Jumat , 28 April 2017
Beranda » Humaniora » Arjuna, Tokoh Pembebas Zaman Edan

Arjuna, Tokoh Pembebas Zaman Edan

Di dalam lakon pewayangan terdapat beberapa tokoh yang disebut-sebut sebagai ‘sang pembebas’ atau ‘sang pendobrak’ zaman edan. Salah satu di antaranya Arjuna, yang di dalam kisah pewayangan selalu disebut sebagai lelanange jagad, satria yang berwajah tampan dan sakti mandraguna.

Kapan Arjuna tampil menjadi ‘sang pembebas’ zaman edan? Tampilnya Arjuna sebagai tokoh atau elit yang mampu membasmi ‘suatu tatanan kehidupan yang teramat buruk, penuh keangkara-murkaan, keserakahan, kesewenang-wenangan dan kemunafikan’ itu terurai jelas dalam lakon “Arjuna Wiwaha”.

Bhatara Kala merupakan ‘tokoh’ penyebab munculnya zaman edan. Kelahiran Bhatara Kala menyebabkan jagad mayapada dan kayangan tempat para dewata gonjang-ganjing bagai terlanda bencana dan kerusakan yang maha dahsyat. Jagad yang kacau dan rusak itu tidak begitu saja nudah dihentikan. Ternyata anak-anak Bhatara Kala dari perkawinannya dengan Bhatari Durga yang tak lain adalah ‘jelmaan’ dari ibu kandungnya sendiri, Dewi Umayi, masih terus menteror dan merusak tatanan kehidupan di jagad raya.

Di dalam lakon “Arjuna Wiwaha” disebutkan, salah satu keturunan Bhatara Kala yang masih terus melanjutkan usaha-usahanya untuk memporak-porandakan tatanan kehidupan di jagad raya adalah Prabu Nirwatakawaca. Nirwatakawaca, salah seorang anak Bhatara Kala yang menjadi raja di Manimantaka, sebuah kerajaan di marcapada. Anak Bhatara Kala ini memang sangat terkenal kesaktiannya. Di marcapada, tidak seorang pun yang dapat mengalahkannya. Hal itu dikarenakan ia mempunyai kesaktian berupa toh belang di langit-langit mulutnya. Ia baru bisa dikalahkan bila toh di langit-langit mulutnya itu terkena senjata tajam.

Merasa dirinya sebagai raja yang sakti dan tak terkalahkan, serta raja yang tak bisa diturunkan oleh kekuatan sehebat apa pun, Prabu Nirwatakawaca lantas berniat untuk mengganggu ketenteraman di kayangan jongringsaloka dengan bermaksud menjadikan puteri kayangan, Dewi Supraba sebagai isterinya.

Tentu saja para dewata menjadi gusar dengan maksud Prabu Nirwatakawaca yang akan memperisteri Dewi Supraba itu. Lamaran atau keinginan Nirwatakawaca itu ditolak para dewata. Alasannya cumka satu, sesuai kodratnya Prabu Nirwatakawaca yang raksasa itu harus meniklah dengan raksesi. Bila ia menikah dengan perempuan lain yang raksesi, hal itu merupakan larangan karena mengingkari kodratnya sebagai raksasa. Apalahgi menikah dengan puteri kayangan, merupakan larangan besar.

Tapi Prabu Nirwatakawaca tak peduli dengan larangan itu. Ia tidak mau tahu dengan kodratnya sebagai raksasa. Larangan itu dipandangnya merupakan  halangan bagi dirinya sebagai raja yang sakti dan tak terkalahkan. Ia menjadi murka. Kayangan pun diserbu dan diporak-porandakannya. Tidak ada dewa yang mampu mengalahkan dan mengusir Prabu Nirwatakawaca. Para dewa berpikir keras untuk mencari jalan agar ‘zaman edan’ yang melanda jagad raya akibat ulah Prabu Nirwatakawaca itu segera berakhir.

Sambil mencari jalan untuk mengatasinya, Bhatara Narada, Bhatara Guru dan para dewa lainnya, kemudian mencoba menenangkan amarah Prabu Nirwatakawaca dengan mengatakan akan memenuhi keinginannya untuk memperisteri Dewi Supraba. Tapi para dewa minta waktu terlebih dulu selama 40 hari yang akan dipergunakan oleh Dewi Supraba untuk mensucikan diri. Prabu Nirwatakawaca menerima syarat itu. Ia pun kemudian menghentikan amuknya di kayangan. Akan tetapi ia mengancam akan kembali menghancurkan jagad raya bila janji dewa untuk menyerahkan Dewi Supraba tidak terwujud.

Sesungguhnya para dewa tidak bermaksud untuk memenuhi keinginan Prabu Nirwatakawaca itu. Apa yang dilakukan itu hanya sekadar untuk mencari jalan menyingkirkan Prabu Nirwatakawaca saja. Oleh karenanya waktu 40 hari itu digunakan para dewa untuk mencari tokoh sakti di marcapada yang mampu mengalahkan Prabu Nirwatakawaca.

 

Sang Pertapa

Terkisahkan, ketika jagad raya sedang dilanda teror Prabu Nirwatakawaca itu, Arjuna yang satria tampan dari keluarga Pandawa sedang bersemedi atau bertapa di goa Mintaraga. Goa pertapaan Arjuna itu terletak di bukit Kaliasa, di lereng Gunung Indrakila. Arjuna benar-benar khusuk bertapa, sehingga tidak ada satu pun demit atau raksasa yang bisa mengganggu maupun menggodanya. Para dewa yang mengetahui keberadaan Arjuna di goa Mintaraga mencoba menguji kekhusukkannya dengan mengirim tujuh bidadari. Bahkan Bhatara Indra sendiri dengan menyamar sebagai Resi Padya datang menemui Arjuna. Tapi upaya Bhatara Indra dan para bidadari cantik dari kayangan itu tetap sia-sia.

Sejak itu kehebatan Arjuna sebagai pertapa di goa Mintaraga menjadi terkenal di seluruh jagad raya. Sebagai pertapa, Arjuna kemudian menyandang nama Begawan Cipto Hening atau populer disebut Begawan Ciptoning Mintaraga.

Singkat cerita, para dewata menyadari hanya Arjuna sajalah yang mampu ‘membebaskan’ jagad raya dari ‘zaman edan’ dengan mengalahkan Prabu Nirwatakawaca. Arjuna atau Begawan Ciptoning Mintaraga kemudian mendapat tugas mulia untuk menjadi ‘sang pembebas’ itu. Bhatara Guru memberikan pusaka sakti berupa anak panah bernama Pasopati kepada Begawan Ciptoning Mintaraga.

Di akhir cerita, dengan senjata panah sakti Pasopati itulah kemudian Arjuna dapat membinasakan Prabu Nirwatakawaca. Ketika Prabu Nirwatakawaca tertawa lebar karena gembira mendengarkan kesediaan Dewi Supraba untuk menjadi isterinya, anak panah Pasopati pun melesat dan menunjam tepat pada toh di langit-langit mulutnya.

Terbunuhnya Prabu Nirwatakawaca menyebabkan jagad raya terbebas dari keangkaramurkaan dan kesewenang-wenangan. Arjuna telah membebaskan jagad raya dari belitan zaman edan.

Dalam kapasitasnya sebagai Begawan Ciptoning Mintaraga yang membebaskan jagad raya dari zaman edan, Arjuna sesungguhnya merupakan cerminan dari tokoh muda yang tanpa pamrih berjuang untuk untuk membangun bangsa dan negaranya terbebas dari belitan beragam krisis dan kesulitan. Sekarang, kita sedang menunggu ‘Arjuna, sang pembebas zaman edan’ itu.

 

 

Lihat Juga

Mencari Format Reneisance Jawa

  PRAGMATISME meminggirkan moral luhur nilai budaya adiluhung Jawa, hingga semakin pudar.  Dalam proses meng-Indonesia …

1 komentar

  1. alangkah indahnya media ini memuat juga puisi mengingat banyaknya jurnalis yg juga penyair

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *