Jumat , 23 Juni 2017
Beranda » Pariwisata » Pasar Kembang Pernah Bersih dari Prostitusi

Pasar Kembang Pernah Bersih dari Prostitusi

Untuk mencari jalan keluar bagi persoalan prostitusi di Kota Yogya, Pemda Kodya Yogyakarta (sekarang Pemkot Yogyakarta) di tahun 1974 mengeluarkan Surat Keputusan Walikotamadya Yogyakarta bernomor 166/KD/1974 tentang pendirian komplek resosialisasi WTS (Wanita Tuna Susila) yang berlokasi di Mangunan, Mrican, Umbulharjo, Yogyakarta. Karena letaknya berdekatan dengan kampung Sanggrahan, Kotagede,  tempat ini kemudian populer dengan sebutan Resos Sanggrahan.

Seiring dengan pendirian tempat resosialisasi di Mangunan yang diharapkan jadi tempat pembinaan, penggemblengan dan pendidikan bagi perempuan-perempuan ‘malang’ itu, Pemda Kodya Yogyakarta kemudian menutup semua aktivitas pelacuran di kawasan Pasar Kembang.

Seluruh WTS (sekarang populer dengan sebutan Pekerja Seks Komersial atau PSK), mucikari, calo serta pengelola dunia hitam di Pasar Kembang itu kemudian dipindahkan ke komplek resos Mangunan yang di dalamnya dibangun sarana dan prasarana memadai.

Proses perpindahan itu terjadi di sepanjan tahun 1975 dan 1976. Sedikitnya 20-an induk semang atau germo yang selama bertahun-tahun berkubang dalam kehidupan kelam Pasar Kembang bersama ‘anak asuh’nya pindah mempertaruhkan nasib di resos Mangunan.

Sejak itu juga hanya komplek resos Mangunan yang secara hukum dibenarkan sebagai tempat penampungan para pelacur, dengan ketentuan di resos tersebut mereka mempersiapkan diri sebelum akhirnya kembali dalam kehidupan normal di tengah-tengah masyarakat. Sedangkan tempat-tempat lainnya di luar resos Mangunan, seperti Pasar Kembang dilarang digunakan sebagai ajang prostitusi.

Dengan disediakannya komplek resos Mangunan (Sanggrahan), apakah Pasar Kembang yang melegendaris itu kemudian benar-benar bersih dari praktek-praktek prostitusi? Benarkah aktivitas pelacuran yang bertahun-tahun mewarnai detak dan denyut kehidupan di tempat itu lantas tak terdengar lagi gaung dan iramanya? Benarkah kawasan Pasar Kembang akhirnya berubah menjadi tempat yang bersih dan noda dan mesum? Jawabnya terlihat dari apa yang ada dan terjadi di kawasan itu sekarang ini.

Memang, Pasar Kembang semula sempat sepi dari berbagai bentuk pelayanan seks yang dihargai dengan nilai uang. Tetapi kondisi seperti itu tidak berlangsung lama. Pasar Kembang ternyata kembali semarak dengan aktivitas pelacuran. Dan, penduduk atau warga ‘baik-baik’ di pemukiman itu yang sempat menikmati betapa damai dan menyenangkan hidup jauh dari hiruk-pikuk dunia permesuman, kembali menerima kenyataan pahit.

 

Hanya Dua Tahun

Tidak sampai dua tahun sejak secara resmi ditutup Pemda Kodya Yogyakarta, Pasar Kembang kembali ke status asalnya, yakni kawasan bisnis seks. Praktek pelacuran kembali subur. Perempuan-perempuan yang mencoba memburu impian demi mempertahankan hidup layak kembali berdatangan untuk menyediakan tubuhnya bagi kepuasan para lelaki pencari kenikmatan.

Penginapan atau losmen-losmen ‘kuning’ yang menyediakan kamar-kamarnya untuk perbuatan mesum, dan rumah-rumah bordil kembali marak dan bermunculan. Dalam beberapa tahun terakhir ini, kondisi itu semakin marak, terlebih setelah komplek resos Mangunan secara resmi ditutup oleh Pemda Kodya Yogya di awal era reformasi beberapa tahun lalu.

Di dalam kawasan Pasar Kembang  kini terdapat sedikitnya sekitar seratus lebih PSK, 20-an mucikari dan sekitar 20-an calo. Para PSK atau pelacurnya datang dari berbagai daerah di Jawa.

Warna kehidupan di Pasar Kembang sebagai kawasan hitam tidak hanya terlihat pada malam hari. Siang hari, bahkan sejak pagi, boleh dibilang aktivitas pelacuran juga tampak di sini.

Di kawasan Pasar Kembang ini tidak ada batasan waktu. Tamu-tamu boleh datang sejak mulai matahari terbit sampai larut malam. Tidak ada aturan yang mengikat atau mengekang kebebasan para tamu. Satu-satunya aturan yang mengikat adalah larangan para tamu membuat keributan. ***  (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono, SS, MA, Guru Besar Antropologi UI, dan mantan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI (2004-2009) : Antropologi dan Cita-cita Kemerdekaan

Cita-cita kemerdekaan nasional Indonesia yang digariskan oleh para pendiri negara adalah: “…membentuk suatu Pemerintahan Negara …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *