Senin , 26 Juni 2017
Beranda » Pariwisata » Gunung Kemukus antara Ziarah dan Mitos Seks

Gunung Kemukus antara Ziarah dan Mitos Seks

Gunung Kemukus yang berada Desa Pendem, Kecamatan Sumberlawang, atau sekitar 25 km arah utara dari Solo, merupakan salah satu obyek wisata ziarah di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Akan tetapi, ada yang istimewa di kawasan wisata ziarah ini. Gunung Kemukus berbeda dengan yang lain. Tempat ini tak hanya sekadar obyek wisata ziarah, tapi juga tempat berlangsungnya ritual seks.

Tak jelas sejak kapan ritual seks bagi para peziarah di lokasi wisata ziarah ini berlangsung. Tapi yang pasti para peziarah datang ke Gunung Kemukus untuk berziarah ke makam Pangeran Samodra. Dan, yang pasti pula, hingga hari ini para peziarah percaya, setelah berdoa dan menabur bunga di makam Pangeran Samudro, maka mereka harus melakukan hubungan seks dengan pasangan yang didapatkan atau bertemu di situ.

Siapa gerangan Pangeran Samudro? Apakah di zamannya ia seorang penganjur seks bebas? Atau seorang pangeran cinta, sehingga para peziarah menghormati makamnya dengan cara harus melakukan hubungan seks dengan pasangan yang bertemu di lokasi ziarah?

Masyarakat setempat percaya, Pangeran Samudro adalah seorang pangeran atau bangsawan dari Kerajaan Majapahit bahkan ada juga yang menyebutnya sebagai keturunan Dinasti Mataram. Dikisahkan, Pangeran Samodra yang tampan dan perkasa itu jatuh cinta kepada ibu tirinya yang juga muda dan cantik, bernama Dewi Ontrowulan. Ternyata sang ibu tiri juga menanggapi curahan cintanya. Mereka pun kemudian terlibat skandal cinta secara diam-diam. Akan tetapi kemudian kisah hubungan cinta yang tak semestinya itu, sampai juga ke telinga sang Raja, berkat laporan seorang abdi dalem yang sempat mengetahui perselingkungan di dalam keraton tersebut.

Mengetahui perselingkuhan itu, sang Raja pun murka. Pangeran Samudro diusir dari dalam keraton, bahkan haknya sebagai putera raja juga dicabut. Setelah terusir dari istana, sang Pangeran pun pergi mengembara. Dalam pengembaraannya, ia sampai ke Demak yang ketika itu sudah berada di bawah pemerintahan Kerajaan Islam Demak. Di Demak ia memeluk agama Islam dan belajar Islam secara mendalam kepada Sunan Kalijaga. Oleh Sunan Kalijaga ia kemudian diperintahkan untuk berguru kepada Kiai Ageng Gugur di daerah Gunung Lawu.

Selesai berguru dengan Kiai Ageng Gugur, Pangeran Samudro dan pembantu-pembantu setianya bermaksud pulang ke Demak. Dalam perjalanan pulang itu ia selalu berhenti di tempat-tempat yang ramai maupun sepi, untuk istirahat sekaligus menyebarkan agama Islam. Tapi, sebelum sampai di Demak, ia jatuh sakit dan kemudian meninggal dunia. Jasadnya lalu dimakamkan di sebuah bukit. Karena di atas bukit itu pada setiap musim kemarau maupun hujan selalu muncul kukus atau kabut hitam seperti asap, maka bukit itu pun kemudian dikenal dengan nama Gunung Kemukus.

Konon, sepeninggal Pangeran Samudro, Dewi Ontrowulan dirundung kesedihan dan rindu yang dalam. Tak tahan menanggung rindu, ia pun lari dari keraton untuk mencari Pangeran Samudro. Tak jelas bagaimana riwayatnya kemudian, tapi dari kisah yang dipercaya hingga hari ini, Dewi Ontrowulan kemudian sampai ke Gunung Kemukus. Ada bisikan gaib yang membisikinya untuk menemui Pangeran Samudro di bukit itu. Akan tetapi, sesampai di Gunung Kemukus, Dewi Ontrowulan dirundung duka dan kecewa yang teramat dalam. Ternyata sang anak tiri yang menjadi kekasihnya itu telah tiada. Dan, yang ditemuinya hanya gundukan pusara Pangeran Samudro, kekasihnya tersebut.

Untuk membuktikan cinta yang teramat dalam kepada Pangeran Samudro, Dewi Ontrowulan memutuskan untuk tetap tinggal di dekat makam kekasihnya itu. Tak berapa lama kemudian, ia pun meninggal dunia, menyusul sang kekasih, dan dimakamkan di atas bukit yang sama.

 

Ritual Seks

Ada kisah lain perihal meninggalnya Dewi Ontrowulan. Konon, karena kepedihan hatinya yang tak terkira begitu mengetahui Pangeran Samudro sudah meninggal dunia, Dewi Ontrowulan pun berucap di depan makam sang pangeran, “Semoga terbukalah tanah kuburan ini untuk menelan jasadku. Biarlah aku dikuburkan bersama kekasihku.”

Sehabis Dewi Ontrowulan berkata begitu, lalu terdengar suara tanpa wajah. “Sucikanlah dirimu terlebih dahulu, sebelum aku bersedia menerimamu.”

Setelah mendengar suara itu, Dewi Ontrowulan lalu mandi dan membersihkan dirinya di sebuah sendang, tak jauh dari makam Pangeran Samudro. Sendang itu kini dikenal dengan nama Sendang Ontrowulan. Alkisah, seusai dirinya mandi dan mensucikan diri di sendang itu, gundukan tanah makam Pangeran Samudro pun terbuka, dan kemudian seperti ada tenaga yang menarik tubuhnya masuk ke dalam tanah makam. Setelah itu tanah makam tersebut kembali menutup. Dan kemudian, terdengar lagi suara tanpa wajah yang berkata, “Barangsiapa yang mengenang kisah cinta ini, apapun keinginannya akan terkabulkan.“

Tak jelas bagaimana awal mulanya dulu, sehingga kisah Pangeran Samudro dan Dewi Ontrowulan itu seakan telah menjadi dasar pijakan atau semacam pegangan para peziarah untuk melakukan hubungan seks bila keinginan atau doa yang dipanjatkannya ingin dikabulkan. Tapi keyakinan nyeleneh itu tertanam dan diyakini sampai hari ini. Karena itulah setiap malam Jumat Pon dan Jumat Kliwon, Gunung Kemukus didatangi banyak peziarah yang datang dengan berbagai tujuan dan keinginan, dan sudah mempersiapkan dirinya untuk melakukan hubungan seks di sekitar makam Pangeran Samudro dengan pasangan yang bertemu di lokasi ziarah.

Para peziarah percaya, keinginan dan doanya tidak akan terwujud bila tidak melakukan ritual hubungan seks dengan pasangan yang tentu saja bukan muhrimnya itu. Sebelum menabur bunga dan berdoa di depan pusara Pangeran Samudro yang dibantu oleh juru kunci setempat, peziarah biasanya terlebih dulu mandi membersihkan diri di Sendang Ontrowulan. Setelah berdoa di depan makam, barulah kemudian melakukan hubungan seks dengan pasangan yang ditemukan sebelumnya atau sesudahnya.

Hubungan seks itu berlangsung di dalam kamar-kamar sewaan yang memang banyak terdapat di kawasan Gunung Kemukus, atau bahkan tak sedikit pula yang secara vulgar dan berani melakukannya di alam terbuka, di bawah rimbun pepohonan di sekitar makam Pangeran Samudro.

Para peziarah datang dari berbagai kota di Jawa, tak hanya Jawa Tengah dan sekitarnya, tapi juga tak sedikit yang datang dari daerah Jawa Barat. Mereka datang dengan berbagai kepentingan, ada yang ingin jualan atau dagangannya laris, ada yang ingin usahanya sukses, ada ingin kariernya berhasil, ada yang ingin cepat naik pangkat, tambah rejeki, dan lain-lainnya. Akan tetapi, dipercaya pula, semua itu akan tercapai bila telah berziarah dan tentunya juga berhubungan seks dengan pasangan yang sama sebanyak tujuh kali.

Beberapa tahun lalu Pemerintah Kabupaten Sragen sudah pernah melarang praktik ritual seks bebas di Gunung Kemukus tersebut. Tetapi kenyataannya, keyakinan dan kepercayaan peziarah terhadap mitos seks itu jauh lebih kuat ketimbang larangan dari Pemerintah Kabupaten setempat, sehingga ritual seks di Gunung Kemukus tersebut tak pernah hilang hingga hari ini. *** (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono, SS, MA, Guru Besar Antropologi UI, dan mantan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI (2004-2009) : Antropologi dan Cita-cita Kemerdekaan

Cita-cita kemerdekaan nasional Indonesia yang digariskan oleh para pendiri negara adalah: “…membentuk suatu Pemerintahan Negara …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *