Jumat , 28 April 2017
Beranda » Pariwisata » Candi Borobudur : Telaga dan Cinta

Candi Borobudur : Telaga dan Cinta

Dengan cinta Rakai Panangkaran atau Pancapana membangun Candi Borobudur. Dengan cinta ia persembahkan karya agung itu kepada Sang Maha Pecipta, kepada Sang Permaisuri terkasih, Dewi Tara, dan kepada segenap rakyatnya. Dengan cinta pula ia berusaha mensejahterakan rakyatnya. Dengan cinta ia membangun peradaban manusia. Dengan cinta ia membangun kejayaan negerinya. Dengan cinta ia memperkenalkan negeri dan bangsanya ke dunia.

Dengan cinta pula Rakai Balitung membangun Mantyasih (Meteseh). Dengan cinta, ia menjadikan daerah Mantyasih sebagai daerah perdikan. Dengan mata cinta, ia melihat jauh ke depan, bahwa Mantyasih nantinya akan menjadi suatu kawasan yang mempunyai arti sangat besar dan penting bagi kehidupan manusia. Dengan gelora cinta, ia minta rakyatnya untuk terus membangun dan membangun.

Cinta adalah cahaya kehidupan. Cinta adalah pelita peradaban. Karena cinta, kehidupan dan peradaban manusia terus berkembang dan mengalami kemajuan dari masa ke masa. Karena cinta manusia terus berlomba membangun jiwanya, membangun semangat, membangun diri dan membangun kehidupannya. Karena cinta manusia berpacu mencapai kemajuan, berpacu meraih prestasi, dan berpeacu menanamkan eksistensi.

Cinta adalah keindahan. Keindahan adalah cinta. Orang yang bijak berulangkali mengatakannya begitu. Memang begitulah kenyataannya. Cinta dan keindahan, dua hal yang tak bisa dipisahkan. Di masa ada cinta, pasti di situ ada keindahan. Di mana ada keindahan, di situ pula ada cinta.

Cinta dan keindahan, dua hal yang senantiasa bergelora dan bersenandung di dada Rakai Panangkaran. Cinta dan keindahan senantiasa bernyanyi di samudera hatinya. Cinta dan keindahan senantiasa membara dalam semangatnya untuk membangun. Cinta dan keindahan, dua hal yang sangat berperan dalam dibangunnya Candi Borobudur, yang kini menjadi candi kebanggaan Indonesia itu.

Konon, suatu petang, ketika matahari hampir tenggelam di balik perbukitan, Rakai Panangkaran sedang duduk memandangi keindahan alam di tepian telaga. Ketika itu ia sengaja ingin menyendiri, tanpa didampingi permaisuri, Dewi Tara. Hanya beberapa pengawal saja yang mengawasinya dari jarak yang tidak terlalu jauh.

Semburat jingga dari matahari senja di balik bukit yang memantul di permukaan telaga begitu indahnya. Bunga teratai yang bermekaran di telaga itu pun bagaikan butiran-butiran mutiara yang disebarkan dari langit. Burung-burung yang beterbangan di atas telaga, melengkapi pesona keindahan itu. Rakai Panangkaran terpesona. Sangat terpesona.

Rakai Panangkaran melihatnya sebagai suatu keindahan yang tiada tara. Keindahan yang alami. Keindahan yang seakan tiada batasnya.Keindahan yang tidak seorang pun bisa memberikannya, kecuali Sang Maha Pencipta Penguasa Semesta. Rakai Panangkaran lalu menghaturkan puja dan sembahnya kepada Sang Maha Pencipta. Setelah itu mendadak ia teringat kepada permaisuri terkasihnya, Dewi Tara.

 

Tanda Cinta

Dalam keheningan hatinya ketika itu, seketika muncul gagasannya untuk membangun sesuatu sebagai tanda cintanya kepada Sang Maha Pencipta, kepada sang permaisuri tercinta Dewi Tara, dan kepada rakyatnya. Ia lalu membayangkan sebuah bangunan indah dan megah, di tengah-tengah telaga. Ia tidak sekadar membayangkan. Tidak sekadar membangun gagasan. Gelora cinta di dadanya telah mewujudkan gagasannya itu menjadi kenyataan. Gelora cinta telah mewujudkan Candi Borobudur yang megah dan tersohor sampai ke belahan dunia mana pun hingga hari ini.

Saya bermalam-malam merenung, seandainya bisa menjaga serta terus menggelorakan semangat cinta dan keindahan yang ada di dada Rakai Panangkaran dan Rakai Balitung itu, betapa indahnya kehidupan kita. Betapa nyamannya. Marilah, kita bangun kota dan kawasan di sekitar kita       dengan cinta dan keindahan. ***  (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan IV : Kebangsaan dalam Kebudayaan

  PERWARA WREDHATAMA, Paguyuban Wartawan Sepuh Yogyakarta, untuk yang ke empat kalinya menyelenggarakan Diskusi Kebangsaan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *