Jumat , 28 April 2017
Beranda » Pariwisata » Pasar Beringharjo, Dulu Terindah Di Jawa

Pasar Beringharjo, Dulu Terindah Di Jawa

Pembangunan Pasar Beringharjo oleh Nederlandcsh Indishe Beton Maatschappij di tahun 1920-an dilakukan secara bertahap. Tahap pertama membangun sebelas bangunan los beton, sebagai los utama. Pembangunan tahap pertama ini selesai pada 25 Maret 1925. Pembangunan tahap kedua dilanjutkan dengan membangun bangunan kios-kios permanen di bagian selatan, yang selesai di bulan Agustus tahun 1925 itu juga. Bangunan sebalah barat termasuk bagian depan pasar dibangun pada pembangunan tahap ketiga yang dimulai September 1925. Pembangunan tahap ketiga ini memerlukan waktu sekitar setengah tahun. Tepatnya sekitar bulan Maret 1926 pembangunannya selesai.

Sebulan setelah pembangunannya selesai, tepatnya di bulan April 1926 pasar baru di areal bekas pasar rakyat yang kemudian populer dengan nama Pasar Gedhe itu mulai ditempati. Hanya saja sejauh ini tidak ada data maupun dokumen yang jelas tentang bagaimana prosedur masuknya para pedagang ke pasar baru yang indah dan megah itu. Sama sekali tidak jelas, apakah para pedagang tradisional atau pedagang kelas rakyat yang semula bertahun-tahun menempati areal pasar rakyat di lapangan itu juga bisa masuk menjadi pedagang di dalam Pasar Gedhe tersebut.

 

Pasar Termegah

Ketika pembangunan Pasar Beringharjo selesai di tahun 1926, pasar ini oleh penguasa Belanda waktu itu dinyatakan sebagai pasar termegah dan terindah di Jawa. Di kalangan orang-orang Belanda Pasar Beringharjo waktu itu populer dengan sebutan sebagai “Een der mooiste passers op Jawa”. Penilaian sebagai pasar terindah dan termegah, serta termodern pada waktu itu, telah menyebar ke seluruh Jawa, bahkan ke wilayah-wilayah Hindia Belanda lainnya. Oleh karenanya, sejak masa itu Pasar Beringharjo (Pasar Gedhe) telah menjadi tujuan belanja orang-orang Belanda dari kota-kota lain yang datang ke Yogyakarta.

Sejak berubah dari pasar rakyat atau pasar tradisional ke pasar yang lebih representatif, Pasar Gedhe tidak hanya sekadar menjadi tempat belanja dan tempat masyarakat mencari keperluan rumahtangganya sehari-hari, tapi juga telah menjadi semacam “tempat berwisata”. Pasar ini hampir sepanjang hari dipenuhi pengunjung, tidak hanya pengunjung yang memang sengaja datang untuk berbelanja, tapi juga pengunjung yang hanya sekadar datang untuk “berwisata”, melihat-lihat dan menghibur diri. Pengunjungnya pun tidak hanya penduduk yang tinggal di wilayah pusat kerajaan atau Kutonegoro dan Negoro Agung, maupun dari daerah-daerah pinggiran serta pesisiran, tapi juga orang-orang Belanda.

Tuan-tuan dan nyonya-nyonya Belanda maupun sinyo-sinyo dan noni-noni Belanda selalu datang ke Pasar Gedhe. Barang-barang yang sering mereka cari di pasar ini di antaranya kain-kain batik, kain-kain lurik dan benda-benda kerajinan rakyat, serta makanan-makanan tradisional. Sejak masa itu Pasar Gedhe memang sudah dikenal sebagai pasar yang menyediakan bahan-bahan sandang batik, kerajinan-kerajinan rakyat serta pusat makanan tradisional.

Sejak kapan nama Beringharjo benar-benar melekat di Pasar Gedhe? Nama Pasar Gedhe yang sudah populer sejak tahun 1926 dan dikenal sampai ke kota-kota lain di luar Yogyakarta itu terus digunakan sampai akhir pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII. Ketika Sri Sultan Hamengku Buwono IX naik tahta menggantikan ayahandanya beberapa tahun menjelang datangnya Balatentara Jepang, nama Pasar Gedhe itu diganti dengan nama baru yakni Pasar Beringharjo.

Pemberian nama Beringharjo sebagai pengganti nama Pasar Gedhe tentu tidak terlepas dari sejarah panjang awal mula berdirinya Keraton Yogyakarta. Sejak Keraton Yogyakarta dibangun di atas tanah hutan Beringan, maka kawasan hutan Beringan pun dalam waktu relatif singkat telah berubah menjadi kawasan pemukiman dan pusat keramaian. Berbagai bangunan penting telah dibangun di arealnya, di antaranya Loji Kebon (Gedung Agung), Benteng Vredeburg, dan kemudian Pasar Gedhe.

Nama Beringharjo memang berkaitan erat dengan nama hutan Beringan. Nama “Bering” diambil dari nama Beringan, sedang nama  “harjo” mempunyai arti kawasana yang indah, nyaman, tenteram dan bersih. Jadi Beringharjo bisa diartikan sebagai suatu wilayah di hutan Beringan yang indah, nyaman, tenteram dan bersih. ***  (Sutirman Eka Ardhana/bersambung)

Lihat Juga

Bung Karno dalam Wawancara Imajiner (1) : “Jiwa Revolusionerku Tetap Membara”

MESKI sudah lama meninggalkan kehidupan di alam fana, tepatnya sejak 20 Juni 1970, hampir 47 …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *