Senin , 26 Juni 2017
Beranda » Sains & Tekno » Sekilas Memahami Foto Berita

Sekilas Memahami Foto Berita

Foto berita adalah foto yang menyajikan suatu informasi peristiwa atau berita.

Seperti halnya berita yang harus selalu mengedepankan nilai aktulitas (terkini), foto berita juga mengutamakan nilai aktulitas. Karena kekuatan utama foto berita itu terletak pada nilai aktualitas yang dimilikinya. Meski sebagai kekuatan utama, tetapi nilai aktualitas bukanlah satu-satunya yang mampu menarik perhatian publik pembaca terhadap suatu foto berita. Masih ada kekuatan lain yang tak bisa dikesampingkan, yaitu nilai fakta dan momen peristiwa, serta komposisi fotografinya.

Dengan demikian, kekuatan atau daya tarik foto berita tersebut terletak pada:

  1. Aktualitas informasi peristiwa yang disampaikan.
  2. Fakta dan momen peristiwa yang tersaji.
  3. Komposisi fotografi.
Peraih penghargaan pertama foto berita pada World Press Photo 2014

 

Aktualitas peristiwa – Informasi peristiwa yang tersaji atau disampaikan foto berita tersebut haruslah memiliki nilai aktulitas yang tinggi. Informasinya harus terkini atau terbaru. Karena informasi peristiwa terkini merupakan informasi yang dicari pembaca (publik). Selain informasi peristiwanya terkini, daya tarik lainnya juga terletak pada siapa tokoh yang ada di dalam peristiwa itu.

Seperti halnya berita, nilai aktualitas informasi yang terdapat pada suatu foto berita sangat dominan dalam mempengaruhi perhatian publik (pembaca). Nilai aktualitas, terkini atau terbaru pada suatu informasi, baik itu dalam bentuk informasi tertulis atau berita tulis, maupun foto berita, merupakan sesuatu yang lebih dulu dicari oleh publik (pembaca).

 

Fakta dan momen – Foto berita harus menyajikan fakta peristiwa yang jelas dan lengkap, serta momen peristiwa yang menarik. Fakta peristiwa yang disampaikan atau diinformasikan foto berita tersebut ke pembaca (publik) haruslah menggambarkan secara jelas dan lengkap tentang peristiwa yang terjadi.

Momen peristiwa yang disajikan harus bisa dipahami dengan mudah dan jelas oleh pembaca (publik), sehingga pembaca mengetahui serta memahami tentang apa dan bagaimana peristiwa itu terjadi.Terlebih bila momen peristiwa itu memiliki daya tarik yang luas, diperbincangkan publik, berdampak pada kepentingan atau persoalan publik (masyarakat), serta memiliki nilai ‘keluarbiasaan’ tinggi. Misalnya, peristiwa bencana alam yang dahsyat, menelan banyak korban jiwa, kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan tewasnya sejumlah korban, kecelakaan pesawat terbang, dan sejumlah peristiwa berdaya tarik tinggi lainnya.

 

Komposisi fotografi – Sebagai bagian dari karya fotografi, fotojurnalistik, termasuk di dalamnya foto berita, tidak bisa mengenyampingkan atau mengabaikan peran komposisi. Karena foto berita bukan hanya berusaha menarik perhatian publik (pembaca) dengan informasi yang disampaikan, tetapi juga dengan nilai-nilai estetika yang dihadirkan di dalam foto tersebut. Nilai-nilai estetika itu akan muncul bila foto berita itu juga memperhatikan perihal komposisi di dalamnya.

Komposisi yang merupakan penempatan posisi objek pada bidang pemotretan, sehingga menjadi pusat perhatian, memiliki peran dalam menarik perhatian publik (pembaca) untuk tertarik ke foto berita tersebut. Pembaca akan tertarik karena foto berita itu tidak saja punya nilai informasi, tapi juga memiliki nuansa keindahan.

Komposisi merupakan penataan elemen-elemen atau unsur-unsur dalam gambar. Elemen-elemen itu terdiri: sudut pemotretan, sepertiga bagian, pola, garis, warna, bingkai, latar belakang, dan latar depan.

 

Foto Headline

Dalam kaitan fotojurnalistik, foto berita merupakan pilihan utama media pers seperti suratkabar, maupun majalah berita (termasuk juga media online).  Sebagian besar fotojurnalistik yang disajikan atau dimuat media pers seperti suratkabar dan majalah berita tersebut adalah foto berita.

Karena itu dibanding jenis fotojurnalistik lainnya, foto berita mendapat tempat yang ‘istimewa’, diutamakan, dan selalu dicari. Misalnya, pada suatu surat kabar, dari sekitar 30-an foto jurnalistik yang disajikan ke pembaca, bisa jadi hanya ada tiga foto human interest, dua foto feature, satu foto esai, dan lima foto olah raga. Sedang selebihnya adalah foto berita.

Hampir semua mediapers seperti suratkabar dan majalah berita (termasuk juga media online), selalu ‘mengutamakan’  foto berita dalam memilih atau menentukan foto headline (foto utama).

Foto headline atau foto berita utama selalu berukuran lebih besar dari foto-foto jurnalistik lainnya yang dimuat di halaman yang sama. Ukuran besar itu dimaksudkan agar foto headline tersebut menjadi menonjol, sehingga cepat menarik perhatian pembaca. Di surat kabar misalnya, karena kesan menonjol maka pembaca begitu membaca atau membuka lembaran surat kabar akan terlebih dulu menujukan pandangan matanya ke foto headline.

Foto headline atau foto berita utama haruslah memiliki daya tarik yang besar dibanding foto-foto lainnya (yang dimuat dalam waktu bersamaan). Daya tarik itu tidak saja terletak pada besar atau tingginya nilai informasi peristiwa yang disampaikan, tapi juga pada pesona fakta serta  momen  peristiwa itu sendiri.

Foto headline harus memiliki daya tarik atau pesona yang lebih besar dari foto-foto lainnya dalam menarik serta mempengaruhi mata dan hati pembaca.Foto headline atau foto berita utama biasanya selalu hadir bersamaan dengan berita yang juga menjadi berita headline pada media pers tersebut. Demikian juga foto-foto berita lainnya, selalu hadir bersamaan dengan informasi peristiwa yang disajikan.

Kekuatan visual yang dimiliki foto berita lebih mempertajam daya tarik kekuatan verbal yang dimiliki berita tulis.Suatu berita atau tulisan jurnalistik lainnya, seperti feature, reportase dan lainnya, akan lebih memiliki daya tarik atau pesona bila dilengkapi dengan foto.

Foto yang melengkapi suatu berita atau tulisan lainnya akan membuat berita atau tulisan tersebut menjadi lebih kuat dalam menyampaikan informasi atau pesan kepada pembaca (publik). Dengan kata lain, daya tarik atau daya pesona informasi itu menjadi lebih tinggi dan lebih bernilai.

Sering pula terjadi, selembar foto berita (termasuk juga jenis foto jurnalistik lainnya) memiliki kekuatan informasi atau daya tarik yang lebih dibanding berlembar-lembar halaman berita atau tulisan (beribu-ribu karakter tulisan).

Satu hal yang perlu diingat, bahasa foto (dalam foto berita) memiliki daya pengaruh atau daya provokasi yang lebih tinggi dibanding bahasa tulis.

Foto berita atau jenis foto jurnalistik lainnya, sering juga disebut sebagai  perpaduan antara foto (gambar) dan kata-kata. Perpaduan keduanya memberikan penjelasan atau pemahaman kepada pembaca (publik) tentang informasi suatu peristiwa.

 

Riwayatnya Dulu

Dalam sejarah perjalanan jurnalistik, usia foto berita demikian pula foto-foto jurnalistik lainnya jauh lebih muda daripada jurnalistik tulis. Keberadaan foto jurnalistik dalam kerja jurnalistik diawali dengan kemunculan jurnalistik gambar. Pada mulanya dulu, peristiwa yang akan disampaikan ke publik direka ulang dalam bentuk gambar atau sketsa.

Media jurnalistik atau suratkabar pertama yang memuat gambar sketsa sebagai berita adalah The Daily Graphic. Gambar berita pertama yang disajikan The Daily Graphicmerupakan gambar tentang suatu peristiwa kebakaran, dan diterbitkan pada edisi 16 April 1877.

Sedang di dalam sejarah perjalanan foto jurnalistik, tercatat foto berita atau fotojurnalistik pertama yang dimuat atau ditampilkan di suratkabar adalah foto tentang suatu kawasan tambang pengeboran minyak di Shantytown. Foto yang dihasilkan oleh Henry J Newton itu dimuat suratkabar New York Daily Graphic pada terbitan  tanggal 4 Maret 1880.

Sedang foto berita atau bahkan juga foto jurnalistik paling bersejarah dalam kaitan  sejarah perjalanan bangsa Indonesia adalah foto pembacaan Proklamasi Kemerdekaan RI pada tanggal 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur, Jakarta, serta foto pengibaran bendera Sang Saka Merah Putih yang disaksikan Bung Karno, Bung Hatta dan Ny Fatmawati, hasil karya kakak beradik Alex Mendur (1907-1984) dan Frans Soemarto Mendur (1913-1971).

Pada dasarnya foto berita atau fotojurnalistik lainnya merupakan foto biasa, seperti halnya foto-foto karya fotografi lainnya. Perbedaannya hanya pada perihal nilai informasinya.Foto berita (fotojurnalistik)  mempunyai nilai berita (informasi) atau pesan yang memiliki kelayakan untuk diinformasikan ke publik.

 

Dua Profesi Kerja

Untuk menghasilkan suatu karya foto jurnalistik, termasuk di dalam foto berita yang baik, seorang wartawan (jurnalis) foto harus memposisikan dirinya pada dua profesi kerja: pertama sebagai wartawan (jurnalis); kedua sebagai fotografer.

Sebagai wartawan, seseorang harus cepat tanggap dan peka terhadap suatu peristiwa yang disaksikannya. Seorang wartawan harus cepat mengetahui apakah peristiwa yang disaksikannya itu layak diinformasikan atau disampaikan ke publik atau tidak. Dan, sebagai fotografer, ia tentu harus cepat memutuskan untuk memindahkan informasi tentang peristiwa itu ke dalam kameranya, yaitu dengan memotretnya.

Karenanya dalam melaksanakan kerja jurnalistiknya, langkah ideal yang harus dilakukan adalah memadukan tiga hal penting:

  1. Melakukan kerja sebagai wartawan (jurnalis) sesuai dengan profesi kerjanya.
  2. Melakukan kerja sesuai dengan hobi atau kesukaannya terhadap dunia fotografi, atau sebagai fotografer.
  3. Melakukan pekerjaan sesuai kesukaannya terhadap seni, dalam hal ini fotografi seni.

Maka bila ingin menjadi seorang wartawan atau jurnalis foto yang berhasil, maka seorang wartawan foto harus dapat memadukan ketiga hal penting tersebut.

Tetapi perlu pula diperhatikan, dewasa ini di banyak media pers, tidak lagi terlihat perbedaan tanggungjawab kerja yang menonjol antara wartawan tulis dengan wartawan foto. Karena di banyak media pers, kini setiap wartawan juga dituntut untuk memiliki kemampuan menggunakan kamera atau memotret. Apalagi kini, memotret bukan lagi sesuatu yang sulit. Kemajuan teknologi digital telah menciptakan sejumlah kemudahan dalam dunia fotografi.

*** Sutirman Eka Ardhana, pengampu mata kuliah Fotografi Jurnalistik pada Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fak. Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Lihat Juga

Kassian Cephas Orang Yogya, Fotografer Pribumi Pertama

Sejarah fotografi di Indonesia diawali pada tahun 1841. Di tahun itu, Juriaan Munich, seorang pegawai …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *