Senin , 26 Juni 2017
Beranda » Sastra » Mengenal Kitab-kitab Jawa Kuno (2) : “Kunjarakarna” Uraikan Siksaan di Neraka

Mengenal Kitab-kitab Jawa Kuno (2) : “Kunjarakarna” Uraikan Siksaan di Neraka

Salah satu buku atau kitab Jawa kuno yang populer di zamannya adalah kitab “Kunjarakarna”. Kitab yang ditulis dalam bentuk kakawin atau tembang ini ditulis pada masa Kerajaan Kediri diperintah oleh Dharmawangsa (991 – 1016). Seperti banyak buku atau kitab Jawa kuno lainnya di masa itu, di kitab ini tidak diketahui siapa nama sang pujangga atau penulisnya. Sang pujangga hanya menyebut dirinya sebagai “kadi ngwangadusun”, yang artinya pujangga atau penulis dari dusun.

“Kunjarakarna” buah karya pujangga yang rendah hati itu di masanya tentu layak dikategorikan sebagai sebuah karya buku yang spektakuler. Betapa tidak. Buku atau kitab ini, berbeda dengan kebanyakan kitab karya lainnya. Kitab ini membahas dan menguraikan tentang “apa dan bagaimana’ dengan neraka.

Di dalam ajaran-ajaran agama selalu ditemukan kata-kata tentang sorga dan neraka. Sorga adalah tempat untuk manusia yang semasa hidupnya selalu beriman dan patuh dengan ajaran-ajaran agamanya. Sedangkan neraka adalah sebaliknya. Neraka dikhususkan untuk manusia yang tidak beriman dan menolak kebenaran ajaran agama Allah.

Dengan kata lain, sorga adalah suatu tempat yang paling menyenangkan dan penuh keindahan. Sementara neraka adalah tempat yang  paling tidak menyenangkan, sangat menyakitkan, tempat menjalani siksaan atau hukuman bagi orang-orang yang semasa hidupnya selalu berbuat kejahatan, mengingkari agama dan lain-lainnya yang serba buruk.

Neraka yang mengerikan, menakutkan, dan tempatnya menjalani siksaan, atau tempatnya Tuhan memberikan hukuman kepada orang-orang yang semasa hidupnya tak pernah mengindahkan ajaran-ajaran agama itulah yang diuraikan di dalam kitab “Kunjarakarna”.

Imajinasi sang pujangga atau penulis kitab ini memang sungguh luar biasa. Ia telah membawa pikiran, jiwa dan rasa segenap pembaca kitab ini ‘melesat jauh’ untuk mengetahui bagaimana sesungguhnya ‘alam neraka’ yang sangat mengerikan dan penuh siksaan itu. Para pembaca di masa itu telah dibawa oleh sang pujangga untuk menyelusup se dalam-dalamnya ke ‘alam neraka’, guna mengetahui bagaimana sesungguhnya yang ada dan terjadi di sana. Misalnya, ragam atau bentuk siksaan apa saja yang ada, dan kenapa siksaan-siksaan yang mengerikan dan sangat pedih itu diberikan.

 

Membersihkan Diri

Seperti kebanyakan kitab Jawa kuno lainnya di masa itu, “Kunjarakarna” juga berangkat dari latar belakang cerita dunia pewayangan. Dikisahkan oleh sang pujangga, tentang kisah perjalanan raksasa Kunjarakarna yang ingin merubah dirinya menjadi manusia.

Perubahan jati diri raksana menjadi manusia seperti yang diinginkan oleh Kunjarakarna itu ternyata tidaklah mudah. Sesakti apa pun atau sehebat apa pun ilmu yang dimiliki Kunjarakarna, tapi untuk merubah dirinya agar bisa menjadi manusia biasa bukanlah sesuatu yang mudah.

Tapi sebagai raksasa yang sudah bertekad bulat untuk meninggalkan kehidupannya sebagai raksasa, Kunjarakarna tak pernah putus asa. Ia pun lalu bergegas menemui Sang Bhatara Wairocana  yang berada di kayangan. Di hadapan Bhatara Wairocana, sambil terisak-isak menangis Kunjarakarna menyampaikan keinginannya untuk meninggalkan kehidupannya sebagai raksasa dan berganti dalam kehidupan sebagai manusia.

Kehidupan sebagai raksasa membuatnya menjadi berwatak seperti setan, selalu berbuat kerusakan dan kejahatan. Kunjarakarna mengaku, dirinya tak sanggup lagi menjalani kehidupan seperti itu. Ia ingin menjalani kehidupan baru yang serba damai, tenteram, penuh kesabaran, penuh kelembutan, terhindar dari perbuatan yang penuh keangkaramurkaan.

Pada mulanya Sang Bhatara Wairocana terkejut dan heran dengan kedatangan Kunjarakarna. Karena tidak pernah ada raksasa yang mau bersimpuh dan menangis tersedu di depan Dewa. Tetapi hal yang tak pernah terjadi itu telah terjadi di hadapannya. Raksasa Kunjarakarna bersimpuh dan menangis di depannya, meminta agar dirubah menjadi manusia.

Setelah meyakini bahwa keinginan Kunjarakarna itu memang tulus keluar dari dalam hati sanubarinya, Bhatara Wairocana pun kemudian menyatakan kesediaan dirinya untuk membantu. Tapi caranya tidak mudah. Ada ‘syarat laku’ cukup berat yang harus dijalani oleh Kunjarakarna. Salah satu syaratnya, Bhatara Wairocana meminta Kunjarakarna menemui Bhatara Yama Dipati di Tegal Petrabhuwana untuk  membersihkan diri atau meruwat diri.

Tanpa membuang waktu, Kunjarakarna pun bergegas menemui Yama Dipati di Tegal Petrabhuwana. Tegal Petrabhuwana adalah suatu tempat untuk para arwah manusia yang semasa hidupnya selalu melakukan kejahatan dan keangkaramurkaan menjalani hukuman siksaannya. Tegal Petrabhuwana ini adalah tempat yang bernama neraka itu. Setelah bertemu dengan Bhatara Yama Dipati, Kunjarakarna pun kemudian menjalani ruwatan atau pembersihan diri di Tegal Petrabhuwana.

Apa yang dialami atau diperolehnya selama mengikuti pembersihan diri di Tegal Petrabhuwana itu merupakan balasan atau hukuman dari apa yang telah dilakukannya selama menjalani kehidupan sebagai raksasa. Dan, Kunjarakarna menjalani semua proses ‘hukuman’ di Tegal Petrabhuwana itu, demi niat dan kesungguhan hatinya untuk menjadi manusia yang bersih dan jauh dari keangkaramurkaan.

 

Siksaan Panjang

Di dalam buku atau kitab “Kunjarakarna” dijelaskan betapa panjangnya siksaan yang diterima oleh para pendosa di neraka. Ada tingkatan hukuman. Tingkatan hukuman itu misalnya lama hukuman atau siksaan bagi pendosa yang mencapai 1,8 miliar tahun. Siksaan itu akan dialami sepanjang hari tanpa henti. Raungan dan  jeritan tangis tidak akan pernah bisa menghentikan siksaan maha pedih itu.

Sang pujangga di dalam “Kunjarakarna” menguraikan pula tentang ragam kejahatan yang dibaginya dalam duapuluh jenis. Masing-masing jenis kejahatan itu mempunyai bentuk hukuman yang berbeda satu sama lain. Di antaranya ada dua jenis yang masuk kategori terberat, yakni kejahatan anidya paradrwya dan anidra parawadha.

Mereka yang termasuk sebagai pelaku kejahatan anidya paradrwya adalah yang semasa hidupnya suka memiliki atau menguasai harta milik orang lain dengan cara melawan hukum, seperti perampok, pencuri, dan tentu juga termasuk para koruptor. Sedangkan yang masuk jenis kejahatan anidra parawadha adalah mereka yang semasa hidupnya bergelimang dengan kejahatan seksual. Misalnya memperkosa, terlibat perdagangan seks, berselingkuh, suka mengganggu isteri atau suami orang lain, dan lainnya lagi.

Mau tahu apa hukuman atau siksaan yang dialami oleh mereka yang masuk dalam kategori pelaku kejahatan anidya paradrwya? Di dalam “Kunjarakarna” disebutkan, di dalam neraka hukuman yang akan diterima antaralain tubuhnya dipotong-potong dengan gergaji besi yang teramat panas. Bayangkan, bagaimana jerit raung saat tubuh digergaji. Tak terbayang bagaimana sakitnya. Potongan tubuh itu disatukan kembali, lalu digegerjai lagi. Begitu seterusnya berulang-ulang.

Sedang bagi yang masuk dalam kategori anidra parawadha, di dalam neraka mereka akan mendapat hukuman dihimpit batu sebesar gunung, tubuhnya akan ditusuk-tusuk tombak api dan digulung lempengan tembaga panas membara. Sungguh mengerikan. ***

 

* Sutirman Eka Ardhana, penyuka budaya Jawa dan redaktur Warta Kebangsaan.

 

 

 

 

 

 

 

Lihat Juga

Puisi-puisi : Sutirman Eka Ardhana

  Biodata: Sutirman Eka Ardhana, lahir di Bengkalis, Riau, 27 September 1952. Karya buku kumpulan …

1 komentar

  1. tulisan yang mengispirasi, bagus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *