kini berkunjung kembali tentu akan merasa kecewa bila ingin merasa atau menemukan suasana Malioboro seperti dulu.

Diberlakukannya penataan Malioboro sebagai kawasan semi pedestrian, tentu merupakan kabar yang menarik. Dengan dijadikannya Malioboro sebagai kawasan bagi para pejalan kaki, maka diharapkan kesan ruwet, semerawut, padat dan serba tak nyaman itu akan segera hilang dari Malioboro.

Bila itu semua terwujud. Bila Malioboro kembali menghadirkan rasa nyamannya, segenap warga masyarakat termasuk para seniman tentu akan merasa senang dan lega. Cuma persoalannya, apakah rasa nyaman dengan diberlakukannya semi pedestrian itu akan mengembalikan rasa nyaman Malioboro seperti di tahun-tahun 50-an, 60-an dan 70-an awal itu? Apakah kelak rasa nyaman itu akan mampu menghadirkan kembali keberadaan Malioboro sebagai lautan imajinasi bagi para seniman? Dan, apakah Malioboro akan kembali bisa dijadikan tempat para seniman untuk mencari inspirasi, berkumpul dan berdiskusi?

Jawabannya tentu ada pada diri masing-masing para seniman itu. Sekalipun upaya membuat nyaman Malioboro telah dilakukan, namun suasana, warna dan irama Malioboro seperti yang ada di tahun 50-an, 60-an dan 70-an sepertinya tak mungkin kembali lagi. Malioboro tentu tak bisa lagi dibawa kembali ke masa-masa itu. Jadi para seniman tetap dituntut kepekaan dan kemampuannya untuk beradaptasi dengan warna dan irama Malioboro yang baru lagi. *** (Sutirman Eka Ardhana)

*** Sutirman Eka Ardhana, penulis puisi, cerpen dan novel.

Lihat Juga

Di Balik Lensa Kata Di Tembi

Penyair Dr Novi Indrastuti, Mhum,  sehari-harinya sebagai pengajar di Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *